Pengakuan Doktif Tolak Tawaran Uang Damai Rp5 Miliar Diduga dari Richard Lee
Doktif mengaku pernah mendapat tawaran uang sebesar Rp5 miliar yang diduga berasal dari Richard Lee.
Penulis:
Fauzi Nur Alamsyah
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fauzi Alamsyah
Ringkasan Berita:
- Doktif mengaku pernah mendapat tawaran uang damai sebesar Rp5 miliar yang diduga berasal dari Richard Lee.
- Tawaran tersebut dengan tegas ditolak.
- Doktif menegaskan bahwa upaya-upaya damai bukan kali pertama dilakukan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dokter kecantikan Samira Farahnaz atau Dokter Detektif (Doktif) mengaku pernah mendapat tawaran uang sebesar Rp5 miliar yang diduga berasal dari Richard Lee.
Baca juga: Doktif Berencana Buat Laporan terhadap Richard Lee Terkait Dugaan Rolls Royce Bernopol Palsu
Tawaran tersebut dengan tegas ditolak karena dinilai tidak menyentuh substansi persoalan yang merugikan masyarakat.
Doktif menegaskan, dirinya tidak akan pernah menerima uang damai secara diam-diam di belakang publik.
“Uang yang kamu tawarkan sebesar Rp5 miliar ke Doktif itu tidak akan Doktif terima. Kembalikan ratusan miliar uang masyarakat yang sudah kamu ambil. Itu persyaratan damai,” tegas Doktif di Polda Metro Jaya, Senin (19/1/2026).
Baca juga: Richard Lee Batal Diperiksa Hari Ini, Doktif Singgung Kondisi Kesehatan Seterunya: Itu Adalah Azab
Ia juga meminta agar setiap pertemuan dilakukan secara terbuka di hadapan media.
“Kalau kamu ingin ketemu Doktif, di depan jurnalis. Kalau mau berdamai, fair saja. Berapa kerugian masyarakat, kembalikan uang mereka. Itu baru kita damai. Jangan ajak damai Doktif di belakang,” lanjutnya.
Saat ditanya awak media terkait kapan tawaran Rp5 miliar tersebut disampaikan dan alasan penolakan, Doktif memilih tidak mengungkap waktu kejadian secara rinci.
Bukan Tawaran Pertama
Doktif menegaskan bahwa upaya-upaya damai bukan kali pertama dilakukan.
“Pokoknya intinya ada ya hal-hal seperti itu. Untuk kapannya tidak perlu Doktif jelaskan secara detail di sini. Yang jelas usaha itu ada dan sering dilakukan, sering diupayakan tetapi selalu gagal,” ujarnya.
“Dari awal melalui Dokter Oky selalu ingin bertemu sampai menawarkan bahwa beliau siap untuk digeledah, diperiksa. Tapi maaf, bukan caranya Doktif bertemu secara sembunyi-sembunyi dan memberikan dana di belakang,” lanjut Doktif.
Lebih jauh, Doktif menegaskan tujuannya bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan untuk memberikan efek jera agar tidak ada lagi oknum dokter yang menyalahgunakan profesinya demi keuntungan pribadi.
“Tujuan Doktif satu, jangan ada lagi oknum dengan profesi dokter mengambil uang masyarakat awam seenak mereka, seolah-olah kebal hukum. Enggak ada yang kebal hukum, meskipun kamu itu dokter,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan agar profesi dokter dijalankan sesuai etika, termasuk dalam aktivitas bisnis.
“Menjadi dokter itu boleh berjualan, tapi bukan dengan cita-cita menjadi dokter terkaya se Indonesia. Itu menyakiti. Menyakiti kita sebagai dokter,” pungkas Doktif.