Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Seleb
LIVE ●

Melancholy is a Movement Wujudkan Impian Joko Anwar Menjadi Aktor

Karena saya merasa ngga ganteng, dan ngga jelek juga, dari situ akhirnya saya sadar, ya udah jadi sutradara aja deh.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Achmad Rafiq
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Melancholy is a Movement  Wujudkan Impian Joko Anwar Menjadi Aktor
Tribunnews.com/Achmad Rafiq
Sutradara Joko Anwar 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Achmad Rafiq

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sutradara film, Joko Anwar Mengaku memiliki impian terpendam sejak kecil. Pasalnya sejak duduk di bangku sekolah dasar, Joko memiliki impian yaitu menjadi seorang aktor utama di sebuah film. Meski dirinya saat ini lebih banyak menjadi sutradara atau produser film.

"Saya sih pengen jadi aktor udah dari dulu. Sejak kelas satu SD kan ditanya cita-cita sama guru, ya saya jawab pengen jadi bintang film. Terus semua pada ketawain aku," cerita Joko, saat ditemui usai jumpa pers di Reading Room, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (16/12/2014).

Mendengar ejekan dari teman-teman sekelasnya, Joko pun bercerita kepada ibunya akan kejadian tersebut. Namun Joko mengaku orangtuanya selalu memberikan jawaban yang dapat membuat dia senang.

"Karena saya merasa ngga ganteng, dan ngga jelek juga, dari situ akhirnya saya sadar, ya udah jadi sutradara aja deh," kata Joko.

Dalam film karya Richard Oh yang berjudul 'Melancholy is a Movement', impian Joko menjadi aktor utama di sebuah film dapat terwujud. Joko berperan tetap menjadi dirinya yang seorang sutradara. Namun Joko mengakui tidak semua karakter sama seperti pribadi dia sebenarnya.

"Di film ini kan saya muram banget. Padahal kan aslinya saya ribut banget. Secara total karakter yang saya peranin berbeda sama karakter asli saya," ungkapnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Film yang baru akan tayang sekitar awal Febuari 2015 itu, disutradarai Richard Oh. Film itu berkisah tentang cita-cita seorang pembuat film yang mendadak terhenti oleh sebuah kejadian.

Dalam film 'Melancholy is a Movement', Joko mengalami dinamika teman-teman di sekitarnya dan kebutuhan untuk membayar sewa kantor. Sehingga membuat dia harus bergerak dan meneriwa tawaran untuk membuat sebuah film religi, yakni genre yang selalu dihindarinya.

Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas