Program MBG di Sekolah Dinilai Bukan Solusi Utama Stunting, Ini Penjelasan Ahli
Periode krusial dalam mencegah stunting adalah sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Intervensi melewati usia tersebut kurang efektif.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Stunting tidak hanya dipengaruhi faktor kesehatan, tetapi juga banyak faktor lain di luar sektor tersebut
- Periode paling krusial dalam mencegah stunting adalah sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun
- Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi berdampak jangka panjang pada kualitas hidup seseorang
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program makan bergizi gratis (MBG) di sekolah belakangan menjadi sorotan, terutama dalam kaitannya dengan upaya menekan angka stunting di Indonesia.
Namun, dokter, peneliti Global Health Security, dan pakar epidemiologi Dr. Dicky Budiman, B.Med., MD., MScPH., Ph.D Dicky Budiman menegaskan bahwa program tersebut bukanlah solusi utama untuk mengatasi stunting, meski tetap memiliki manfaat.
Menurutnya, penting bagi masyarakat memahami apa itu stunting dan kapan intervensi paling efektif dilakukan.
“Sekali lagi bicara stunting itu adalah gangguan pertumbuhan linier akibat kekurangan gizi kronis dan juga akibat infeksi berulang,” jelas Dicky pada Tribunnews, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Kebijakan Baru BGN, MBG Diberikan 5 Hari Kecuali di Daerah 3T dan Rawan Stunting Tetap 6 Hari
Ia menambahkan bahwa stunting tidak hanya dipengaruhi faktor kesehatan, tetapi juga banyak faktor lain di luar sektor tersebut.
“Dan penyebab lainnya yang menyebabkan terjadinya kejadian stunting juga bahkan 60 persen di luar sektor kesehatan,” lanjutnya.
Fokus Pencegahan Ada di 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Dicky menegaskan bahwa periode paling krusial dalam mencegah stunting adalah sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
“Stunting ini terjadi terutama pada seribu hari pertama kehidupan atau disingkat HPK,” ungkapnya.
Artinya, intervensi setelah anak melewati usia tersebut menjadi kurang efektif.
“Fakta pentingnya dalam konteks stunting ini adalah bahwa intervensi setelah usia 2 tahun, itu sudah lewat seribu tahun pertama kehidupan kan, itu efektivitas intervensinya akan sangat terbatas,” tegasnya.
Hal inilah yang menjadi dasar kritik terhadap program makan di sekolah jika dijadikan strategi utama penanganan stunting.
Risiko Salah Sasaran Intervensi
Menurut Dicky, program makan di sekolah lebih tepat disebut sebagai upaya peningkatan status gizi umum, bukan intervensi spesifik stunting.
“Program makan di sekolah ini memang penting, ya iya. Tapi bukan titik utama pencegahan stunting,” katanya.
Ia menilai ada potensi ketidaktepatan sasaran dalam kebijakan tersebut.
“Yang menjadi masalah adalah, kritik saya, ini ada risiko salah sasaran intervensi. Karena ada potensi misalignment epidemiologis,” jelasnya.
Pasalnya, anak usia sekolah umumnya sudah melewati fase kritis stunting.
“Karena masalah utamanya adalah anak sekolah itu kan umumnya kan sudah lebih dari 6 tahun. Itu sudah melewati fase kritis stunting,” ujarnya.
Dampak Stunting Tidak Main-main
Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi berdampak jangka panjang pada kualitas hidup seseorang.
“Penurunan kapasitas kognitif artinya intelektual sekepintarannya berkurang, ya tidak pintar jelas,” kata Dicky.
Selain itu, risiko penyakit juga meningkat saat anak tumbuh dewasa.
“Dan kemudian ada risiko penyakit tidak menular dan meningkat ketika dia beranjak remaja atau dewasa. Misalnya penyakit diabetes, hipertensi dan lain sebagainya,” lanjutnya.
Kondisi ini juga berdampak pada produktivitas ekonomi.
“Termasuk artinya produktivitas ekonomi rendah,” ujarnya.
Bukan Tidak Bermanfaat, Tapi Perlu Diluruskan
Meski demikian, Dicky tidak menolak sepenuhnya program makan bergizi di sekolah.
“Bukan berarti program ini tidak akan punya manfaat sama sekali. Ada ya, ada manfaat yang bisa diambil ya dari program makan selama 6 hari di 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) ini,” jelasnya.
Manfaat tersebut antara lain membantu mengurangi kelaparan akut dan ketimpangan akses pangan.
“Yaitu dia bisa mengurangi kelaparan akut pada anak sekolah. Ketimpangan akses pangan juga bisa. Termasuk mengurangi beban ekonomi keluarga,” ujarnya.
Namun ia kembali menegaskan bahwa dampaknya tidak langsung pada stunting.
“Tapi nggak ada ke arah stuntingnya sebetulnya ya,” tegasnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.