Pandangan Dian Sastrowardoyo Soal AI di Industri Kreatif, Efisien Tapi Tidak Peka
Teknologi AI saat ini sudah masuk ke banyak lini proses kreatif, terutama dalam aspek teknis yang selama ini memakan waktu panjang.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menembus berbagai sektor, termasuk industri kreatif dan perfilman.
Namun bagi aktris dan sineas Dian Sastrowardoyo, modernisasi ini justru memicu diskusi penting tentang batas etis, peran manusia, dan nilai-nilai yang tak bisa digantikan oleh mesin.
Dian menilai teknologi AI saat ini sudah masuk ke banyak lini proses kreatif, terutama dalam aspek teknis yang selama ini memakan waktu panjang.
“AI itu banyak mempercepat proses. Yang sebelumnya manual, dia jadi mempercepat proses grading. Tapi kita tuh bisa membedakan," ujar Dian dalam acara Demo Day Perempuan Inovasi 2025 “Menjadi Changemaker di Era AI: Kekuatan Perempuan dalam Transformasi Profesi” di Jakarta Pusat, Rabu (10/12/2025).
Baca juga: Dian Sastrowardoyo Ungkap Rasa Syukur Bisa Rayakan Ultah ke-43 Tepat di Malam Nuzulul Quran
Baca juga: Dian Sastrowardoyo Akui Daftar Gadis Sampul untuk Obati Kesepian
Menurut Dian, meski AI menawarkan efisiensi, penggunaan tanpa kendali justru bisa mereduksi esensi manusia dalam berkarya.
Ia menilai ada karya-karya yang kini dipertanyakan keasliannya karena terlalu bergantung pada pembangkitan konten oleh mesin.
Ia mencontohkan munculnya kritik terhadap film-film yang ceritanya dihasilkan sepenuhnya oleh AI.
Pola yang digunakan mesin sering kali meniru struktur film-film sukses sebelumnya, sehingga menghasilkan karya dengan kemiripan tinggi dan minim sentuhan manusia.
“Dia bisa bikin karena baca pola film-film sukses, lalu generate sesuatu yang mirip,” ujarnya.
Perempuan Dinilai Punya Peran Besar Mengarahkan Penggunaan AI
Dian percaya bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam mengarahkan perkembangan AI ke arah yang lebih bijak.
Kepekaan emosional dan kemampuan membaca konteks dinilai menjadi modal penting di tengah risiko penyalahgunaan teknologi.
Ia menekankan bahwa diskusi mengenai AI bukan hanya soal teknis, tetapi juga tentang keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan.
Khususnya bagi perempuan yang melek teknologi, ia berharap diskusi-diskusi tentang dampak AI dapat semakin luas.
“Karena takutnya manusia-manusia lain tidak memiliki kepekaan itu untuk bisa memimpin penggunaan AI,” kata Dian.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan