Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Warga Diminta Pisahkan Daging dan Tulang Bangkai Paus Bungkuk yang Terdampar

Sumiaji bersama petugas dari Museum Rahmat Galery sudah mulai memfillet daging paus bungkuk di bawah pengawasan petugas BBKSDA Seksi III Sumut

Warga Diminta Pisahkan Daging dan Tulang Bangkai Paus Bungkuk yang Terdampar
Tribun Medan/Mustaqim Indra Jaya
Pekerja sedang melakukan proses fillet terhadap bangkai paus bungkuk yang mati di Pantai Gedebuh, Perairan Asahan Sabtu (17/1/2020). Ada sekitar 5-6 orang warga Desa Silo Baru, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan yang turut terlibat dalam proses fillet bersama petugas Museum Rahmat Galery 

Laporan Wartawan Tribun Medan Mustaqim Indra Jaya


TRIBUNNEWS.COM, MEDAN 
 - Sumiaji Samosir (42) warga Desa Silo Baru, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan mengaku langsung semringah begitu Kepala Desa Silo Baru, Ahmad Sofyan memintanya membantu petugas konservasi dari Museum Rahmat Galery (Rahmat International Wildlife Museum & Gallery) Medan.

Menurutnya, sang kades meminta ia dan sejumlah tetangganya yang juga warga Desa Silo Baru turut terlibat memfillet (memisahkan daging dan tulang) bangkai paus bungkuk (Megaptera Novaeangliae) yang mati terdampar di Pantai Gedebuh, Perairan Asahan.

"Begitu diajak, langsung semangat. Apalagi ini baru pertama kali. Malah kalau diajak lagi pun mau," kata Sumiaji sembari tertawa kepada Tribun Medan, Sabtu (18/1/2020).

Dijelaskan Sumiaji, pertama kali terlibat dalam kegiatan tersebut, tugas pertama mereka yaitu memindahkan bangkai paus bungkuk itu ke tepi pantai atau hutan bakau yang ada di sekitar lokasi.

Sumiaji menceritakan pemindahan itu dilakukan pada Selasa (14/1/2020) malam, saat air laut tengah pasang.

Baca: Terkuak Fakta Baru Pembunuhan Hakim PN, Istri Sempat Tidur 3 Jam di Samping Jasad Sang Suami

Baca: KPK Gelar Rekonstuksi Kasus Suap Wali Kota Medan Tengku Dzulmi Eldin di Swiss-Belhotel

Baca: Pecatan TNI Beralih Profesi Jadi Bandar Narkoba Tak Sadar Jual Sabu Rp 200 Juta ke Petugas

Ia bersama rekannya menarik mamalia raksasa itu dengan menggunakan sampan dan tali.

Sebab ketika air surut, maka lokasi pantai akan berubah menjadi lumpur, yang jika dilintasi dengan berjalan kaki, tingginya mencapai pinggang orang dewasa dan sulit untuk mengevakuasi bangkai paus.

"Selasa malam kami udah kerja. Pindahkan pausnya ke mari. Nggak sulit, karena pas air laut lagi pasang," ucapnya.

Setelah itu, pada Rabu (15/1/2020) Sumiaji bersama petugas dari Museum Rahmat Galery sudah mulai memfillet daging paus bungkuk di bawah pengawasan petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Seksi III Sumut.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Eko Sutriyanto
Sumber: Tribun Medan
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas