Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

BMKG Cabut Peringatan Dini Tsunami Dampak Gempa Bitung 

BMKG akhiri peringatan tsunami usai gempa M7,6. Meski gelombang sempat terdeteksi, kondisi laut kini dinyatakan aman, warga tetap diminta waspada

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in BMKG Cabut Peringatan Dini Tsunami Dampak Gempa Bitung 
BMKG
GEMPA DI BITUNG - Lokasi gempa di Bitung, Sulawesi Utara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengakhiri peringatan dini tsunami akibat gempa magnitudo 7,6 di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026) pukul 09.56 WIB. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan di wilayah terdampak 
Ringkasan Berita:
  • BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pascagempa M7,6 di Maluku Utara dan Sulawesi Utara setelah kondisi laut dinyatakan aman.
  • Pemantauan menunjukkan gelombang sempat terjadi hingga 0,75 meter di beberapa wilayah, disertai puluhan gempa susulan. Meski begitu, tidak ada kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan.
  • BMKG memastikan pemantauan tetap dilakukan dan mengimbau masyarakat waspada terhadap gempa susulan serta hanya mengikuti informasi resmi guna menghindari hoaks.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengakhiri peringatan dini tsunami akibat gempa magnitudo 7,6 di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026) pukul 09.56 WIB.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan di wilayah terdampak.

"Dengan memperhatikan kondisi terkini, tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan, maka peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 09.56 WIB," ujar Faisal dalam konferensi pers daring, Kamis (2/4/2026).

Pengakhiran peringatan dini tsunami, kata Faisal, merupakan bagian penting dalam prosedur operasi standar (SOP) BMKG

Faisal mengatakan dengan berakhirnya status tersebut, tim penyelamat seperti BPBD dan SAR dapat mulai masuk ke wilayah terdampak untuk melakukan evakuasi, asesmen kerusakan, serta penanganan lanjutan.

Selama periode pemantauan, tsunami terdeteksi di sejumlah titik dengan ketinggian bervariasi. 

Baca juga: Setelah Gempa Bitung, Status Siaga dan Waspada Tsunami Akan Dicabut, BMKG: Warga Tak Perlu Panik

Di Halmahera Barat tercatat setinggi 0,3 meter, kemudian di Bitung 0,2 meter, serta di Minahasa Utara mencapai 0,75 meter. 

Rekomendasi Untuk Anda

Selain itu, gelombang juga terpantau di beberapa lokasi lain seperti Sidangoli, Tagulandang, Belang, hingga Bumbulan dengan tinggi antara 0,13 hingga 0,68 meter.

BMKG juga mencatat peningkatan aktivitas gempa susulan. Hingga pukul 09.50 WIB, tercatat sebanyak 48 gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo berkisar antara 3 hingga 5,5, dan dua di antaranya dirasakan oleh masyarakat

Meski peringatan dini telah berakhir, BMKG menegaskan akan terus memantau perkembangan aktivitas gempa di wilayah tersebut dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"BMKG terus melakukan monitoring dan berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk BNPB yang saat ini dalam perjalanan menuju lokasi terdampak," kata Faisal.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan memastikan informasi yang diterima hanya berasal dari kanal resmi BMKG guna menghindari hoaks dan kepanikan.

PTWC Peringatkan Malaysia dan Filipina 

Sebelumnya, Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) yang berbasis di Hawaii juga mengeluarkan peringatan dini, menyebut potensi gelombang berbahaya dalam radius hingga 1.000 kilometer dari pusat gempa

Wilayah yang masuk dalam cakupan peringatan meliputi pesisir Indonesia, Filipina, hingga Malaysia.

Dalam fase awal pascagempa, data lapangan menunjukkan adanya kenaikan permukaan air laut di sejumlah titik.

PTWC sebelumnya bahkan memproyeksikan kemungkinan gelombang hingga satu meter di beberapa wilayah Indonesia. 

Sementara itu, negara-negara lain seperti Filipina, Malaysia, Jepang, Taiwan, Guam, dan Palau diperkirakan hanya mengalami gelombang lebih kecil.

Di sisi lain, Japan Meteorological Agency menyebut hanya akan terjadi perubahan kecil pada permukaan laut di sepanjang pesisir Pasifik Jepang, mulai dari Hokkaido hingga Okinawa. 

Baca juga: 10 Wilayah Berstatus Siaga Tsunami Buntut Gempa M 7,6 Guncang Bitung Sulawesi Utara

Tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan oleh otoritas Jepang, begitu pula dengan lembaga pemantau gempa di Filipina dan Malaysia.

Fenomena gempa bumi dan potensi tsunami di kawasan ini bukan hal baru.

Indonesia bersama negara-negara di sekitarnya berada di jalur Cincin Api Pasifik, yakni zona pertemuan lempeng tektonik aktif yang membentang dari Jepang, Asia Tenggara, hingga kawasan Pasifik.

Aktivitas geologi yang tinggi di wilayah ini membuat gempa bumi kerap terjadi dengan berbagai skala kekuatan.

Sejarah mencatat, salah satu bencana paling dahsyat terjadi pada tahun 2004 ketika gempa berkekuatan magnitudo 9,1 mengguncang Aceh dan memicu tsunami besar.

Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 170.000 orang dan menjadi pengingat akan pentingnya sistem peringatan dini serta kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam.

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas