Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Para Kiai dan Cendikiawan Berdiskusi di Majalengka, Apa Yang Dibahas?

Para kiai mendiskusikan banyak hal terutama soal pentingnya kembali untuk melakukan gerakan Islam transformatif di tengah gempuran kelompok-kelompok

Para Kiai dan Cendikiawan Berdiskusi di Majalengka, Apa Yang Dibahas?
Ist
Ketika Para Kiai dan Cendikiawan Berdiskusi di Majalengka 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Para kiai dan cendikiawan muslim berkumpul di Majalengka, Jawa Barat, tepatnya di Ponpes Al Mizan, Rabu (16/6/2021).

Hadir dalam peresmian itu sejumlah ulama seperti KH. Abdullah Kafabih Mahrus, KH. An'im Falahuddin Mahrus. Agus H. Syarif Hakim An'im, Agus Zulfa Ladai Robbi, KH. Atho'illah S. Anwar, dan Agus H. M. Ibrahim Hafidzdan, KH. Sarkosi Subki, KH. Husein Muhammad, KH. Wawan Arwani serta Anggota DPR RI dari F-PKB KH Maman Imanulhaq

KH Maman Imanulhaq yang juga merupakan pimpinan Ponpes Almizan Jatiwangi, Majalengka mengkonfirmasi pertemuan itu. 

"Para kiai mendiskusikan banyak hal terutama soal pentingnya kembali untuk melakukan gerakan Islam transformatif di tengah gempuran kelompok-kelompok orang yang mempertontonkan kedangkalan berpikir soal Islam dan juga menipisnya rasa nasionalisme," ujar Anggota Komisi VIII DPR RI  ini kepada Tribunnews.com, Kamis (17/6/2021).

Dalam diskusi para kiai di Ponpes Al Mizan itu, cendikiawan muslim, KH. Husein Muhammad mengatakan, para kiai harus terbuka melihat perubahan zaman.

Jangan sampai justru lantaran nyaman dibuai dengan keadaan dan tradisi membuat masyarakat pesantren menjadi komunitas primitif. Ia justru mengajak pesantren menjadi pelopor transformasi.

"Pesantren dan para kiai dalam awal sejarahnya adalah lembaga dan tokoh yang hadir untuk melakukan transformasi kultural melalui tradisi. Indonesia menjadi bangsa muslim terbesar di dunia, tak bisa dilepaskan peran transformatif pesantren dan para kiyai. Saya tidak tahu secara pasti apakah masih seperti itu sekarang dan yang akan datang?" kata KH Husein Muhammad.

Baca juga: Mahfud MD Ajak Para Kiai di Bangkalan Sadarkan Masyarakat Soal Bahaya Covid-19

Sebelum diskusi, dilakukan peresmian Pondok Pesantren Lirboyo cabang Majalengka.

Indonesia harus terus dipertahankan dengan nilai-nilai keislaman dan nasionalisme, maka pesantren harus terlibat lebih aktif dalam mengajarkan nilai Islam yang moderat dan kecintaan terhadap Indonesia yang mendalam. 

Demikian dikatakan oleh KH. Abdullah Kafabih Mahrus dalam sambutannya ketika meresmikan Pondok Pesantren Lirboyo cabang Majalengka.

Pada kesempatan itu, Kiai Kafabih juga mengajak semua untuk memperdalam nilai-nilai keislaman dengan ilmu-ilmu yang telah diwariskan para ulama.

"Ini peru dilakukan, di saat begitu banyak orang-orang yang jahil, bodoh membuat narasi-narasi kontraproduktif, membuat hoaks dan fitnah serta memperlihatkan kedangkalan cara berfikir," ujar Kyai Kafabih.

Di hadapan para kiai se-wilayah 3 Cirebon, pengurus NU dan para alumni Lirboyo, Kiai Kafabif juga mengajak para kiai dan santri untuk tampil mengemukakan esensi nilai Islam yaitu as-suhulah (kemudahan), kemajuan, toleransi dan jnilai-nilai ukhuwah atau kebersamaan.

Sementara itu, KH Maman Imanulhaq menyambut gembira kehadiran Pesantren Lirboyo di Majalengka karena itu artinya akan memperkuat ukhuwah di antara para kyai se-wilayah 3 Cirebon dengan spirit Para Masyaikh Lirboyo yaitu KH Abdul Karim, KH Marzuki Dahlan, dan juga KH Mahrus Ali.

"Kita berharap semoga di tempat ini (Pesantren Lirboyo) bisa banyak santri yang mondok. Semakin banyak pondok maka semakin kuat kita untuk menyebarkan Islam dengan hujjah dan jumlah yang kokoh," kata Kiai Maman menambahkan.(*)

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas