MUI Perluas Pemantauan Siaran Ramadan, Tak Hanya TV, Kini Media Sosial Juga Diawasi
Memasuki bulan suci ramadan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperluas pemantauan siaran ramadan. Kini tidak hanya televisi tetapi juga media sosial.
Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Anita K Wardhani

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Memasuki bulan suci ramadan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperluas pemantauan siaran ramadan. Kini tidak hanya televisi tetapi juga media sosial (medsos).
Pihaknya menilai, media sosial memiliki pengaruh yang semakin kuat dalam amplifikasi narasi keagamaan, termasuk siaran Ramadhan.
Baca juga: Waketum MUI KH Marsudi Syuhud: Saling Memberi di Antara Umat Beragama jadi Kunci Persatuan
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Infokom Asrori S Karni memaparkan, kriteria media sosial dan mekanisme pemantauan lebih lanjut sedang dimatangkan oleh Pokja Media Watch Komisi Infokom.
"Pemantauan siaran Ramadan 1446 H akan melibatkan MUI daerah dan beberapa kampus UIN sebagai tim pemantau siaran Ramadan," ujar Asrori kepada wartawan di Jakarta, Selasa (18/2/2025).
Pihaknya akan memperluas kolaborasi pemantauan ini dengan MUI provinsi dan beberapa perguruan tinggi UIN.
Pemantauan ini dimaksudkan agar siaran Ramadan bisa mematuhi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) serta mematuhi beberapa fatwa MUI.
Fatwa tersebut, antara lain bermuamalah di media sosial, antipornografi, narasi publik sehat yang antikebencian, dan fitnah, yang sudah MUI rumuskan ke dalam standar pantauan.
MUI memotivasi dan membangkitkan moral industri televisi di era disrupsi atau digital ini yang sebagian mengalami tantangan yang berat.
"MUI mendorong penguatan. Kami bisa bertukar pikiran program yang satu sisi berkualitas, satu sisi secara kesehatan perusahaan bisa menopang," tambahnya.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.