Tidak Disetujui, Tetap Pakai Nama Persegres Gresik United
"Tidak ada masalah dengan PT LI maupun PSSI, kami tetap menggunakan nama Persegres Gresik United," tegas Asroin.
Laporan Wartawan Surya,Eko Darmoko
TRIBUNNEWS.COM,GRESIK - Kendati tidak mendapat persetujuan dari PT Liga Indonesia (LI), toh kontestan Liga Super Indonesia (LSI) musim ini asal Kabupaten Gresik tetap menggunakan nama 'Persegres Gresik United'.
PT LI tidak menyetujui penggunaan nama ini karena sebelumnya sudah ada tim yang menggunakan nama 'Persegres'.
PT LI selaku operator LSI tetap mengakui klub sepakbola asal Kabupaten Gresik ini dengan nama 'Gresik United'.
Namun, meskipun demikian, toh manajemen klub ini tetap akan memakai nama Persegres Gresik United ketika mengorbit di LSI musim ini.
CEO Persegres, Asroin Widiana, menegaskan, dalam urusan nama ini ia mengaku tidak ada masalah. Timnya tetap akan menggunakan nama Persegres Gresik United.
Menurutnya, terkait penamaan ini tidak menjadi pembahasan dalam Kongres Tahunan di Hotel Shangri-La, Surabaya, Minggu (26/1) lalu. Artinya, klub asal Kota Pudak ini tetap menggunakan nama tersebut.
"Tidak ada masalah dengan PT LI maupun PSSI, kami tetap menggunakan nama Persegres Gresik United," tegas Asroin.
Selain Persegres, PSSI dan PT LI telah menerima pemberitahuan perubahan nama Arema Indonesia. Kini, tim kebanggaan Aremania itu bernama lengkap Arema Cronus Indonesia.
Namun sayang, permintaan Persegres untuk menggunakan nama Persegres dimentahkan oleh PSSI dan PT LI.
"Masalahnya, sudah ada klub yang juga tercatat sebagai anggota PSSI dengan nama Persegres. Jadi, pergantian nama Gresik United ke Persegres tak bisa kami setujui," tegas Joko Driyono, CEO PT LI sekaligus Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI.
Pergantian nama bukan barang baru di kancah sepakbola nasional.
Sriwijaya awalnya bernama Persijatim Jakarta Timur.
Sempat berganti nama jadi Persijatim Solo FC pada 2002, nama Sriwijaya FC baru dipakai pada 2004 atau setelah klub itu dibeli Provinsi Sumatera Selatan.
Kukar pun begitu. Saat lahir, Kukar bernama Niac Mitra atau Mitra Surabaya. Pada 1999 atau saat Kukar dibeli H Abdussamad Sulaiman, pendiri dan pemilik Barito Putera, nama mereka pun ganti jadi Mitra Kalteng Putra.
Pada 2003, nama Kukar baru jadi Mitra Kukar setelah Kukar pindah markas ke Kabupaten Kutai Timur. Kukar resmi jadi milik Kutai Kartanegara pada 2005.
Pelita Bandung Raya (PBR) jadi klub yang paling sering ganti nama. Mulai Pelita Mastrans (1997), Pelita Bakrie (1998-1999), Pelita Solo (2000-2002), Pelita Krakatau Steel (2002-2007), Pelita Jabar (2008-2009), dan Pelita Jaya FC (2010-2012). Baru pada 2012 nama Pelita jadi PBR setelah diakuisisi manajemen Bandung Raya.
"Sebenarnya, saat klub ingin berganti nama, mereka cukup beritahu PT LI dan PSSI. Tapi, kondisi berbeda menimpa tim asal Gresik itu.Jadi bermasalah karena nama Persegres sudah dipakai. Kami baru bisa akomodasi pergantian nama Gresik United jadi Persegres jika ada keterangan resmi dari 'Persegres'," kata Joko Driyono.
Baca tanpa iklan