Kalimantan Barat Laporkan Kematian karena Hantavirus, Pasien Punya Penyakit Penyerta
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), melaporkan kasus kematian pasien akibat terjangkit hantavirus.
Penulis:
Febri Prasetyo
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Kasus kematian akibat hantavirus terjadi Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
- Dinkes Ketapang mengatakan pasien memiliki penyakit penyerta yang memperburuk kondisinya.
- Masyarakat diminta menjalankan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan demi mencegah hantavirus.
TRIBUNNEWS.COM - Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), melaporkan kasus kematian pasien akibat terjangkit hantavirus.
"Pasien sempat menjalani perawatan di RSUD Dr. Agoessdjam Ketapang dan meninggal dunia. Selain terpapar hantavirus, pasien juga memiliki penyakit penyerta yang memperburuk kondisi kesehatannya," kata Kepala Dinkes Ketapang Feria Kowira, Rabu, (13/5/2026), dikutip dari Tribun Pontianak.
Feria berujar pasien terkonfirmasi terjangkit hantavirus sesudah hasil pemeriksaan laboratorium keluar dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan (BBLKL) Salatiga, Jawa Tengah.
Dia menyebut penularan hantavirus terjadi dari tikus ke manusia, bukan karena kontak antarmanusia. Oleh karena itu, Feria mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada.
Setelah kasus hantavirus ditemukan, Dinkes Ketapang segera melakukan penelusuran dan pemeriksaan terhadap warga di sekitar lokasi pasien.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap warga di sekitar lokasi, tidak ditemukan adanya kasus positif lainnya," ucap Feria.
Dinkes Ketapang, kata Feria, mengimbau masyarakat terus menjaga kebersihan lingkungan agar bisa mencegah penyebaran hantavirus. Caranya adalah membersihkan rumah, tidak membiarkan sampah menumpuk, dan menutup akses masuk tikus ke dalam rumah.
Di samping itu, masyarakat diminta menjaga agar makanan dan minuman tidak tercemar kotoran dan urine tikus yang bisa menjadi media penyebaran hantavirus.
"Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi tercemar. Sebaiknya area berdebu disemprot cairan disinfektan terlebih dahulu sebelum disapu agar partikel virus tidak beterbangan di udara," kata Feria.
Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami sejumlah gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, mual, hingga gangguan pernapasan setelah berada di lingkungan yang banyak dihuni tikus.
Kemenkes: PHBS jadi kunci cegah hantavirus
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)menjadi cara paling efektif mengantisipasi ancaman hantavirus. Meski risiko penularan antarmanusia tergolong rendah, kewaspadaan individu tetap menjadi prioritas utama.
Baca juga: Kemenkes Minta Masyarakat Tak Panik Soal Hantavirus, Beda dengan Covid-19
Juru Bicara Kemenkes Widyawati menekankan penerapan PHBS bukan sekadar anjuran, melainkan juga kewajiban untuk memutus rantai penularan virus yang dibawa oleh hewan pengerat tersebut.
"Imbauan pertama adalah perilaku hidup bersih dan sehat itu wajib. Dengan PHBS, insyaallah kesehatan kita akan selalu terjaga dan terhindar dari virus apa pun," ujar Widyawati dalam diskusi virtual Overview Tribunnews.com, Rabu, (13/5/2026).
Widyawati menguraikan sejumlah langkah praktis PHBS yang harus dilakukan masyarakat secara rutin, di antaranya sebagai berikut.
- Kebersihan Tangan: Rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer.
- Etika Batuk dan Bersin: Menerapkan etika batuk dan bersin yang benar di ruang publik.
- Pengendalian Reservoir: Menghindari kontak langsung dengan tikus serta kotoran atau urinnya.
- Sanitasi Lingkungan: Menutup semua lubang di dalam maupun luar rumah yang bisa menjadi sarang
- tikus, serta menjaga kebersihan tempat tinggal dan tempat kerja secara rutin.
- Keamanan Pangan: Menyimpan makanan dan minuman di wadah yang tertutup rapat agar tidak terkontaminasi.
Hal senada diungkapkan ahli imunologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta (FK UNS) Tonang Dwi Ardyanto.
"Mau virus apa pun itu, langkah pertama adalah PHBS sebagai kuncinya," kata Tonang pada kesempatan yang sama.
Ia mengatakan karena hantavirus menular melalui perantara hewan (rodent), kebersihan lingkungan menjadi kunci.
"Mari kita bersama-sama mengendalikan reservoirnya, bersihkan tempat-tempat yang lembab dan tumpukan sampah agar tidak menjadi tempat berkembangnya tikus," lanjutnya.
Lebih lanjut, Tonang mengingatkan hingga saat ini belum ada obat khusus maupun vaksin Hantavirus yang memiliki efektivitas kuat di Indonesia. Oleh karena itu, pencegahan melalui gaya hidup bersih jauh lebih krusial dibandingkan pengobatan.
Masyarakat yang merasa mengalami gejala tidak nyaman pada tubuh setelah melakukan kontak dengan lingkungan yang tidak bersih diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat demi mendapatkan diagnosis yang akurat.
Baca juga: Kasus Hantavirus, Kemenkes Awasi Pelaku Perjalanan Luar Negeri Terutama Amerika Latin
(Tribunnews/Febri/Gilang/Tribun Pontianak/Faiz Iqbal)