Mourinho, Benitez, dan Mahalnya Harga Kepercayaan
RAFAEL Benitez dan Jose Mourinho. Keduanya berstatus pelatih berprestasi yang saat ini berada pada fase mengumpulkan kepercayaan para pemain di timnya
RAFAEL Benitez dan Jose Mourinho. Keduanya berstatus pelatih berprestasi yang saat ini berada pada fase mengumpulkan kepercayaan para pemain di timnya.
Kekalahan telak di laga el clasico yang terjadi di hadapan pendukung Real Madrid (21/11) semakin memperkuat isu lemahnya posisi Rafael Benitez di hadapan pemain.
Cerita ketidakpercayaan Cristiano Ronaldo terhadap kualitas kepemimpinan Benitez sudah menguak ke media massa.
Andai Ronaldo ternyata tidak sendirian bersikap seperti itu terhadap sang pelatih, bisakah Anda membayangkan seperti apa situasi di kamar ganti Real Madrid?
Real Madrid tak akan pernah lepas dari kisah bintang di dalam skuat, siapa pun pelatihnya.
“Real Madrid selalu tentang kualitas individu para pemain bintang. Rafael Benitez harus bisa beradaptasi dengan pemain, bukan sebaliknya.”
Pendapat ini diucapkan oleh Steven Gerrard, mantan anak asuh Benitez selama di Liverpool FC.
Menurut Gerrard, filosofi sepak bola yang dimiliki Benitez tidak cocok dengan situasi di Real Madrid.
Benitez disebut bukan pelatih yang memberikan ruang besar bagi kualitas individu pemain. Semua anggota tim memiliki peran yang sama di hadapannya.
Cocokkah filosofi seperti itu ketika Anda memiliki Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, Isco, atau Sergio Ramos di dalam tim?
Entah berkaitan atau tidak, saya teringat kisah Jupp Heynckes. Pelatih asal Jerman itu berhasil membawa Real Madrid mengalahkan Juventus 1-0 di final Liga Champion pada 20 Mei 1998.
Namun, akibat mengakhiri klasemen La Liga 1997/98 di posisi keempat, berselisih 11 poin dari Barcelona, sang juara, Heynckes kehilangan jabatannya di Madrid pada akhir musim.
Dari sejumlah wartawan lokal saat berkunjung ke markas tim ibu kota Spanyol tersebut dalam beberapa kesempatan, saya mendapat alasan lain pemecatan Heynckes.
Sang pelatih disebut kerap bersitegang dengan pemain bintang Real Madrid, termasuk Predrag Mijatovic dan Davor Suker.
Presiden Madrid ketika itu, Lorenzo Sanz, dianggap lebih mendengarkan suara protes para pemain yang tak bisa menerima sikap tegas Heynckes dalam menerapkan aturan.
Tegas? Aturan? Saya mendapat informasi bahwa Heynckes menentukan jarak minimal tempat tinggal pemain Madrid dengan lokasi latihan. Ia juga menjatuhkan denda sejumlah uang ketika pemain terlambat datang latihan di pagi hari.
***
Selain berhasil mengoleksi gelar juara domestik dan Liga Champion, Rafael Benitez dan Jose Mourinho punya kesamaan lain. Ya, keduanya pernah melatih dua klub yang sama, yakni Real Madrid dan Internazionale.
Di Inter, Mourinho bertugas pada 2008-2010 dan Benitez menjadi pengganti Mourinho yang hijrah ke Real Madrid.
Di Real Madrid, Mourinho bekerja sejak Mei 2010 hingga Juni 2013. Benitez baru bertugas di Santiago Bernabeu awal musim 2015/16.
Dengan hasil-hasil mengecewakan yang diraih Chelsea di awal Premier League 2015/16, tak bisa dicegah ada tiupan angin kekecewaan terhadap Mourinho.
Apalagi, Mourinho diminta kembali ke Chelsea tentu untuk mengulangi kesuksesan yang pernah ia berikan di periode sebelumnya, termasuk tiga gelar juara Premier League.
Apakah Mourinho masih pantas dipertahankan oleh Chelsea?
“Jika Roman Abramovich sebagai pemilik klub menganggap Mourinho merupakan sosok yang tepat menangani Chelsea, artinya para pemain harus percaya bahwa sang pelatih akan memberikan yang terbaik bagi tim.”
Itulah jawaban Didier Drogba, mantan penyerang Chelsea, ketika ditanya situasi seputar Mourinho.
Percaya dan tidak percaya. Katanya, ada dua alasan kenapa seseorang kehilangan kepercayaan terhadap orang lain.
Pertama, kita tidak mengenal mereka. Kedua, kita sangat mengenal siapa mereka dan kapasitasnya.
Bila kapasitas orang tersebut terbukti baik dan kita tidak percaya padanya, tentu ada yang salah dalam proses kerja sama di tim.
Kira-kira Benitez dan Mourinho berada di posisi yang mana?
Weshley Hutagalung
@weshley
Baca tanpa iklan