Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Basarnas Paparkan Tantangan Operasi SAR Banjir Sumatera

Tantangan besar dihadapi tim SAR dalam operasi pencarian dan pertolongan korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Chaerul Umam
zoom-in Basarnas Paparkan Tantangan Operasi SAR Banjir Sumatera
/BNPB Indonesia
BENCANA DI SUMATERA - Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB Kabupaten Sibolga merilis 4 wilayah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, yang meliputi Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, dilanda bencana akibat cuaca ekstrem pada hari Senin (24/11) dan Selasa (25/11). Dilaporkan dari Kabupaten Tapanuli Selatan ada 8 warga meninggal dunia 58 Luka-luka dan 2851 warga mengungsi, dari Tapanuli Tengah sebanyak 1.902 unit rumah terdampak banjir di 9 kecamatan. Serta dua jembatan terputus akibat banjir serta tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Utara. Tantangan besar dihadapi tim SAR dalam operasi pencarian dan pertolongan korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. (BNPB Indonesia/HO) 
Ringkasan Berita:
  • Sejumlah tantangan besar dihadapi tim SAR dalam operasi pencarian dan pertolongan korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
  • Di antaranya banjir yang disertai material lumpur menuntut pengerahan personel SAR dalam jumlah lebih besar dari biasanya.
  • Ditambah lagi sejumlah wilayah masih terisolir.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengungkapkan sejumlah tantangan besar yang dihadapi tim SAR dalam operasi pencarian dan pertolongan korban bencana banjir yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Syafii menjelaskan, setiap jenis bencana memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.

Namun bencana banjir yang disertai material lumpur menuntut pengerahan personel SAR dalam jumlah lebih besar dari biasanya.

“Pada wilayah-wilayah yang terisolasi, personel SAR harus berjalan dari satu titik ke titik lain menyusuri area yang tidak bisa diprediksi. Mereka bekerja tanpa jeda untuk berganti shift atau istirahat makan,” kata Syafii di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (1/12/2025).

"Kondisi ini berbeda dengan penanganan bencana reruntuhan gedung, seperti insiden sebelumnya di Al Khoziny, di mana pola kerja bergiliran masih memungkinkan dilakukan," imbuhnya.

Baca juga: Basarnas Catat 2.496 Kejadian Kedaruratan Sepanjang 2025: 1.835 Orang Meninggal

Selain faktor lapangan, akses jalur yang terputus juga menjadi kendala besar. 

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Syafii terbatasnya rute darat membuat distribusi logistik dan kebutuhan operasi menjadi terhambat. 

"Akhirnya, ada ketergantungan pada dukungan sarana udara. Ini membuat operasi memakan waktu dan biaya yang lebih besar,” ucap Syafii.

Baca juga: Basarnas Telah Evakuasi 447 Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang di Sumatera

Untuk memperkuat operasi di titik-titik terdampak, Syafii mengatakan Basarnas telah mengerahkan tambahan kekuatan dari berbagai kantor SAR yang tidak terdampak bencana. 

“Mulai dari Tanjung Pinang, Pontianak, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, hingga Semarang, kita perkuat untuk membantu wilayah yang terdampak,” tandasnya.

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas