Epilepsi Dapat Diobati, Jangan Beri Stigma Pada Pengidap, Penyakit Ini Tak Menular
Ahli bedah saraf Zainy Hamzah mengatakan selama ini masyarakat masih memberikan stigma terhadap pengidap epilepsi. Padahal penyakit ini bisa diobati.
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ahli bedah saraf Zainy Hamzah mengatakan selama ini masyarakat masih memberikan stigma terhadap pengidap epilepsi.
Ketua Pelaksana 3rd Jakarta Islamic Neuro Science (JINS) Week 2022 ini mengatakan epilepsi tidak menular dan dapat diobati.
Baca juga: Epilepsi Sopir Mobil Bak Terbuka Kumat, Jadi Penyebab Tabrakan Tewaskan Pemotor di Citayam Depok
"Pada JINS Week kali ini, kami (FKK UMJ) mengangkat tema terkait epilepsi. Hal ini berlandaskan pada keresahan kami terkait stigma masyarakat tentang epilepsi yang padahal bisa diobati dan tidak menular lewat makanan," tutur Zainy melalui keterangan tertulis, Senin (10/10/2022).
Hal tersebut diungkapkan oleh Zainy dalam JINS yang diikuti para ahli bedah epilepsi dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sebagai tuan rumah.
Wakil Rektor I UMJ Muhammad Hadi berharap kegiatan ini dapat memberikan sumbangsih dalam dunia kedokteran.
"Jakarta Islamic Neuroscience (JINS) Week 2022 akan menjadi acara kekhususan dari FKK UMJ karena akan diproses oleh LPPM kepada Kemenkumhan, sehingga mampu mendorong tercapainya kualitas dari Neuro Science di ruang lingkup Jakarta, khususnya UMJ,” ucap Hadi.
Kegiatan ini menghadirkan kurang lebih lima ahli bedah saraf di Indonesia yang mendalami khusus bedah epilepsi, yakni Andi Asadul Islam sebagai pembicara utama, lalu pembicara lainnya yaitu Zainal Muttaqin, Rahadian I Susilo, Heri Subianto, Zainy Hamzah, dan Yuris Bachtiar, serta Muhammad Thohar Arifin.
Baca juga: Jangan Memasukan Benda Apapun ke Mulut, Ini Pertolongan Pertama pada Pasien Epilepsi yang Kambuh
Pada hari pertama JINS Week 2022, kegiatan dimulai dengan pemaparan materi dari dua narasumber yaitu Andi Asadul Islam sebagai pelopor bedah epilepsi di Indonesia dan Zainal Muttaqin lalu dilanjutkan pemaparan paper oleh tiga dokter terpilih.
Seminar dan Workshop ini terakreditasi IDI (Ikatan Dokter Indonesia) sehingga memiliki nilai SKP IDI.
Seperti diketahui, Jakarta Islamic Neuro Science merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan atas kerja sama UMJ, Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih, Ikatan Dokter Indonesia, dan Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia, serta dukungan para sponsor Leica, Storz, THC, Medtronic, Doro.
Acara ini pertama kali dilakukan pada tahun 2018 dan untuk kedua kalinya pada tahun 2019.
Agenda sempat tertunda karena dua tahun pandemi Covid-19 melanda Indonesia, namun pada akhirnya kegiatan ini dapat dilaksanakan kembali pada tahun 2022 untuk ketiga kalinya.