LSF Perbarui Tampilan Peringatan Usia Film Mulai 2026 Gantikan Telop Tahi Lalats
Telop dikemas ulang melalui serangkaian proses kreatif ini melibatkan empat IP (Intellectual Property) lokal yang sudah cukup dikenal masyarakat.
Penulis:
M Alivio Mubarak Junior
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Telop-telop yang diluncurkan akan menggantikan telop Tahi Lalats yang telah menemani masyarakat selama bertahun-tahun
- Penyegaran dengan menggunakan IP lokal dan menyesuaikannya dengan klasifikasi usia penonton
- Untuk meningkatkan literasi film, LSF turut menayangkan iklan sensor mandiri di ruang publik
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lembaga Sensor Film (LSF) mulai 1 Januari 2026 memberlakukan penggunaan telop baru sebagai informasi klasifikasi usia pada film bioskop, yang disesuaikan kembali menjadi empat kategori usia penonton.
Telop yang dikemas ulang melalui serangkaian proses kreatif ini melibatkan empat IP (Intellectual Property) lokal yang sudah cukup dikenal masyarakat.
Keempat IP tersebut adalah karakter Funcican (untuk klasifikasi usia Semua Umur), Si Nopal (untuk klasifikasi usia R13), Emak-Emak Matic (untuk klasifikasi usia D17), dan Si Juki (untuk klasifikasi usia D21).
"Telop-telop yang diluncurkan akan menggantikan telop Tahi Lalats yang telah menemani masyarakat selama bertahun-tahun," kata Ketua LSF, Naswardi, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/12/2025).
Baca juga: Penjelasan LSF Soal Penayangan Film Merah Putih One For All
Penyegaran dengan menggunakan IP lokal dan menyesuaikannya dengan klasifikasi usia penonton merupakan upaya untuk memperkuat pemahaman masyarakat terkait batasan tontonan.
Selain itu, LSF juga memperkenalkan maskot baru berupa badak Jawa betina bernama Mama Culla, akronim dari MAsyarakat sensor MAndiri: Sadar dan Cerdas Untuk MemiLah-MemiLih Film sesuai Klasifikasi UsiA.
Suara Mama Culla diisi oleh Nikita Willy, dipilih karena dikenal sebagai aktris dan publik figur ibu dengan citra parenting yang baik di mata masyarakat.
Karakter Mama Culla digambarkan sebagai sosok ibu milenial (generasi Y) yang dekat dengan keseharian masyarakat, khususnya para orangtua muda, untuk mengingatkan pentingnya memilih tontonan sesuai usia.
Melalui telop dan maskot baru ini, Naswardi berharap para orangtua tidak lagi mengajak anak menonton film sembarangan yang tidak sesuai dengan batasan usia.
"Kita ingin penonton akan lebih terhibur ya, lebih menikmati film-film Indonesia dengan hadirnya maskot baru, kemudian telop sebagai informasi klasifikasi usia," ujar Naswardi.
"Dan harapannya adalah dengan adanya telop sebagai informasi klasifikasi usia ini, tidak ada lagi ibu-ibu, bapak-bapak, orang dewasa yang membawa anak ke bioskop tapi menontonnya film horor dewasa 21 atau 17," lanjutnya.
Naswardi menambahkan, pihaknya bersama Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) juga tengah gencar membangun Gerakan Bioskop Sadar Sensor Mandiri.
Untuk meningkatkan literasi film, LSF turut menayangkan iklan sensor mandiri di ruang publik seperti fasilitas transportasi umum, platform OTT, media sosial, serta berbagai media lain agar lebih mudah diakses masyarakat.
"Nah dengan iklan layanan masyarakat ini kita ingin tidak hanya terbatas untuk bioskop, tetapi juga ruang publik dengan materi literasi yang berkaitan dengan peningkatan kualitas indeks tontonan. Harapannya, apresiasi masyarakat terhadap film nasional semakin meningkat dan kepatuhan masyarakat terhadap budaya menonton sesuai usia juga meninggi," pungkasnya.
(Tribunnews.com/ M Alivio Mubarak Junior)