Dinkes Kulon Progo Konfirmasi Hasil Lab Warga yang Suspek Hantavirus Dipastikan Negatif
Kepala Dinkes Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan hasil lab warga Kulon Progo yang suspek hantavirus dipastikan negatif.
Penulis:
Faryyanida Putwiliani
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Kepala Dinkes Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Susilaningsih memastikan hasil lab warga Kulon Progo yang suspek hantavirus dipastikan negatif.
- Hasil laboratorium itu juga telah diklarifikasi oleh Dinkes Kulon Progo dan Dinkes Provinsi DIY.
- Dari hasil laboratorium tersebut, Susilaningsih pun memastikan di Kulon Progo tidak ada kasus positif hantavirus.
TRIBUNNEWS.COM - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Susilaningsih buka suara terkait adanya warga yang sempat diduga terinfeksi hantavirus.
Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan laboratorium dari Kementerian Kesehatan RI, warga yang suspek hantavirus itu kini dinyatakan negatif.
Hasil laboratorium itu juga telah diklarifikasi oleh Dinkes Kulon Progo dan Dinkes Provinsi DIY.
"Pada tahun 2026 ini memang ada suspek hantavirus, tetapi hasilnya sudah keluar dua hari lalu dan hasilnya negatif," kata Susilaningsih, Minggu (10/5/2026), dilansir Kompas.com.
Dari hasil laboratorium tersebut, Susilaningsih pun memastikan di Kulon Progo tidak ada kasus positif hantavirus.
"Iya, (hasilnya) negatif. Ini informasi dari Kemenkes, Dinas Kesehatan DIY sudah klarifikasi ke pusat. Jadi, di Kulon Progo tidak ada kasus di manusia yang positif hantavirus," tegas Susilaningsih.
Sebagai informasi, hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan melalui kotoran tikus dan menyebabkan dua penyakit serius.
Di antaranya adalah penyakit Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.
Penyakit ini menular melalui udara yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus dan dapat berakibat fatal.
Kasus Hantavirus Tersebar di 9 Provinsi di Indonesia
Kementerian Kesehatan RI mencatat 23 kasus hantavirus jenis seoul virus dalam tiga tahun terakhir. Dari 23 yang terpapar, tiga di antaranya meninggal dunia. Case fatality rate (CFR) relatif tinggi dengan angka 13 persen.
Baca juga: Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai, Mulai Demam hingga Sesak Napas
Pada 2026, terdapat tambahan lima kasus. Selebihnya, pasien sudah dinyatakan sembuh. Terbanyak di DKI, berikut sebaran wilayahnya:
- Sumatera Barat: 1 kasus
- Banten: 1 kasus
- DKI Jakarta: 6 kasus
- Jawa Barat: 5 kasus
- Jawa Timur: 1 kasus
- DIY: 6 kasus
- NTT: 1 kasus
- Kalimantan Barat: 1 kasus
- Sulawesi Utara: 1 kasus
Baca juga: 13 Negara yang Terdampak Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Indonesia Termasuk?
Kasus Hantavirus di Indonesia Didominasi Seoul Virus
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan mayoritas kasus hantavirus di Indonesia disebabkan oleh strain Seoul virus (SEOV).
Virus jenis ini banyak ditularkan melalui tikus rumah. Strain ini berbeda dengan andes virus yang sempat menjadi sorotan dalam wabah di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik.
Sepanjang 2024 hingga 2026, tercatat 23 kasus hantavirus terkonfirmasi di Indonesia dengan tiga kasus kematian.
“Seluruh kasus konfirmasi tersebut mengarah pada Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang disebabkan Seoul virus,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Baca juga: Penularan Hantavirus Tak Seperti Covid-19, Sangat Kecil Tertulari saat di Pertama Kali Bertemu
Ia menjelaskan, temuan Hantavirus pada reservoir atau hewan pembawa, yakni tikus, telah ditemukan di 29 provinsi. Temuan tersebut berasal dari studi Rikhus Vektora oleh Balai Litbangkes Kelas I Salatiga.
“Faktor risiko penularan penyakit ini berkaitan dengan kontak manusia terhadap tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan ekskresi dan sekresi hewan,” jelas Aji.
Mengutip website Kemenkes, infeksi Seoul virus umumnya menimbulkan gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri punggung dan perut, mual, mata kemerahan, hingga ruam.
Pada kondisi lebih berat, penyakit dapat menyebabkan gangguan ginjal, perdarahan saluran pencernaan, gangguan pernapasan, hingga gangguan saraf.
Baca juga: Beda dari Flu! Ahli Bongkar Cara Strain Andes Hantavirus Menular Antarmanusia di Kapal MV Hondius
Karena hidup dekat dengan manusia, risiko penularan Seoul virus dinilai lebih tinggi dibanding penyakit zoonosis lain yang berasal dari satwa liar atau kawasan hutan.
Masyarakat diminta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan untuk mencegah penularan penyakit dari tikus. Hindari kontak langsung dengan tikus atau kotorannya, gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area terkontaminasi, rutin mencuci tangan, memakai disinfektan, serta mengelola sampah dengan baik agar populasi tikus berkurang.
Kemenkes juga mengingatkan bahwa penyakit ini berpotensi menimbulkan wabah jika tidak dikendalikan karena tikus tersebar di berbagai habitat.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Rina Ayu Panca Rini)(Kompas.com/Yefta Christopherus Asia Sanjaya)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.