Tribun Seleb

Berperan Jadi Burung, Nicholas Saputra: Bulunya Beneran

"Bulunya beneran dan dicampur dengan efek visual, dan pemakaian kostumnya empat hingga lima jam setiap pagi," ujarnya

Penulis: Nurul Hanna
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
zoom-in Berperan Jadi Burung, Nicholas Saputra: Bulunya Beneran
Tribunnews/NurulHanna
Nicholas Saputra ditemui usai press screening film Interchange di kawasan Bundaran H.I, Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2017). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurul Hanna

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jika dalam sejumlah film Nicholas Saputra berperan menjadi pria berbagai karakter, kali ini ia berperan sebagai sosok yang bukan manusia.

Nicholas berperan sebagai makhluk supranatural, yang berwujud burung langka bernama Rangkong Gading, asal Kalimantan. Karakter tersebut diperankannya dalam film thriller supranatural 'Interchange'.

Tentu tak mudah mempelajari gerak tubuh sebagai seekor unggas. Belum lagi, ia juga harus mengenakan kostum dan riasan dengan teknik khusus.

"Bulunya beneran dan dicampur dengan efek visual, dan pemakaian kostumnya empat hingga lima jam setiap pagi," ujar pria berusia 33 tahun ini.

Nicholas harus rela datang lebih pagi sebelum para kru, dan masih harus mencabuti bulu burung hingga usai syuting.

"Jadi saya datang sebelum kru datang saya sudah datang, kru pulang saya masih harus lepaskan bulu (burung) satu-satu," lanjut Nicholas.

Tak hanya itu, pemeran Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta ini juga harus mempelajari gerak-gerik burung, mulai dari mengepak sayap hingga jalan yang membungkuk.

Dua bulan sebelum syuting, Nicholas sudah lebih dulu berada di Kuala Lumpur, Malaysia, yang dijadikan lokasi syuting.

Film 'Interchange' memang hasil kerjasama Malaysia dan Indonesia, yang mengangkat cerita tentang mitos suku Dayak di tanah Borneo, Kalimantan.

Untungnya, berkat pengalamannya menjelajahi sejumlah pelosok di Sumatra dan Aceh, Nicholas sering kali melihat sejumlah burung dengan spesies yang serupa yakni Rangkong (Hornbill).

Nicholas rela memainkan peran yang jauh berbeda dari peran sebelumnya, lantaran kecintaannya terhadap beragam budaya di pedalaman.

"Banyak masyarakat adat (pedalaman) yang berjuang, demi menjaga tradisi dan kekayaan yang mereka punya," ujarnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas