Ini Jeritan Hati Pemain PSIS Usai Kompetisi Dihentikan
"Saya terlanjur menggantungkan hidup pada profesi ini, jika kompetisi harus berhenti, saya kecewa berat,"
Editor:
Husein Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - Bakori Andreas terpekur begitu dengar kabar terbaru yang ia baca. Sayap kanan andalan PSIS Semarang itu masih tidak yakin, adanya kabar terakhir bahwa PSSI membubarkan kompetisi Liga Super (ISL) dan Divisi Utama 2015.
Dengan alasan force majeur, sidang Komite Eksekutif PSSI pada Sabtu (2/5) menghasilkan keputusan, semua kompetisi profesional Tanah Air distop.
"Saya terlanjur menggantungkan hidup pada profesi ini, jika kompetisi harus berhenti, saya kecewa berat," ujarnya kepada Tribun Jateng.
Anggota Exco PSSI asal Jateng, Johar Lin Eng menggunakan istilah bendera setengah tiang atas keputusan ini. Menurut Johar, PSSI kini tengah dalam ancaman sanksi dari FIFA, badan tertinggi sepakbola sejagat.
Sementara itu, manajemen Mahesa Jenar segera merancang rapat darurat untuk menyikapi hasil ini. Manajer Adi Saputro berencana memanggil seluruh anggota tim, berikut punggawa PSIS yang saat ini tengah diberi reses tiga hari.
"Senin (4/5) akan kami panggil semua pemain, kebetulan mereka juga akan menerima gaji," kata Adi.
Adi melanjutkan, kacau balaunya pengelolaan kompetisi sepakbola nasional bisa mempengaruhi perkembangan program pembinaan sepakbola usia dini.
"Para orangtua tentu berpikir ulang untuk memasukkan anaknya ke SSB. Percuma latihan bola sejak kecil, sementara jenjang karir jangka panjang mereka belum jelas karena kompetisi carut marut," tegasnya.
Pupusnya harapan mengikuti kompetisi musim ini juga disesalkan kapten tim Fauzan Fajri. Mewakili rekan-rekannya, Fauzan berharap masalah ini tidak menghancurkan masa depan pemain.