Balawan Pusing Kolaborasikan Gitar dan Gamelan
Gitaris kondang asal Bali, Balawan ternyata sempat dibuat pusing oleh gamelan.
Editor:
Anita K Wardhani
TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Gitaris kondang asal Bali, Balawan ternyata sempat dibuat pusing oleh gamelan. Saat ia kali pertama mencoba mengolaborasikan gitarnya dengan gamelan Bali. Saat itu, ia dibuat bingung karena suara yang dihasilkan kedua alat musik itu tak bisa sama.
"Saat pertama mencoba berkolaborasi dengan gamelan, saya sampai pusing karena suara gitar dan gamelan tak bisa sama," katanya disela kesibukan mengisi acara Keretakencana Worldmusic Festival (KWF), Jumat (6/7), di eks Pabrik Gula (PG) Colomadu, Karanganyar.
Ia bahkan sempat mengira gitar kesayangganya yang bermasalah karena mengeluarkan suara fals dan berniat ganti gitar.
Pemilik nama asli I Wayan Balawan ini pun dibuat penasaran kenapa hal itu bisa terjadi. "Misteri" itu pun terjawab. Penyebab suara yang tak seragam itu karena gamelan yang digunakan terbuat dari bahan logam kuningan. "Gamelan yang terbuat dari kuningan suaranya cepat berubah jika digunakan beberapa kali. Makanya harus sering distem dengan cara menggosok pakai gerinda," katanya.
Pria 38 tahun ini lantas melakukan sejumlah mofikasi dengan gamelan yang biasa digunakan pentas berkolaborasi di beberapa tempat. Bahan gamelan tak lagi memakai kuningan, tapi diganti dengan besi baja. "Kalau pakai besi baja, suara tak akan berubah-ubah meski digunakan berapa kali pun," kata Balawan. Gamelan khas bali itu lalu disusun dari nada terendah ke nada tertinggi, mulai do-re-mi-fa-so-la-si-do.
Karena sudah dimodifkasi sedemikian rupa, gamelan itu bisa dimainkan untuk dua orang secara bersama-sama. Balawan lalu menambah instrumen lain, yakni gendang, bas, dan seruling. Kolaborasi itulah yang sering ia tampilkan untuk pentas keliling dunia setiap bulannya. "Tapi kolaborasi saya dengan gamelan ini lebih banyak disukai orang luar. Makanya hampir setiap bulan selalu tampil di luar negeri," katanya.
Balawan melanjutkan, kolaborasi gamelan dan gitar yang dimainkannya memang berakar dari gamelan khas Bali. Namun ia melakukan sejumlah modifikasi hingga suara yang dihasilkan lebih bervariasi dan tak terkesan monoton. "Biasanya, orang kalau dengar gamelan itu jadi ngantuk. Nah saya ingin mengubah hal itu hingga yang mendangar musik saya dibuat menjadi berpikir," katanya sambil tertawa kecil. (dik)