Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Seleb
LIVE ●

Buntut Broken Strings Viral, Aurelie Moeremans Akui Ditawari Podcast Deddy Corbuzier hingga Densu

Buntut viralnya buku Broken Strings, aktris Aurelie Moeremans mengaku ditawari untuk menjadi bintang tamu podcast Deddy Corbuzier dan Denny Sumargo.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Buntut Broken Strings Viral, Aurelie Moeremans Akui Ditawari Podcast Deddy Corbuzier hingga Densu
Wartakotalive.com/Arie Puji Waluyo
BROKEN STRINGS VIRAL - Aurelie Moeremans ketika ditemui di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (18/3/2022). Buntut viralnya buku Broken Strings, Aurelie Moeremans mengaku banjir tawaran podcast. 
Ringkasan Berita:

TRIBUNNEWS.COM - Memoar terbaru Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Buku Broken Strings viral di media sosial pada awal 2026 karena mengangkat pengalaman pribadi Aurelie saat berusia 15 tahun.

Dalam buku tersebut, Aurelie Moeremans menceritakan bagaimana dirinya menjadi korban child grooming.

Child grooming merupakan teknik yang dilakukan orang dewasa untuk memanipulasi pikiran anak. Tujuannya untuk mengeksploitasi atau melecehkan anak secara seksual. 

Buntut viralnya buku Broken Strings, Aurelie mengaku banjir tawaran podcast hingga wawancara.

Pemilik nama asli Aurelie Alida Marie Moeremans ini bahkan ditawari untuk menjadi bintang tamu podcast Deddy Corbuzier dan Denny Sumargo.

Meski begitu, ia memilih menolak tawaran menjadi bintang tamu podcast tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

"Sebenarnya banyak banget request untuk wawancara video lewat zoom atau podcast-podcast kayak Om Deddy, Bang Densu gitu," kata Aurelie Moeremans, dikutip dari YouTube Aurelie Moeremans, Minggu (25/1/2026).

"Cuma aku memilih untuk menahan diri ya," sambungnya.

Bukan tanpa alasan, diakui Aurelie, ia tak ingin terus menerus membahas masa lalu remajanya yang kelam.

"Enggak pengin gitu ngebahas soal detail-detail pengalaman aku yang dulu," ucap Aurelie.

Baca juga: Roby Tremonti Nyinyir Sebut Aurelie Moeremans Kelewat Pintar Menulis Buku, Ngamuk Dihujat Netizen

"Soalnya kan aku nulis buku ini kan buat let go of my past gitu, bukan biar kepikiran terus. Kalau aku ngebahas terus kan jadinya kepikiran, kebawa mimpi," sambungnya.

Terlebih, aktris kelahiran Brussel, Belgia, 8 Agustus 1993 ini mengatakan kejadian yang dialaminya saat remaja aslinya lebih mengerikan daripada yang ia tulis di buku Broken Strings.

"Orang-orang terdekat aku tuh sebenarnya tahu kalau sebenarnya tuh di buku ini aku enggak nulis semua ya," terang Aurelie Moeremans.

"Soalnya kan kejadiannya selama empat tahun ya. Enggak mungkin semuanya aku tulis. Cuma kenyataannya tuh ceritanya lebih ekstrem lah, lebih absurd," lanjutnya.

Psikolog Soroti Pengakuan Aurelie Moeremans soal Child Grooming

Di balik viralnya kisah Aurelie, psikolog Joice Manurung membongkar motif pelaku child grooming dari sisi psikolog.

Hal ini diungkapkan saat Joice menjadi bintang tamu di acara Rumpi Trans TV.

Joice menjelaskan bahwa motif di balik praktik child grooming berakar pada kebutuhan tertentu dari pelaku.

Karena dorongan tersebut, pelaku kemudian melakukan manipulasi psikologis terhadap anak serta keluarga anak tersebut.

"Sebenarnya apa motif dari child grooming ini didasari oleh sebuah kebutuhan dari si pelaku," ujar Joice, dikutip Tribunnews, Selasa (13/1/2026). 

"Sehingga yang bersangkutan melakukan manipulasi psikologis kepada anak dan keluarga anak," lanjutnya.

Joice menekankan bahwa tindakan pelaku bersifat terencana dan sistematis.

"Pelaku ini sudah melakukan sebuah situasi atau kondisi yang sudah direncanakan," katanya.

"Jadi pelaku itu terencana dan sistematis," tambahnya lagi.

Lebih lanjut, Joice menyoroti sifat pelaku yang tersembunyi, dan terselubung.

Menurutnya, pelaku biasanya mendekati korban dengan cara yang tampak wajar untuk membangun kepercayaan.

Setelah ikatan emosional terbentuk, pelaku secara bertahap melakukan manipulasi hingga berujung pada eksploitasi seksual.

"Jadi anak dan keluarga tidak menunjukkan prediksi bahwa ini akan muncul gelagat-gelagat kejahatan," jelas Joice.

"Kalau itu sudah terjadi maka si pelaku mendapatkan dua hal, yang pertama kepercayaan korban dan keluarga, yang kedua control atau kendali," pungkasnya.

Baca juga: Komnas Perempuan Apresiasi Aurelie Moeremans Ungkap Child Grooming, Dukung Korban Cari Perlindungan

(Tribunnews.com/Indah Aprilin/ Rinanda) 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas