Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Seleb
LIVE ●

Tim Bui Jadikan Bola Solusi Hadapi Konflik

Tim Bui mengambil setting di sebuah lapas fiktif bernama Lawang Betung, di mana terdapat dua geng berdasarkan suku selalu terlibat konflik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Dewi Agustina

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebuah drama seri yang mempromosikan kekuatan tim olahraga dalam menghadapi perbedaan dan resolusi konflik akan segera ditayangkan di Indonesia.

Menggabungkan kecintaan masyarakat pada olahraga sepak bola dan drama televisi, serial sejumlah 13 episode dengan judul 'Tim Bui' ini membawakan toleransi beragam, kerja sama tim dan resolusi konflik di masyarakat.

Walau sangat menghibur, 'Tim Bui' ini mempromosikan model positif dari interaksi sosial yang juga ditulis, diproduksi dan ditayangkan oleh orang Indonesia sendiri. Serial ini akan tayang mulai 19 Februari, pukul 13.30 s/d 14.00 WIB di Metro TV.

Tim Bui mengambil setting di sebuah lapas fiktif bernama Lawang Betung, di mana terdapat dua geng berdasarkan suku selalu terlibat konflik. Pemain utama yang terlibat diantaranya nominator aktor pendukung terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2011, Agus Kuncoro sebagai Kepala Pembina Lapas, Rio Alba sebagai Kepala Keamanan Lapas, Richard Alino dan Daffi Ariaga sebagai pemimpin geng, Aerly Ashyla sebagai Kepala Lapas, dan Abby Gallaby sebagai putri Nina.

Dalam serial tersebut, kekerasan, hubungan saling bertentangan antar geng berubah menjadi satu kerjasama dan saling menguntungkan. Pembentukan tim sepak bola menjadi kekuatan pemersatu dalam membantu anggota geng dalam mengatasi perbedaan dan bekerja sama untuk meraih keberhasilan di lapangan.

Tim Bui melakukan revolusi drama televisi di Indonesia dengan menawarkan kepada penonton sebuah alternatif mendidik dari pada program sinetron yang mendominasi pasar televisi.

Rekomendasi Untuk Anda

"Tim Bui mempromosikan model positif dari interaksi sosial yang ditulis, diproduksi dan ditayangkan oleh orang Indonesia," ungkap Direktur Asia Search For Common Ground (SFCG) Brian D. Hanley di Jakarta, Kamis (9/2/2012).

Pemilihan penjara sebagai latar film tersebut menurut Garin Nugroho, Direktur SET selaku pihak yang memproduksi disebabkan penjara selalu dianggap sebagai muara dari beragam bentuk nilai yang bertentangan dengan demokratisasi.

"Penjara selalu dianggap muara berbagai bentuk nilai yang bertentangan dengan demokratisasi. Banyak nilai penting yang bisa diperoleh penonton khususnya yang berada di daerah konflik," ungkap Garin.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas