Tersingkir dari Thomas Cup 2026, Indonesia Disebut Main Tanpa Semangat saat Kalah dari Prancis
Bukan cuma kalah, Indonesia dinilai tampil tanpa “api” saat dipaksa angkat koper oleh Prancis. Apa yang sebenarnya terjadi di balik performa lesu ini?
Penulis:
Arif Tio Buqi Abdulah
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Indonesia tersingkir dari Thomas Cup 2026 setelah kalah 1-4 dari Prancis dengan performa yang dinilai jauh dari standar.
- Sejak awal laga, para pemain Indonesia terlihat kehilangan energi dan gagal menjaga momentum di momen krusial.
- Sebaliknya, Prancis tampil penuh semangat kolektif dan justru mendominasi hingga menciptakan kemenangan mengejutkan.
TRIBUNNEWS.COM - Kekalahan telak 4-1 tim putra Indonesia dari Prancis di ajang Thomas Cup 2026 menyisakan sorotan tajam.
Mentalitas para pemain yang tampil menjadi sasaran 'tembak', dinilai jauh dari performa yang ditunjukkan biasanya.
Hasil akhir 4-1 untuk Prancis bukan hanya kejutan besar, tetapi juga alarm bagi Indonesia.
Tim dengan tradisi 14 gelar Thomas Cup itu seperti kehilangan identitasnya di laga krusial.
Bukan karena kalah kualitas semata, melainkan karena kalah dalam hal energi, mental, dan semangat bertanding.
Sebaliknya, Prancis tampil sebagai satu kesatuan tim yang solid. Dukungan antar pemain, baik yang bertanding maupun di bangku cadangan, menciptakan energi besar yang terus mengalir sepanjang laga.
Hal ini diakui langsung oleh kubu Prancis, yang menilai kemenangan ini bukan sekadar soal teknik, tetapi juga kekuatan kolektif dan semangat tim.
Baca juga: Kegagalan Indonesia Lolos Perempat Final Thomas Cup 2026 Bak Dejavu Kenangan Pahit Sudirman Cup 2021
Christo Popov yang tampil di dua laga dan menyumbang kemenangan pertama menyebut, para pemain Indonesia bermain tidak dengan rasa semangat tinggi.
"Mereka yang bermain, tidak bermain dengan benar-benar bersemangat. Saya pikir mereka juga memberi kami banyak energi, terutama pada momen-momen penting," kata Christo, dikutip dari laman BWF.
"Seperti akhir pertandingan pertama bagi saya dan pertandingannya (Toma) yang luar biasa melawan Anthony Ginting. Katakanlah itu adalah pertandingan tim yang sangat besar, dan kami sangat bangga dan senang memenangkannya bersama," lanjutnya.
Satu-satunya kemenangan dari Indonesia disumbang melalui partai terakhir dari pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.
Empat partai pertama sebelumnya, wakil Indonesia kalah, dimulai dari tiga tunggal putra secara beruntun.
Jonatan Christie sebenarnya membuka laga dengan cukup baik, bahkan sempat bersaing ketat di gim pertama melawan Christo Popov.
Namun, performanya menurun drastis di gim kedua, seolah kehabisan tenaga dan fokus.
Situasi semakin memburuk ketika Alwi Farhan gagal mengimbangi permainan agresif Alex Lanier.
Berbeda dengan laga sebelumnya, Lanier justru tampil penuh energi dan percaya diri, sementara Alwi terlihat kesulitan keluar dari tekanan.
Kekalahan itu membuat Indonesia semakin tertekan karena Prancis unggul 2-0 dan mulai membangun momentum besar.
Harapan sempat muncul dari Anthony Sinisuka Ginting yang memberi perlawanan sengit kepada Toma Junior Popov.
Namun, momen krusial saat Ginting terjatuh di gim penentuan menjadi titik balik.
Permainannya kehilangan agresivitas, dan match point yang sudah di depan mata pun melayang.
Kekalahan ini terasa menyakitkan karena Indonesia sebenarnya punya peluang membalikkan keadaan.
Baca juga: Permintaan Maaf Sabar/Reza usai Gagal Bawa Indonesia Lolos Perempat Final Thomas Cup 2026
Di sektor ganda, yang selama ini menjadi andalan, justru tak mampu menyelamatkan situasi.
Pasangan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani—yang secara ranking jauh di atas duet Eloi Adam / Leo Rossi—justru tampil di bawah tekanan.
Sebelum pertemuan itu, Sabar/Reza sebenarnya punya catatan dua kemenangan atas Leo/Eloi.
Namun dalam partai yang menentukan, Sabar/Reza justru terlihat terburu-buru, banyak melakukan kesalahan sendiri, dan gagal mengontrol permainan.
Servis terakhir yang menyangkut di net menjadi simbol bagaimana Indonesia kehilangan ketenangan di momen penting.
"Kami lebih dari bangga," kata Toma Junior Popov.
"Leo dan Eloi menunjukkan itu di aula ini. Mereka mampu melakukan hal-hal yang luar biasa," kata dia.
Saudaranya, Christo Popov dengan jujur mengakui, mengalahkan Indonesia adalah sesuatu yang sulit dibayangkan dalam beberapa tahun lalu.
"Jika Anda memberi tahu saya 2, 3, 4, tahun yang lalu, bahwa kami mengalahkan Indonesia, itu semacam – siapa yang akan memenangkan pertandingan, Anda tahu?" kata saudaranya Christo.
"Tapi ya, saya pikir hari ini kami hanya menunjukkan dengan jujur apa yang kami mampu lakukan sebagai sebuah tim.
"Saya pikir kami tidak hanya memenangkan pertandingan demi pertandingan, tetapi kami menang sebagai tim hari ini," terangnya.
Kekalahan ini bak menjadi catatn kelam bagi bulu tangkis Indonesia karena untuk pertama kalinya gagal lolos dari fase grup Thomas Cup.
Sementara Prancis sendiri lolos ke perempat final dan menjaga harapan mengukris prestasi yang lebih besar setelah sebelumnya menjadi juara di Kejuaraan Beregu Eropa.
(Tribunnews.com/Tio)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.