Tribun Sport

Olimpade 2012

Mohammad Ahsan Ingin Tetap Puasa Selama Olimpiade

Mohammad Ahsan menatap Olimpiade 2012 dengan sedikit bingung.

Mohammad Ahsan Ingin Tetap Puasa Selama Olimpiade
zimbio
Mohammad Ahsan/Bona Septano 

TRIBUNNEWS.COM - Mohammad Ahsan menatap Olimpiade 2012 dengan sedikit bingung. Pebulutangkis ganda putra yang berpasangan dengan Bona Septano ini belum mengambil keputusan apakah akan tetap berpuasa atau tidak saat gelaran Olimpiade London 2012, yang berlangsung saat bulan Ramadan.

Olimpiade dibuka pada 27 Juli sampai 12 Agustus. Pada saat itu, umat muslim di seluruh dunia berpuasa di bulan Ramadan selama sebulan penuh. Momen setahun sekali ini merupakan saat sangat istimewa, suci, dan penuh berkah bagi umat muslim, dan karenanya sangat disayangkan jika harus melewatkan momen penyucian diri tersebut.

Dilema tersebut dialami pula oleh Mohammad Ahsan. Pria kelahiran Palembang 9 Juli 1987 ini. Ia menyebutkan dirinya akan melihat jadwal latihan terlebih dulu, sebelum memutuskan untuk berpuasa, atau tidak. Yang pasti, katanya, kalau latihannya berlangsung malam hari, maka dirinya akan berpuasa.

"Saya belum tahu akan menjalani ibadah puasa atau tidak, lihat jadwal latihan dulu. Kalau latihan di malam hari maka saya akan puasa," katanya kepada Tribunnews beberapa waktu lalu.

Pihak penyelenggara Olimpiade London 2012 sendiri kabarnya akan menyiapkan beberapa fasilitas tambahan khususnya bagi kaum Muslim selama Ramadan. Di antaranya dengan menyediakan makanan sahur dan makanan berbuka di setiap tempat pertandingan.

Kuasa Usaha Kedutaan Inggris untuk Indonesia, Rebecca Razavi, mengatakan, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan warga Muslim di Inggris untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan bulan Ramadhan bagi atlet dan delegasi yang beragama Islam.

"Kami akan mempersiapkan berbagai fasilitas selama bulan Ramadhan, serta juga akan mempersiapkan ulama dan imam bagi pemeluk agama Islam," tambah Razavi.

Ahsan yang bersama Bona menempati peringkat enam dunia ini memberi apresiasi pada kebijakan International Olympic Committee (IOC) yang memberikan kemudahan fasilitas bagi atlet muslim yang sekiranya bakal tetap berpuasa.

"Kebijakan itu sangat bagus dan memudahkan bagi umat islam untuk dapat beribadah. Sebab tidak perlu jauh-jauh keluar dari perkampungan atlet,"ujarnya lagi.

Ahsan pastinya tak sendirian mengalami dilema tetap berpuasa atau tidak saat Ramadan di London nanti. Sejumlah atlet muslim dari berbagai negara yang berkiprah di olimpiade juga mengalami masalah serupa.

Taekwondoin Afghanistan, Nesar Ahmad Bahawi misalnya, yang memutuskan untuk menunda puasa. Bahawi mendapat peringkat ketujuh di kelasnya pada Olimpiade 2008. Ia memenangkan medali perak pada Kejuaraan Dunia Taekwondo 2007 dan Asian Games 2010. Ia mengatakan akan menunda puasanya.

"Kompetisi ini sangat penting. Setiap atlet pasti bermimpi untuk mendapat medali Olimpiade. Untuk itu, kita seharusnya tidak berpuasa. Kita berlatih setiap hari. Pada siang hari ketika ada perlombaan, sangat mustahil berpuasa karena paling tidak kita harus minum," kata Bahawi.

"Tapi kita dapat mengganti puasa di lain waktu dengan jumlah hari yang sama dengan hari kita tidak berpuasa selama Ramadan," katanya dikutip dari AP.

Demikian juga dengan Mo Sbihi. Atlet dayung Muslim pertama untuk Inggris pada Olimpiade nanti, mengatakan akan menunda puasanya sampai November. Atlet berusia 24 tahun tersebut menganggap Olimpiade merupakan "kesempatan sekali seumur hidup" untuk seluruh anggota timnya, dan akan sangat berisiko jika berpuasa selama kompetisi.

Sementara, Bahaa al-Farra, atlet lari berusia 20 tahun dari Gaza City, mendapatkan izin dari seorang cendekiawan Muslim untuk tidak berpuasa selama menjalani pelatihan dan kompetisi. Farra juga akan mengganti puasanya kemudian. (Tribunnews/den)

Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas