Tanggapi Kasus Ari Bias dan Agnez Mo, AKSI Singgung Ada Perbedaan Persepsi Tentang Hak Cipta
Piyu Padi, Ketua umum dari Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI) merespon putusan pengadilan terkait perkara hak cipta Agnez Mo dan Ari Bias.
Penulis: Bayu Indra Permana
Editor: Anita K Wardhani

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Piyu Padi, Ketua umum dari Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI) merespon putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dalam perkara hak cipta antara Ari Bias dan Agnez Mo.
Piyu menegaskan bahwa pihaknya telah mengikuti dan mengawal kasus ini sejak awal hingga adanya putusan dari pengadilan.
Baca juga: Piyu Padi Nilai Kasus Ari Bias dan Agnez Mo Buka Mata Masyarakat Indonesia Soal Hak Cipta
"Seperti yang kita ketahui bersama, belum lama ini Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah memutus perkara hak cipta antara Ari Bias melawan Agnez Mo," ujar Piyu Padi membuka jumpa pers di Al Barkat Carpet, kawasan Fatmawati Jakarta Selatan, Senin (17/2/2025).
"Dengan putusan yang menyatakan bahwa Agnez Mo telah terbukti melakukan pelanggaran hak cipta dengan menggunakan secara komersial lagu 'Bilang Saja' tanpa izin penciptanya, Ari Bias, di tiga konser," ujar Piyu.
Pengadilan pun menghukum Agnez Mo dengan denda sebesar Rp1,5 miliar.
Baca juga: Ahmad Dhani Sedang Persiapkan Revisi UU Hak Cipta, Usai Kasus Ari Bias dan Agnez Mo
Menurut Piyu, Ari Bias telah memperjuangkan haknya selama 1,5 tahun dan telah melalui prosedur hukum yang benar.
"Kami sebagai asosiasi yang menaungi para pencipta lagu di Indonesia mengetahui dan turut mengawal kasus ini sejak awal sampai adanya putusan dari pengadilan," beber Piyu.
"Hingga kita bisa cermati, apa yang diperdebatkan selama ini adalah perbedaan pola pikir dan perbedaan penafsiran masing-masing terhadap Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014," jelasnya.
Piyu menambahkan bahwa perbedaan penafsiran ini membuat kedua belah pihak, khususnya para musisi di tanah air merasa benar dengan pandangan masing-masing.
Sehingga tidak ada titik temu dan akhirnya menimbulkan polemik berkepanjangan, setelah adanya kasus tersebut.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya pemahaman yang benar mengenai izin dan royalti dalam penggunaan karya cipta.
"Yang harus kita pahami adalah izin dan royalti adalah hal yang berbeda," tegasnya.
"Jadi, ketika seorang pelaku pertunjukan ingin mengadakan atau menyanyikan lagu dari seorang pencipta, mereka harus mendapatkan izin atau lisensi. Hal ini sayangnya tidak pernah dilakukan di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun," tegas Piyu.
Sekedar informasi, Ari Bias menggugat Agnez Mo karena merasa tidak ada izin dari Agnez untuk membawakan lagu Bilang Aja di tiga konser berbeda.
Pengadilan pun memenangkan gugatan perdata Ari Bias dan menghukum denda ganti rugi Rp 1.5 miliar ke Agnez Mo.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.