Ubah Wajah Labuan Bajo, 50 Keluarga Jadi Pionir Pengelolaan Sampah Mandiri
Labuan Bajo kini tengah berpacu dengan waktu dalam menangani isu lingkungan, terutama pengelolaan sampah.
Editor:
Dodi Esvandi
TRIBUNNEWS.COM, LABUAN BAJO – Sebagai destinasi pariwisata super prioritas, Labuan Bajo kini tengah berpacu dengan waktu dalam menangani isu lingkungan, terutama pengelolaan sampah.
Menanggapi tantangan tersebut, Endress+Hauser Indonesia menginisiasi program pemberdayaan bertajuk "Empowering Communities for Better Waste Management" untuk memperkuat ekosistem kebersihan berbasis komunitas di Kabupaten Manggarai Barat.
Langkah ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan upaya mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola limbah domestik. Berikut adalah poin-poin utama dari gerakan tersebut:
Simbolisme 120 Tong Sampah
Sebanyak 120 unit tong sampah diserahkan langsung kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai Barat.
Angka ini bukanlah kebetulan; jumlah tersebut merepresentasikan seluruh karyawan Endress+Hauser Indonesia sebagai simbol keterlibatan kolektif perusahaan dalam menjaga kelestarian alam.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Manggarai Barat, Vincensius Gande, menekankan bahwa keterlibatan sektor swasta sangat krusial.
"Sebagai kawasan pariwisata nasional, kebersihan adalah nyawa bagi keberlanjutan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat di sini," ujarnya.
Agar program ini tidak berhenti di acara seremonial, Endress+Hauser menggandeng PT Inovasi Gerakan Masyarakat (INGRAM) sebagai mitra pelaksana.
Selama enam bulan ke depan, fokus kegiatan meliputi:
- Edukasi Intensif: Pendampingan bagi 50 keluarga untuk memulai pemilahan sampah dari dapur mereka sendiri.
- Fasilitas Praktis: Distribusi 200 ember organik untuk mempermudah pemilahan di tingkat rumah tangga.
- Logistik Terintegrasi: Pengadaan satu unit motor roda tiga guna memastikan sampah yang telah dipilah dapat terangkut dengan efisien.
-
Baca juga: Mahasiswa Kembangkan Inovasi Berbasis IoT dan AI untuk Pengelolaan Sampah hingga Ketahanan
Henry Chia, President Director Endress+Hauser Indonesia, menjelaskan bahwa inisiatif ini berakar dari identitas perusahaan yang bergerak di industri penunjang kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan minuman.
"Di mana pun kami beroperasi, kami ingin tumbuh bersama masyarakat. Sekitar 118 karyawan kami dari berbagai daerah turun langsung ke Labuan Bajo untuk melihat dan berkontribusi pada perubahan ini," tutur Henry.
Senada dengan hal tersebut, Sustainability Manager Endress+Hauser Indonesia, Frida Attila, menegaskan bahwa aspek keberlanjutan telah menjadi denyut nadi operasional perusahaan.
Sementara itu, Michaella Karina dari INGRAM memastikan bahwa sistem yang dibangun akan dirancang sedemikian rupa agar mudah diterapkan secara mandiri oleh warga bahkan setelah masa pendampingan usai.
Sinergi ini diresmikan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Labuan Bajo.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan tercipta standar baru pengelolaan sampah mandiri yang dapat menjaga keelokan Labuan Bajo sebagai permata pariwisata Indonesia.
Baca tanpa iklan