Tribun

Virus Corona

Politisi PKS: Jangan Buru-buru Terapkan New Normal di Jatim, Bisa Picu Penambahan Pasien Covid-19

Ia juga menilai Malang Raya belum layak diberlakukan kehidupan normal baru karena masih ada pasien positif Covid-19.

Penulis: Malvyandie Haryadi
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Politisi PKS: Jangan Buru-buru Terapkan New Normal di Jatim, Bisa Picu Penambahan Pasien Covid-19
Surya/Ahmad Zaimul Haq
Suasana food court yang lengang tanpa tempat duduk di Tunjungan Plaza, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (29/5/2020). Selain menerapkan aturan one way system untuk menghindari pengunjung saling berpapasan satu sama lain, Tunjungan Plaza juga membatasi banyaknya pengunjung di gerai sesuai luas gerai dan pembatasan keluar masuk pengunjung di setiap gerai. Hal tersebut dilakukan jelang pemberlakuan new normal di Kota Surabaya. Surya/Ahmad Zaimul Haq 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Beberapa daerah di wilayah Jawa Timur dinilai belum layak diterapkan ‘new normal’ atau kehidupan normal baru karena pasien positif virus corona atau Covid-19 terus meningkat, di antaranya wilayah Malang Raya.

“Untuk Malang Raya yang saat ini sudah berakhir PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan saat ini masa transisi ke New Normal life saya kira belum siap semuanya. Jumlah pasien positif masih saja bertambah,” kata Ketua Fraksi Keadilan Bintang Nurani (FKBN) DPRD Jawa Timur Dwi Hari Cahyono, Minggu (31/5/2020).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyebutkan bahwa ada beberapa persyaratan yang harus menjadi landasan suatu daerah ketika mau memberlakukan kehidupan normal baru atau New Normal Life.

Dia menyebutkan penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah provinsi Jawa Timur sejauh ini masih berantakan, baik dari segi pencegahan maupun pengendalian.

“Buktinya sampai saat ini jumlah pasien positif Covid-19 masih terus bertambah. Kemarin saja saya membawa di media kalau gubernur membeberkan data jumlah pasien Covid-19 terus meningkat. Justru saya khawatir dengan adanya New Normal Life tentunya hanya akan memicu meningkatnya kasus Covid-19,” pungkasnya.

Ia juga menilai Malang Raya belum layak diberlakukan kehidupan normal baru karena masih ada pasien positif Covid-19.

“Meski ada penambahan hanya 1 atau 2 orang. Namun hal ini bisa dijadikan tolak ukur kalau belum siap diberlakukan. Harusnya jangan dipaksakan dulu atau jangan terburu-buru memberlakukan New Normal Life di Malang Raya,”jelasnya.

Soal akan diberlakukannya kembali siswa masuk sekolah pada bulan 14 Juni mendatang, pria yang akrab dipanggil Dwi ini berharap hal tersebut ditunda terlebih dahulu sampai pandemi Covid-19 benar-benar berhasil diturunkan atau diatasi.

“Ini riskan sekali jika memang sekolah harus masuk sekolah. Interaksi langsung dilakukan oleh antar siswa sehingga rawan terpapar Covid-19. Jangan jadikan anak menjadi korban penularan Covid-19. Harus dipertimbangkan sekali oleh pemerintah kebijakan tersebut,” jelasnya.

Lalu Dwi merujuk adanya pernyataan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tanggal 18 Mei 2020 bawa penularan Covid-19 kepada anak-anak di Indonesia tergolong cukup tinggi.

“Dari data IDAI tersebut membuktikan bahwa anak sangat riskan dan rawan sekali terpapar Covid-19,” sambungnya.

Dwi lalu kembali memberi contoh penularan anak paling berisiko untuk terpapar Covid-19 di negara Prancis dan Korea Selatan (Korsel).

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas