Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Anak Pemulung Dikeluarkan dari Sekolah Usai Di-Bully, Kepsek: Sekolah Kami Ramah Anak

GDS siswi SMP Bandar Lampung dikeluarkan dari sekolah usai dibully karena ibunya pemulung, kisahnya viral di media sosial.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Anak Pemulung Dikeluarkan dari Sekolah Usai Di-Bully, Kepsek: Sekolah Kami Ramah Anak
TribunJogja.com
ILUSTRASI BULLYING - GDS (17), siswi SMP di Bandar Lampung, mengaku dikeluarkan dari sekolah usai dibully karena ibunya pemulung. 

TRIBUNNEWS.COM - GDS (17), seorang siswi SMP di Bandar Lampung, Provinsi Lampung disebut dikeluarkan dari sekolah.

Hal ini setelah GDS sering dibully atau dirundung. Korban bully adalah individu yang menjadi sasaran perilaku agresif, menyakitkan, atau merendahkan secara berulang oleh orang lain, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun digital.

Apa yang dialami oleh GDS viral di media sosial.

GDS membenarkan hal tersebut. Dia mengaku dikeluarkan dari sekolah karena kerap dibully oleh teman-temannya.

GDS mengaku ia kerap dihina oleh temannya karena ibunya bekerja sebagai pemulung.

"Saya sering di-bully sama teman saya, mereka menghina orangtua saya pemulung, tukang rongsokan hingga akhirnya saya dikeluarin dari sekolah saat saya duduk dibangku kelas VIII," kata GDS, Senin (20/10/2025). 

Sosok GDS adalah siswi SMP Negeri 13 Bandar Lampung.

Rekomendasi Untuk Anda

Saat ini usianya 17 tahun.

GDS dibesarkan oleh ibunya, sementara sang ayah sudah lama berpisah dan tak ingin mengurus keluarganya.

GDS kini tinggal bersama ibunya, rumahnya tepat di belakang SMKN 8 Bandar Lampung.

Ibu GDSbernama Misna Megawati (42), kesehariannya bekerja sebagai pemulung.

Rupanya GDS sebelumnya tak tinggal bersama sang ibu.

Sejak usia GDS 9 bula ia diasuh oleh adik ibunya, tetapi sayangnya pada tahun 2023 adik ibunya   meninggal sehingga GDS kembali ke ibunya.

Gina Dikeluarkan dari Sekolah

Viral di media sosial curhatan seorang siswi SMP bernama GDS yang mengaku dibully teman-teman di sekolah.

Pelajar asal Bandar Lampung itu tampak pilu lantaran dikeluarkan dari sekolah.

Tak dibela oleh guru dan kepala sekolah, GDS akhirnya kini putus sekolah.

Kejadian pembullyan itu dialami GDS saat ia duduk di kelas VIII SMP Negeri 13 Bandar Lampung.

Dalam video viral yang dilansir TribunnewsBogor.com dari akun feedgramindo, GDSmenahan tangis saat menceritakan perundungan yang ia terima.

Pelajar usia 16 tahun itu bercerita bahwa ia dibully karena ibunya hanya seorang tukang rongsok.

Hati GDS pedih mendengar orangtuanya dihina oleh temannya di sekolah.

"Ya ngata-ngatain orang tua gitu, kayak ngomong 'ya orang tua lo jelek, miskin, tukang rongsok, enggak usah belagu," kata GDS , dikutip pada Rabu (22/10/2025).

Usai mendapat perundungan, GDS kabarnya sempat mengadu ke guru.

Namun katanya, pihak sekolah justru mengeluarkan GDS.

"Saya sering di-bully sama teman saya, mereka menghina orangtua saya pemulung, tukang rongsokan hingga akhirnya saya dikeluarin dari sekolah saat saya duduk dibangku kelas VIII," ungkap GDS dilansir dari Tribun Lampung.

Nasib miris yang dialami GDS itu turut membuat ibunya nelangsa.

Ibunda GDS, Misna Megawati menceritakan respon kepala sekolah saat tahu GDS dibully.

Tak membela, katanya kepala sekolah malah memilih mengeluarkan GDS dari sekolah karena mementingkan murid lainnya.

"Katanya dia (Gina) merasa dibully. Tiba-tiba dipulangin aja sama guru di sekolah. Ngomong katanya GDS dibully di sekolahan."

"Terus kata kepala sekolahnya, daripada milih murid satu, yang lainnya bubar, ya udah GDS dikeluarin," imbuh Misna.

Kini GDS tak lagi bersekolah dan tampak murung dalam kesehariannya.

Diakui Misna, ia terpaksa menjadi tukang rongsok demi menafkahi enam anaknya.

"Suaminya udah enggak ada, di Medan udah. Anak semua ada enam. Yang satu udah kerja, yang lain enggak kerja," akui Misna.

"Aku masyarakat pak, makan aja susah, kadang dua hari tiga hari enggak makan. Dapat sebulan buat sewa rumah."

"Dapat cuma Rp600 ribu, sisanya buat beli beras 5 kilo sisanya habis, bayar sewa rumah Rp300 ribu, utang di warung enggak ada," sambungnya.

Dikatakannya, untuk membuat akte kelahiran harus ada buku nikah dan syarat lainya sementara dirinya tidak ada. 

"Harapan kami anak saya ini bisa jadi orang dan tidak seperti saya seorang yang cari rongsokan," kata Misna. 

"Kalau bisa anak yang terakhir ini sekolah sampai tamat supaya jadi orang bukan seperti ibunya gak tamat sejak kelas 4 SD," terusnya.

Pihak Sekolah Bantah Keluarkan GDS : Dia Minder

Atas isu perundungan yang dialami GDS.  akhirnya ditanggapi pihak sekolah.

Wakil Kepala SMPN 13 Bandar Lampung, Abdul Rohman membantah GDS dikeluarkan dari sekolah.

Kata Abdul, pihak sekolah justru masih memantau GDSyang memilih tak lagi bersekolah.

Diungkap Abdul, GDS lah yang minder dan memutuskan untuk putus sekolah setelah tantenya meninggal dunia.

"Tidak ada pembullyan tersebut, mungkin karena anak itu minder dengan sendirinya. Setelah tantenya meninggal, kami lost kontak, dia (Gina) tidak masuk lagi ke sekolah," ujar Abdul Rohman.

Sementara itu, kepala sekolah ( kepsek) SMPN 13 Bandar Lampung, Amaroh mengurai perhatiannya untuk GDS .

Kata Amaroh, pihak sekolah bersedia membantu GDS agar bisa tetap memperoleh ijazah.

Caranya adalah dengan mengikuti program paket.

“Saya berharap GDS tetap sekolah. Saya bahkan akan membantu, walaupun dia belajar melalui program paket."

"Kami seluruh sivitas akademika berharap GDS memiliki masa depan yang lebih baik,” tegas Amaroh.

Perihal isu GDSdibully di sekolah, Amaroh membantahnya.

Diungkap Amaroh, justru keputusan untuk tidak bersekolah lagi itu dipilih GDS sendiri, bukan dikeluarkan dari sekolah.

"Awalnya GDSingin pindah sekolah, kami baru tahu kemudian bahwa ia akhirnya putus sekolah," ujar Amaroh.

Lebih lanjut, Amaroh mengurai fakta soal GDS.

Dijelaskan Amaroh, GDSsudah empat tahun ketinggalan dalam pendidikannya.

Gina yang saat ini berusia 17 tahun seharusnya sudah duduk di bangku SMA, tapi belakangan justru putus sekolah di kelas VIII.

"Sampai saat ini kami masih memantau anak tersebut, apalagi kami melihat GDS di minimarket daerah Kemiling dia memulung," ujar Abdul Rohman. 

"Jadi kami memantau terus karena harapannya anak ini punya ijasah, kami sarankan arahkan ikut PKBM. Karena ada guru kami yang mengajar dengan harapan supaya GDS ini punya ijasah untuk melanjutkan pendidikannya," terang Abdul Rohman. 

Dikatakannya, GDS tinggal berpindah-pindah, semenjak tantenya meninggal dunia dan kemungkinan merasa minder.

"Jadi tidak ada pembullyan tersebut, mungkin karena anak itu minder dengan sendirinya. 
Setelah tantenya meninggal kami lost kontak dia tidak masuk lagi ke sekolah," ucapnya.

"Ada beberapa anak kami putus sekolah diarahkan ke PKBM, kami branding sekolah kami ini ramah anak, sosialisasi di sekolah ramah anak apalagi ada satgas retina," tukas Abdul Rohman.

Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com 

Sumber: Bangka Pos
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas