Henky Timisela 'Wonder Boy' Sepakbola Indonesia
Nama Henky Timisela awam di telinga penggemar sepak bola nasional.
Penulis:
Glery Lazuardi
Editor:
Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nama Henky Timisela awam di telinga penggemar sepak bola nasional. Namun, pria berusia 76 tahun tersebut pernah mencatatkan sejarah yang membuat dirinya akan dikenang.
Henky merupakan kapten tim nasional Indonesia sewaktu meraih gelar juara Merdeka Games Kuala Lumpur 1962. Dia juga berhasil meraih predikat top scorer turnamen dengan koleksi delapan gol.
Pencapaian mengantarkan skuat Garuda meraih juara di turnamen tingkat Asia tersebut adalah satu-satunya prestasi suami dari Lenny Sahertian tersebut.
Sebab, ketika berada di puncak prestasi, pemain pada era 1959-1962 itu memilih untuk gantung sepatu dan melanjutkan pendidikan ke Faculty of Commerce Hitotsubashi University, Tokyo.
Perjalanan karier pria kelahiran Surabaya, 22 November 1937 tercantum dalam buku berjudul "Henky Timisela Wonder Boy Sepakbola Indonesia" yang ditulis oleh wartawan senior Sumohadi Marsis.
"Melalui buku ini kita semua, terutama generasi muda, akan bisa belajar banyak tidak saja mengenai sejarah sepak bola Indonesia, tapi juga perjalanan dan perjuangan dari seorang atlet dengan kualitas tinggi yang kemudian juga berhasil di bangku kuliah dan pekerjaan," tutur Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Roy Suryo, dalam acara Diskusi dan Bedah Buku di Royal Kuningan Hotel, Sabtu, (12/7/2014).
Julukan Wonder Boy disematkan kepada Henky Timisela bukan tanpa sebab. Dia mencuri perhatian internasional ketika dalam pertandingan perdana membela merah-putih, dia mencetak dua gol ke gawang RRD (Republik Demokrasi Djerman) alias Jerman Timur di Jakarta.
Stadion Ikada, 11 Februari 1959 menjadi kenangan pertama yang tak akan pernah dilupakan Henky. Dua gol tercipta dari kakinya hingga Indonesia unggul 2-0. Tetapi, timnas Indonesia tak jadi menang karena tersusul dua gol balasan RRD.
"Hati saya lebih berdebar-debar dari biasanya. Agak lebih tegang dibanding kalau bertanding untuk Persib. Menjadi salah satu dari sebelas pemain dengan kostum merah- putih, dengan lambang Garuda di dada kiri," tutur pemain yang mencetak 54 gol dari 63 penampilan membela timnas Indonesia.
Semula, Sumohadi Marsis tak menyangka bahwa yang akan ditulis adalah Henky Timisela. Dia menyangka Henky adalah Jopie Timisela, yang sudah dikenal sejak masih menjadi reporter pada tahun 1970-an.
Henky merupakan adik kandung dari Jopie. Keluarga besar Timisela mempunyai empat anak yang membela timnas Indonesia. Selain kedua orang tersebut ada, Freddy selaku kakak pertama dan Max, adik bungsu.
Sumohadi mengenang pertemuannya dengan Henky. "Saya Henky Timisela, Saya adik Jopie," kata pria penelepon itu ketika kami untuk pertama kalinya berjumpa di sebuah kafe di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
Menurut Sumohadi, selama ini masyarakat pecinta sepak bola nasional menang lebih mengenal Ramang, Maulwi Saelan, dan beberapa yang lain sebagai para pemain hebat masa lalu.
Padahal, melalui cerita, fakta dan data yang digelar Henky dengan semua dokumen pendukungnya, prestasi pemain dengan posisi inside right ini luar biasa.
"Dan setelah gantung sepatu mendapat beasiswa untuk belajar lima tahun di Jepang. Bahkan, setelah lulus dia bekerja tiga tahun pada perusahaan di Tokyo. Jarang sekali pemain timnas Indonesia mengalami jalur karier dan era gantung sepatu seperti itu," kata Sumohadi.