Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Seleb
LIVE ●

41 Persen Kematian Dengue Terjadi pada Anak, Kemenkes Soroti Keterlambatan Penanganan

Demam sering dianggap penyakit ringan, sehingga anak baru dibawa ke fasilitas kesehatan ketika kondisi memburuk dan komplikasi mulai terjadi.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in 41 Persen Kematian Dengue Terjadi pada Anak, Kemenkes Soroti Keterlambatan Penanganan
Freepik
ILUSTRASI. 

Ringkasan Berita:
  • Sekira 41 persen kematian dengue terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, menjadikan anak-anak sebagai kelompok dengan risiko fatalitas tertinggi
  • Banyak kasus kematian anak terjadi karena orang tua tidak mengenali tanda bahaya dengue sejak awal
  • Kemenkes menilai edukasi keluarga, khususnya ibu, menjadi kunci utama pencegahan kematian anak akibat dengue

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan meninggal akibat dengue, terutama karena keterlambatan penanganan di fase awal penyakit.

Data Kemenkes menunjukkan sekira 41 persen kematian dengue terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, menjadikan anak-anak sebagai kelompok dengan risiko fatalitas tertinggi.

"Tapi kalau bicara kematian akibat dangue, ternyata 41 persen itu pada umur 5-14 tahun,"ungkapnya dalam Media Briefing “Musim Hujan, Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa” yang diselenggarakan Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dan Kemenkes di Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).

Baca juga: Klaim BPJS Penyakit Dengue Tembus Rp 3 Triliun, Kemenkes Soroti Pentingnya Pencegahan

Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor Zoonotik Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun dari Kementerian Kesehatan RI, dr Fadjar SM Silalahi, menyebutkan bahwa keterlambatan pengenalan gejala menjadi faktor utama.

“Kematian paling banyak adalah karena keterlambatan,” imbuhnya. 

Anak Datang ke Faskes Saat Kondisi Sudah Berat

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Kemenkes, banyak kasus kematian anak terjadi karena orang tua tidak mengenali tanda bahaya dengue sejak awal.

Demam sering dianggap sebagai penyakit ringan, sehingga anak baru dibawa ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah memburuk dan komplikasi mulai terjadi.

Kondisi ini membuat penanganan menjadi lebih sulit dan meningkatkan risiko kematian, meski layanan kesehatan saat ini relatif lebih tersedia dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Zero Death 2030 Masih Tantangan Besar

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menargetkan nol kematian akibat dengue pada 2030. 

Namun, dengan lebih dari 1.400 kematian di Indonesia pada 2024 dan ratusan kematian masih terjadi pada 2025, target tersebut dinilai masih menjadi tantangan besar.

Dr Fadjar menekankan bahwa angka persentase kematian yang terlihat kecil tetap berarti kehilangan nyawa dalam jumlah besar.

“Tahun 2024, 1.400 itu banyak, itu nyawa,” katanya.

Kemenkes menilai edukasi keluarga, khususnya ibu, menjadi kunci utama pencegahan kematian anak akibat dengue. 

Peran keluarga dinilai krusial dalam mengenali gejala awal dan mengambil keputusan cepat untuk mencari pertolongan medis.

Kemenkes mendorong media untuk terus mengangkat isu dengue sebagai pengingat bahwa penyakit ini hadir setiap hari dan tetap menjadi ancaman serius bagi anak-anak Indonesia.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas