Muhaimin Iskandar: Nahdliyin Wajib Nonton Film Sang Kyai
Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, mewajibkan warga nahdliyin dan segenap elemen bangsa menonton film Sang Kyai.
Penulis:
Rachmat Hidayat
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, mewajibkan warga nahdliyin dan segenap elemen bangsa menonton film Sang Kyai, untuk memupuk semangat nasionalisme.
"Ini film yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama. Trailernya saja bagus sekali. Wajib hukumnya nonton film ini. Saya akan mendorong, menggerakkan warga nahdliyin khususnya, serta komponen bangsa untuk menonton film ini, demi Indonesia, demi Mbah Hasyim,” tutur Muhaimin, Jumat (3/5/2013).
Menurutnya, film Sang Kyai yang mengisahkan Kyai Hasyim Asy’ari bukanlah sembarang film.
“Hebat, proses pembuatannya pun dengan riset yang panjang,” puji Muhaimin.
Rencananya, Muhaimin mengundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta ibu Ani, untuk menyaksikan pemutaran perdana Sang Kyai, 20 Mei 2013.
“Insya Allah Pak SBY mau menyaksikan bersama, tinggal menunggu waktu yang tepat,” ujarnya.
Sementara, pihak Rapi Film yang diwakili Gope Samtani selaku produser, mengaku puas dengan hasil film kolosal yang baru kali pertama dibuatnya.
“Ini baru kali pertama Rapi Film membuat film kolosal. Memang sangat over budget, melibatkan lebih dari 3.000 figuran. Namun, saya sangat puas dengan hasilnya, ada kebanggaan tersendiri,” papar Gope, didampingi salah satu artis senior yang ikut bermain di film Sang Kyain, dan KH Sholahudin Wahid.
Sang Kyai, lanjutnya, adalah sebuah tantangan yang luar biasa. Apalagi, film ini mengonstruksi tokoh sejarah, pendiri NU, pahlawan NKRI, Kiai Hasyim Asy'ari.
“Saya khawatir tokoh yang kami perankan tidak sesuai. Namun, setelah diputar di PBNU trailernya, semua tepuk tangan, hati saya lega. PBNU sendiri puas, tokoh kami betul-betul sempurna difilmkan, ” katanya mengisahkan.
Aktris Christine Hakim yang memerankan Nyai Kapu, pun tak lepas mengungkapkan kebanggaannya ikut terlibat dalam pembuatan Sang Kyai. Baginya, KH Hasyim Asy’ari layak disematkan lebih dari hanya seorang pahlawan nasional.
“Lebih dari itu, seandainya beliau menghendaki Indonesia menjadi negara agama, tentu bisa. Tapi di situlah, subhanallah, KH Hasyim tidak demikian. Perjuangannya tidak sempit, beliau paham Indonesia adalah miniaturnya dunia, dengan keragaman budaya,” urainya.
Mbah Hasyim, paparnya, wajib menjadi panutan bagi para kyai, apalagi di tengah kerinduan akan ulama yang santun.
“Ada kerinduan akan figur yang santun di tengah masyarakat. Betapa Mbah Hasyim memang harus jadi cermin untuk para kyai masa kini,” cetusnya. (*)
Baca tanpa iklan