Misteri Kematian Lansia dan Sate Diduga Beracun di Boyolali Belum Terungkap
Kasus kematian lansia perempuan inisial A (57), warga Dukuh Jantir, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, masih menyisakan misteri.
Penulis:
Theresia Felisiani
Ringkasan Berita:
- Kasus kematian lansia perempuan inisial A (57), warga Dukuh Jantir, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, masih menyisakan misteri.
- Polisi masih menunggu hasil autopsi jenazah korban untuk mengetahui penyebab pasti korban meninggal dunia mendadak pada 19 Mei 2026.
- Keluarga curiga dengan kematian korban yang mendadak, diduga keracunan sate kiriman via ojek online.
TRIBUNNEWS.COM, BOYOLALI - Kasus kematian lansia perempuan inisial A (57), warga Dukuh Jantir, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Boyolali masih menyisakan misteri.
Ramai disebut korban meninggal gegara makan sate diduga beracun kiriman orang tak dikenal via ojek online.
Saat jenazahnya ditemukan, mulut korban berbusa, telingannya juga biru.
Hingga kini Polisi masih menunggu hasil autopsi jenazah korban untuk mengetahui penyebab pasti korban meninggal dunia mendadak pada 19 Mei 2026.
Kapolres Boyolali, AKBP Indra Maulana Saputra, menjelaskan saat ini proses pemeriksaan di Dokpol Polda Jateng masih berjalan.
Polisi belum menerima hasil resmi mengenai penyebab kematian.
“Apakah ada indikasi tanda-tanda kekerasan atau hal lain terkait penyebab meninggalnya itu,” ujar Indra, Senin (1/6/2026).
Baca juga: Sate Maut di Boyolali, Keluarga Curiga ke Sosok Menantu, Widodo: Tak Harmonis, Kerap Minta Uang
Pihaknya belum menyimpulkan penyebab kematian korban.
Termasuk apakah korban meninggal dunia secara wajar atau tidak wajar.
“Kan indikasinya banyak. Apakah karena sakit, apakah karena serangan jantung, atau penyebab lain. Kita masih menunggu hasil autopsi,” jelasnya.
Meninggal Gegara Keracunan Sate Kiriman Via Ojek Online?
Terkait isu yang beredar bahwa korban meninggal setelah mengonsumsi sate yang dikirim orang tak dikenal lewat ojek online, Kapolres menegaskan hal itu masih sebatas dugaan.
Apalagi, waktu kejadian dengan laporan ke polisi juga berselang sepekan.
Sehingga satu-satunya petunjuk yang akurat berasal dari hasil otopsi.
“Karena rumah pun sudah dibersihkan sama keluarga, sudah bersih dan semuanya. Sehingga kita menunggu hasil dari Dokpol saja,” jelas Indra.
Baca juga: Kematian Misterius Lansia di Boyolali: Makam Dibongkar, Keluarga Curiga Keracunan Gegara Makan Sate
Mengenai bangkai ayam yang diamankan karena diduga mati setelah mematuk sisa sate, AKBP Indra menyebut barang bukti itu masih dalam proses pemeriksaan laboratorium.
Hanya saja, ayam tersebut tidak bisa menjadi petunjuk yang akurat untuk menduga sate ayam itu beracun atau tidak.
Pasalnya, ayam yang mati tersebut merupakan ayam liar.
“Bisa saja ayam itu sudah makan di mana, terus makan itu (sisa sate). Indikasinya kan sangat banyak. Namanya ayam liar itu makannya apa saja,” jelasnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi, karena ayam yang dibiarkan liar bisa saja mati akibat mengonsumsi hal lain di luar lingkungan tersebut.
Polres Boyolali akan terus mengikuti prosedur dan SOP yang berlaku serta menunggu hasil resmi dari Dokpol Polda Jateng untuk memastikan penyebab utama kematian almarhumah.
Indra menambahkan, almarhumah ditemukan meninggal di kediamannya di Sindon pada 19 Mei 2026.
Karena tidak ditemukan tanda-tanda mencurigakan seperti pencurian, keluarga langsung memakamkan jenazah sesuai kaidah agama.
“Satu minggu setelah pemakaman, tepatnya 25 Mei, pihak keluarga terutama anak pelapor merasa ada kejanggalan terkait kematian ibunya. Pihak keluarga memutuskan untuk mencari tahu penyebab pasti kematian almarhumah dan secara resmi membuat laporan ke Polres Boyolali pada tanggal tersebut,” tuturnya.
Menantu Korban Ikut Disorot, Disebut Sering Minta Uang
Keluarga dari perempuan paruh baya berinisial A (57), warga Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali menyoroti menantu korban.
Sebab, A disebut meninggal tak wajar.
Dia meninggal setelah memakan sate ayam yang dikirimkan orang yang belum pasti identitasnya.
Meski telah dimakamkan pada Selasa (19/5/2026), keluarga korban terus berupaya mencari kejelasan atas penyebab kematian A yang diduga tidak wajar.
Polisi melakukan ekshumasi makam wanita itu pada Sabtu (30/5/2026).
Kecurigaan keluarga mengarah pada sebungkus sate ayam yang diterima korban sesaat sebelum meninggal dunia.
Sate tersebut diduga dikirim oleh menantu korban berinisial P melalui jasa ojek online.
Kakak kandung korban, Widodo (61), mengungkapkan selama ini hubungan antara korban dan P tidak harmonis.
Menurutnya, P kerap meminta uang kepada korban dengan berbagai alasan yang belakangan diketahui tidak benar.
“Terduga pelaku P sering meminta uang ke korban dengan cara berbohong. Jadi P ini tidak merasa bersalah, tidak merasa dosa, dan tidak punya malu,” ujar Widodo, Minggu (31/5/2026).
Menurut Widodo, hubungan antara korban dan menantunya semakin memburuk setelah sejumlah kebohongan yang dilakukan P diketahui oleh korban.
Sejak saat itu, komunikasi keduanya disebut tidak lagi berjalan baik.
Ia juga menilai rekam jejak P selama ini kurang baik.
Selain disebut sering meminjam uang kepada sejumlah teman, P juga diduga memiliki kebiasaan bermain judi online.
“Track record P ini sudah jelek. Tiap hari cari utang ke teman-temannya dan sering main judi online,” katanya.
Kecurigaan keluarga semakin kuat setelah muncul informasi bahwa tidak hanya korban yang meninggal dunia setelah mengonsumsi sate ayam tersebut.
Sejumlah ayam yang turut memakan sisa makanan itu juga dilaporkan mati.
Menyerahkan ke Kepolisian
Meski demikian, Widodo tetap menyerahkan kasus tersebut ke pihak kepolisian dan mengutamakan praduga tak bersalah.
Sementara itu, kuasa hukum keluarga korban, Wiwik Dwi Habsari SH, mengungkapkan pihaknya memperoleh sejumlah keterangan dari saksi yang mengarah pada dugaan keterlibatan seseorang berinisial P dalam pengiriman sate ayam kepada korban.
Menurut Wiwik, berdasarkan informasi yang diperoleh dari saksi, seseorang yang diduga berinisial P membeli sate ayam di wilayah Pandean, Kecamatan Ngemplak, kemudian meminta seorang pengemudi ojek online untuk mengantarkan makanan tersebut ke rumah korban di Dukuh Sindon.
“Proses pembelian sate ayam di Desa Pandean hingga makanan tersebut diantar ke rumah korban diketahui dari cerita driver ojek online yang kemudian mengetahui kabar meninggalnya A dari tayangan di Facebook,” jelas Wiwik.
Lebih lanjut, Wiwik mengungkapkan pemesanan layanan ojek online tersebut menggunakan nama Luriyanti.
Padahal, Luriyanti merupakan anak kedua korban yang tinggal di Kismoyoso, Kecamatan Ngemplak, dan mengaku tidak pernah mengirim sate ayam kepada ibunya.
“Setelah ditelusuri, ternyata anak kedua korban yang namanya digunakan dalam pemesanan itu merasa tidak pernah mengirim sate ayam kepada ibunya yang tinggal sendirian di Sindon,” ujarnya.
Wiwik menjelaskan, sebelum mengonsumsi sate ayam tersebut, korban sempat menghubungi anaknya Luriyanti untuk menanyakan asal kiriman makanan itu.
Karena tidak mengetahui siapa pengirimnya, sang anak bahkan sempat meminta ibunya untuk tidak memakan sate ayam tersebut.
“Awalnya tidak tahu siapa yang mengirim. Bahkan anak korban sempat meminta agar sate itu tidak dimakan karena pengirimnya tidak jelas,” terangnya.
Kasus ini kini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.
Sebelumnya, makam korban juga telah dibongkar untuk kepentingan autopsi guna memastikan penyebab kematian.
Keluarga berharap hasil pemeriksaan forensik dapat mengungkap fakta sebenarnya dan memberikan kepastian hukum atas kematian korban yang hingga kini masih menjadi misteri.
(tribun network/thf/TribunSolo.com)
Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Misteri Kematian Perempuan di Boyolali Belum Terungkap, Polisi Tunggu Hasil Autopsi,
Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Makam di Boyolali Dieksumasi, Kini Menantu Korban Ikut Disorot, Disebut Sering Minta Uang,
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.