Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Seleb
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Film ‘A Man Called Ahok’ Sukses Menginspirasi Keluarga

Dalam kesempatan tersebut pula, sutradara Putrama Tuta menceritakan tentang proses pembuatan film A Man Called Ahok yang terbilang cukup lancar

Film ‘A Man Called Ahok’ Sukses Menginspirasi Keluarga
dok. A Man Called Ahok
Emir Hakim selaku produser film A Man Called Ahok mengungkapkan rasa syukurnya, bahwa sejak peluncuran teaser-nya di YouTube pada September 2018 lalu, film ini memang mendapatkan cukup banyak perhatian dari masyarakat luas. 

Film A Man Called Ahok karya sutradara Putrama Tuta sudah tayang. Hal ini terungkap pada acara press screening dan press conference film A Man Called Ahok di Epicentrum XXI, di bilangan Kuningan Jakarta Selatan.

Emir Hakim selaku produser film A Man Called Ahok mengungkapkan rasa syukurnya, bahwa sejak peluncuran teaser-nya di YouTube pada September 2018 lalu, film ini memang mendapatkan cukup banyak perhatian dari masyarakat luas.

“Film A Man Called Ahok ini diputar secara serentak di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia dan mulai bisa ditonton oleh penonton sejak 8 November 2018. Meski begitu, bagi kami kesuksesan utama film dilihat dari banyaknya keluarga Indonesia yang terinspirasi dari menonton film ini, bukan hanya dari banyaknya penonton,” ungkapnya

Dalam kesempatan tersebut pula, sutradara Putrama Tuta menceritakan tentang proses pembuatan film A Man Called Ahok yang terbilang cukup lancar.

Sekitar 85% dari pembuatan film ini dilakukan di Gantung, Belitung Timur, dan hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun untuk menyelesaikan film, mulai dari proses diskusi, observasi, hingga eksekusi saat syuting.

a man called ahok-2
Dalam kesempatan tersebut pula, sutradara Putrama Tuta menceritakan tentang proses pembuatan film A Man Called Ahok yang terbilang cukup lancar.

Lebih jauh lagi, ia menggali cerita dari buku karya Rudi Valinka dengan banyak cara. Mulai dari mendatangi Ahok di Mako Brimob, mendatangi rumah keluarga Ahok, orang-orang terdekat di keluarga Ahok, hingga masyarakat sekitar lingkungan rumah Ahok di Belitung Timur demi mendapatkan kedalaman emosi dari setiap tokoh dalam film ini.

Namun dari banyaknya tokoh di dalam cerita, karakter dan drama hubungan antara Ahok dan ayahnya Kim Nam, menjadi fokus utama dari cerita.

Kim Nam adalah pengusaha tambang di Belitung Timur yang dermawan sekaligus sosok ayah yang jujur dan teguh dalam pendirian.

Keteguhan Kim Nam terhadap prinsip hidup yang diyakininya benar sering tidak sejalan dengan keinginan Ahok sebagai anak. Seiring berjalannya waktu, Ahok pun tumbuh menjadi dewasa dan sedikit demi sedikit mulai memahami nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah sejak kecil.

“Film A Man Called Ahok ini adalah sebuah film drama yang didesain untuk berinteraksi dengan para penontonnya. Saya menceritakan alasan bagaimana karakter Ahok terbentuk, dan saya menceritakannya dari sisi yag tidak diketahui orang banyak. Film ini bukan hanya mengenai bungkus dan tampilan kehidupan Ahok, tetapi mengenai isi dari kehidupan dan pentingnya nilai dari sebuah keluarga,” ucap pria yang sering disapa dengan panggilan Tuta ini.

Film A Man Called Ahok sendiri adalah sebuah cerita tentang pembentukan karakter seorang anak yang dimulai dari keluarga.

Film ini memiliki 2 latar waktu yang berbeda, sehingga ada 2 aktor untuk setiap tokoh yang dimainkan. Tokoh Ahok dimainkan oleh 2 aktor yaitu Daniel Mananta dan Eric Febrian, seorang putra asli Belitung yang berperan sebagai Ahok kecil.

Sementara tokoh Kim Nam dimainkan oleh Chew Kin Wah dan Deny Sumargo sebagai Kim Nam muda.

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas