Dortmund vs Muenchen: Tergantung Para Bomber
Kunci meraih kemenangan adalah mencetak gol sebanyak mungkin.
Penulis:
Deodatus Pradipto
Editor:
Ravianto
TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Kunci meraih kemenangan adalah mencetak gol sebanyak mungkin. Hasil akhir final Liga Champions antara Bayern Muenchen melawan Borussia Dortmund di Wembley, Minggu (26/5) dinihari, sangat ditentukan oleh ketajaman bomber-bomber seperti Mario Mandzukic dan Robert Lewandowski dalam menjebol gawang lawan.
Jupp Heynckes dan Juergen Klopp sama-sama menerapakan formasi populer, 4-2-3-1. Keduanya sama-sama mengandalkan seorang striker menjadi ujung tombak tim. Di Muenchen Mandzukic menjadi andalan mengemban tugas mulia itu, sementara Lewandowski di kubu Dortmund.
Mandzukic dan Lewandowski memiliki sejumlah kesamaan. Keduanya tidak hanya penuntas serangan handal, mereka tidak pernah sungkan untuk turun membantu pertahanan. Baik Mandzukic maupun Lewandowski kerap dipuji berkat komitmen mereka kepada tim.
Keduanya juga termasuk memiliki postur kekar. Tapi tidak seperti pemain-pemain berpostur besar lainnya, Mandzukic dan Lewandowski memiliki stamina bagus, kecepatan, dan teknik yang mumpuni.
Fisik yang bagus membuat keduanya tidak takut untuk beradu fisik dengan bek-bek lawan yang mutlak berpostur besar. Postur kekar mereka membuat para bek sulit melakukan intercept ketika sedang memegang bola.
"Saya senang Robert satu tim dengan saya karena bertahan melawan dia mungkin adalah tugas tersulit yang bisa saya bayangkan," kata bek Dortmund, Mats Hummels.
Sesama pemakai nomor punggung 9 itu juga lihai dalam duel di udara, meskipun kontra bek-bek jangkung. Keduanya memiliki timing bagus dan cerdik memanfaatkan postur mereka sehingga kerap mengacaukan pertahanan lawan dengan tandukan dan sontekan.
Mandzukic yang berpostur 186 cm memang lebih baik dibandingkan Lewandowski dalam duel di udara. Mantan pemain Dinamo Zagreb itu memiliki proporsi gol tandukan lebih baik. Namun Lewandowski memiliki kemampuan lebih baik dengan bola-bola bawah. Pemuda Polandia itu lebih lihai mengontrol umpan panjang dan menahan bola hingga rekan-rekan setim datang membantu.
"Tugas saya di sini bukan hanya mencetak gol. Saya di sini bekerja untuk tim," kata Mandzukic, yang didatangkan Muenchen dari VfL Wolfsburg dengan dana 13 juta Euro di awal musim ini.
Jika mengacu pada performa di Liga Champions musim ini, Lewandowski jauh lebih tajam dibandingkan Mandzukic. Lewandowski bahkan kini muncul sebagai bomber papan atas Eropa.
Pemain yang didatangkan dari Lech Poznan hanya dengan 4,8 juta Euro itu sudah mengemas 10 gol dan 2 assist dari 12 pertandingan. Sedangkan Mandzukic baru menyumbang dua gol dan 1 assist dari sembilan pertandingan.
"Dulu para penyerang secara mudah mencari celah dan menanti peluang datang. Sekarang saya harus turut bergerak, membantu membuka peluang untuk pemain lain," kata Lewandowski, yang empat kali menjebol gawang Real Madrid pada semifinal pertama.
Heynckes dan Klopp memang memiliki penyerang tunggal yang benar-benar bisa diandalkan. Namun Heynckes memiliki apa yang tidak dimiliki Klopp, yaitu penyerang pelapis. Ketika Mandzukic tumpul atau berhalangan, Osram masih menyimpan Mario Gomez dan Claudio Pizarro yang memiliki kualitas tidak jauh berbeda.
Gomez sudah menyumbangkan dua gol dari enam penampilan di Liga Champions musim ini, sementara Pizarro bahkan mampu mengukir empat gol dari kesempatan bermain yang sama.
Sedangkan Klopp tidak memiliki penyerang yang cukup mumpuni untuk melapis Lewandowski. Satu-satunya penyerang yang dimiliki pria 45 tahun itu selain Lewandowski adalah Julian Schieber yang baru sekali mencetak gol dari delapan penampilan di Liga Champions.