Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Wali Kota Banda Aceh Menangis Respons Donasi Bencana Harus Daftar,  Ini Profilnya

Illiza Sa’aduddin Djamal menilai, kerja keras masyarakat dalam membantu korban seharusnya mendapat apresiasi.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Erik S
zoom-in Wali Kota Banda Aceh Menangis Respons Donasi Bencana Harus Daftar,  Ini Profilnya
HO/IST/Serambinews.com/HO/KOLASE SERAMBINEWS.COM/INSTAGRAM ILLIZA
MENANGIS- Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menangis saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VIII DPR RI dan Pemerintah Aceh di Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Ruang Potda Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Rabu (10/12/2025). 
Ringkasan Berita:
  • Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal menangis terkait pernyataan menteri sosial penggalangan dana harus izin pemerintah dan diaudit.
  • Wali Kota Illiza  menilai kerja keras masyarakat dalam membantu korban seharusnya mendapat apresiasi.
  • Illiza menilai, tanpa status darurat nasional, rehabilitasi dan pembangunan rumah baru harus menunggu anggaran tahun 2026.

TRIBUNNEWS.COM, BANDA ACEH -  Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal (53) menyoroti pernyataan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) terkait pernyataannya soal penggalangan dana untuk bantuan bencana di Sumatera harus terlebih dahulu memperoleh izin dari pemerintah.

Illiza Sa’aduddin Djamal menilai, kerja keras masyarakat dalam membantu korban seharusnya mendapat apresiasi.

“Belum lagi hari ini, mohon maaf, mitra kerja Mensos menyampaikan statement, apabila artis, influencer (donasi), daftar dulu nanti diaudit, ini juga apa?” ungkap Illiza sambil menangis saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VIII DPR RI dan Pemerintah Aceh di Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Ruang Potda Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Rabu (10/12/2025).

Baca juga: Soal Donasi Harus Izin, Mensos RI Gus Ipul Singgung Pertanggungjawaban dan Konsekuensi Hukum

“Harusnya mereka masyarakat yang sudah berjibaku membantu kami itu diapresiasi pak,” sambungnya.

Illiza mengatakan, selama 14 hari terakhir, masyarakat bersama pemerintah daerah terus berjibaku melakukan evakuasi dan membersihkan puing-puing rumah warga.

Menurutnya, waktu tersebut bukanlah singkat, apalagi jika membayangkan keluarga sendiri yang menjadi korban.

“Kalau itu keluarga kita, anak kita, ibu kita, bayangkan mereka tidak difardhukifayakan,” ujar Illiza.  

Rekomendasi Untuk Anda

Di sisi lain, dia menekankan, hal utama yang seharusnya dipikirkan adalah akses jalan lintas untuk distribusi logistik dan bantuan.

Tanpa itu, masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih.

“Paling saya mampu bawa berapa, satu-dua tangki, setelah itu habis,” katanya.

Kondisi ini membuat warga semakin terhimpit di tengah keterbatasan.  

Di lapangan, lanjutnya, pemerintah daerah maupun Pemerintah Aceh tidak mungkin mampu menyiram satu per satu rumah warga yang tertimbun lumpur.

Bahkan dengan bantuan alat berat sekalipun, pekerjaan membersihkan halaman masjid belum tuntas hingga kini.

Belum lagi tanah yang menumpuk juga menimbulkan pertanyaan besar, harus ke mana dibuang.  

Selain itu, abrasi sungai telah menghancurkan sejumlah rumah warga. Mereka kini kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi.

Baca juga: Mensos Sebut Galang Donasi Bencana Harus Izin, Ketua DPD RI: Tinggal Ikuti Saja

Situasi ini semakin memperlihatkan betapa berat beban masyarakat yang terdampak bencana.

Illiza menilai, tanpa status darurat nasional, rehabilitasi dan pembangunan rumah baru harus menunggu anggaran tahun 2026.

Pengalaman Aceh pada bencana tsunami sebelumnya menunjukkan, perlunya perlakuan khusus seperti adanya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi.  

“Kalau tidak, maka menunggu tahun anggaran dan penggunannya juga harus tender, nggak bisa penunjukkan kalau tak ada itu akan menabrak banyak aturan,” ungkap Illiza.

“Tingkat bantuan influencer saja lapor audit, konon lagi bantuan yang pemerintah mau jalankan, itu masalahnya,” pungkasnya.

Profil Illija

Illiza Saaduddin Djamal dilantik pada Rabu (12/2/2025) oleh gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem.

Dia adalah wanita pertama yang terpilih sebagai kepala daerah di Aceh.

Baca juga: Ferry Irwandi Dkk Disindir Soal Donasi, Anggota DPR: Hentikan Perdebatan Fokus Tangani Bencana

Illiza Saaduddin Djamal merupakan perempuan yang lahir pada 31 Desember 1973 dan merupakan kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Illiza merupakan mantan Wali Kota Banda Aceh dan anggota DPR RI periode 2019-2024.

Illiza Saaduddin Djamal mengawali jejak politik saat menjadi anggota DPRD Kota Banda Aceh 2006.

Setelah itu Illiza Saaduddin Djamal menjadi wakil Wali Kota Banda Aceh pada 2007.

Illiza Saaduddin Djamal otomatis jadi Wali Kota karena pasangannya meninggal dunia.

Kemudian pada 2019 Illiza Saaduddin Djamal menjabat sebagai anggota DPR RI.

Riwayat Pendidikan

Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (S1) (2009)

Riwayat Jabatan

  • Anggota DPRD Kota Banda Aceh (2004 s/d 2006)
  • Wakil Wali Kota Banda Aceh (19 Februari 2007 s/d 19 Februari 2012)
  • Wakil Wali Kota Banda Aceh (4 Juli 2012 s/d 17 Februari 2014)
  • Plh. Wali Kota Banda Aceh (17 Februari 2014 s/d 16 Juni 2014)
  • Wali Kota Banda Aceh (16 Juni 2014 s/d 7 Juli 2017)
  • Staf Khusus Wakil Gubernur Aceh (2017 s/d 2019)
  • Anggota DPR-RI Dapil Aceh I (1 Oktober 2019 s/d 1 Oktober 2024)
  • Wali Kota Banda Aceh (2024-2029)

 

Penulis: Sara Masroni

Sebagian artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Sambil Menangis, Walkot Banda Aceh soal Mensos Audit Donasi Masyarakat: Harusnya Diapresiasi Pak

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas