Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Survei: 38 Persen Publik Puas Atas Penanganan Banjir di Sumatera

Survei Median: 59% publik tak puas penanganan banjir bandang Sumatera, ekspektasi tinggi pada pemerintah.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Survei: 38 Persen Publik Puas Atas Penanganan Banjir di Sumatera
HO/IST/Padang.tribunnews.com/Panji Rahmat
BENCANA SUMATERA - Survei Median: 59% publik tak puas penanganan banjir bandang Sumatera, ekspektasi tinggi pada pemerintah. 
Ringkasan Berita:
  • Bencana banjir bandang yang melanda tiga provinsi di Sumatera akhir November 2025 lalu masih jadi sorotan publik
  • Lembaga survei Median merilis hasil survei opini pengguna media sosial bertema “Bedah Opini Penanganan Bencana Sumatera & Isu Politik Lainnya."
  • Dimana mayoritas responden menyampaikan ketidakpuasan terhadap penanganan bencana tersebut.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Penanganan bencana banjir bandang yang melanda 3 provinsi di Sumatera akhir November 2025 lalu masih menjadi sorotan masyarakat hingga saat ini.

Banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat itu menjadi sorotan Media Survei Nasional (Median).

Dalam surveinya, Median merilis hasil survei opini pengguna media sosial bertema “Bedah Opini Penanganan Bencana Sumatera & Isu Politik Lainnya" yang dipublikasikan di Jakara, Selasa (20/1/2026). 

Survei ini menggambarkan persepsi publik terhadap kinerja Pemerintah Pusat, khususnya Presiden dan kementerian terkait, dalam menangani bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, menjelaskan bahwa mayoritas responden menyampaikan ketidakpuasan terhadap penanganan bencana tersebut.

Dalam pertanyaan mengenai tingkat kepuasan terhadap kinerja Pemerintah Pusat dalam menangani banjir di Sumatera.

Sebanyak 59 persen responden menyatakan tidak puas atau sangat tidak puas.

Rekomendasi Untuk Anda

Sementara 38,3 persen menyatakan puas atau sangat puas.

"Beberapa alasan utama ketidakpuasan publik, antara lain 26,8 persen responden menilai respons pemerintah tidak cukup cepat. Selain itu, 10,4 persen responden menyebut bantuan yang diberikan dinilai kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan korban," ungkapnya.

Faktor lain yang turut memengaruhi ketidakpuasan tambah Rico, adalah pandangan bahwa banjir di Sumatera tidak ditetapkan sebagai bencana nasional, sebagaimana disampaikan oleh 3,4 persen responden. 

"Selanjutnya, 2,8 persen responden menyoroti distribusi bantuan yang dianggap tidak merata, sementara 2,1 persen responden menilai pemerintah kurang melakukan upaya pencegahan bencana," katanya.

Di sisi lain, Rico mengungkapkan bahwa responden yang menyatakan puas memiliki sejumlah alasan. 

Survei mencatat 16,1 persen responden menilai respons penanganan bencana oleh Pemerintah Pusat sudah cukup baik.

Selain itu, 5,2 persen responden menganggap bantuan logistik yang diberikan relatif lengkap, dan 5,1 persen responden menilai pemerintah telah bekerja maksimal dalam situasi darurat.

Sebanyak 2,8 persen responden melihat banyak pejabat tinggi negara memberikan perhatian langsung di lokasi bencana, serta 2,7 persen responden yang menilai respons pemerintah sangat cepat.

“Suara ketidakpuasan masih lebih dominan. Ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat menaruh ekspektasi tinggi terhadap kehadiran negara dalam penanganan bencana, terutama dari sisi kecepatan, kecukupan bantuan, dan langkah pencegahan,” ujar Rico.

Survei Median ini dilaksanakan pada 9 hingga 13 Januari 2026 melalui penyebaran kuesioner di media sosial.

Responden merupakan pengguna aktif media sosial berusia 17 hingga 60 tahun ke atas, dengan distribusi sampel dilakukan secara proporsional di 38 provinsi di Indonesia.

Total responden yang terlibat dalam survei ini berjumlah 1.000 orang.

Baca juga: BREAKING NEWS: Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Pasca-Banjir dan Longsor Sumatera

Mengenai banjir bandang di Sumatera

Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir November 2025.

Lebih dari 1.200 orang tewas, jutaan terdampak 

Jumlah pengungsi lebih dari 1 juta jiwa  harus meninggalkan rumah

Kerugian ekonomi  diperkirakan Rp68,6 triliun  (USD 4,13 miliar).

175 ribu rumah hancur, akses transportasi terhenti, dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat terguncang.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas