Ayah Vita Mendadak jadi Linglung
Dari sisi keluarga, kepergian Vita selama dua minggu lebih menimbulkan permasalahan serius. Edison Siahaan (55), ayahnya,
Penulis:
Y Gustaman
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dari sisi keluarga, kepergian Vita selama dua minggu lebih menimbulkan permasalahan serius. Edison Siahaan (55), ayahnya, mendadak pikun. Ia menjadi lupa cara memegang martil, gergaji, dan paku. Telapak tangannya yang kokoh itu sudah tak lagi akrab dengan perkakas logam yang menjadi sumber rezekinya sejak satu setengah tahun lalu. Hidupnya kini hanya jalan-jalan ke sana kemari.
Di sebuah bangunan mirip bengkel, Edison menghabisi hari-harinya memasang per untuk kasur pegas industri rumah tangga. Ia bekerja bersama temannya Halasan (40). Per hari, duet ini menghasilkan 15 sampai 20 kerangka ranjang kasus per.
"Semuanya berubah setelah anaknya menghilang dari rumah. Semua teman di bengkel ini tahu. Sejak itu dia keluar kerja," ujar Halasan kepada Tribunnews.com saat ditemui di bengkel pembuatan kasur pegas industri rumah tangga di Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (27/1/2012).
Edison tampak terpukul, setelah mengetahui buah hatinya putri bungsu hasil perkawinan dengan Lili Satriani (50) meninggalkan rumah tanpa warta. Sesekali, Edison masih sempat mendatangi tempat kerjanya. Tatapannya datar. Tak jarang, pria bertubuh tegap, berkulit hitam ini menyeruput kopi. Tapi tanpa obrolan, hanya melamun. Halasan yang bekerja di dekatnya tak diajaknya mengobrol.
Beberapa warga yang rumahnya sering dilewati Edison berjalan, mengungkapkan hal yang sama. Edison kini berubah.
"Sejak anaknya hilang, dia kurang tanggap sama warga. Seperti orang linglung. Kadang saya serba salah menegurnya," ujar Ibu Samin.
Ketika Vita masih berada di rumah, perangai Edison jauh jauh dari kondisi sekarang. Ia ramah, selalu menyapa warga. Terkadang, pos Kamling dekat tempatnya bekerja menjadi tempat favorit melepas lelah. Tapi hal itu tak pernah lagi dilakukan Edison.
"Bapaknya Vita ini suka mengobrol. Ikut gotong-royong sewaktu warga bersih-bersih jalan. Orangnya suka humor. Pernah anak saya Dodi, ketika ada PR membuat kubus sekolah, bapak Vita yang membantu membuatnya," ujar Ibu Samin.
Kira-kira pukul 13.00 WIB, Edison terlihat di depan rumahnya Gang Mangga Nomor 70 RT 08/02 Cipayung. Di rumah kontrakan ini, keluarga Edison sudah tinggal setahun. Tak ada senyum di wajahnya, meski kabar suka diterimanya: Vita sudah ditemukan di Sorong, Papua Barat.
Entah apa yang menjadi alasan Edison sampai-sampai tak ikut menemui Vita di Polda Metro Jaya. Ini berlainan dengan Lili, dan Maruli Siahaan, anaknya yang pergi ke Polda Metro Jaya menemui Vita. Tribun berusaha mewancarai Edison, tapi ia memilih menjauh.
Sebagai bapak, Edison pantas kehilangan. Hari di saat keluar rumah, Edison masih melihat anaknya yang cantik dan berkulit putih itu. Ia tak menyangsikan kantung plastik hitam yang dibawa Vita adalah pakaian, untuk persiapan kabur nanti.
Edison sempat menanyakan plastik apa gerangan yang dibawa Vita. Waktu itu Vita menjawab hanya plastik sampah bekas bungkusan dari supermarket. Terus Vita pamit untuk membuangnya. Dan Edison mengizinkan Vita ke luar rumah.
Tak lama, Vita kembali ke rumahnya. Edison masih di rumah. "Enggak lama Vita izin lagi ke warnet, dan bapaknya mengizinkan. Habis itu dia tak kembali ke rumahnya," cerita Agustina Sianturi (50), tetangga Edison.
Muasal kepergian Vita didapat Agustina dari cerita Edison langsung. Dari informasi yang beredar, di hari Vita kabur, teman-temannya masih melihat dia main di warnet yang berjarak 300 meter dari rumahnya. Setelah itu, tak ada cerita lagi karena Vita pergi entah kemana.
Sejak menghilang dari rumah, Edison ke sana kemari mencari Vita. Ia keluar masuk gang di daerah dekat rumahnya. Tiap orang yang dia kenal selalu dititipi pesan yang sama.