Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Superskor
LIVE ●

Matinya Seorang Filsuf Sepak Bola 'Posmo'

Tatkala Barcelona berupaya mengulang ekspedisi penaklukkan seperti musim lalu, berita duka justru menyeruak: sang maha guru, Johan Cruyff, wafat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Matinya Seorang Filsuf Sepak Bola 'Posmo'
eugeneabrams.wordpress.com

Alasan yang utama, dia secara politis menentang kebijakan otoritarian junta militer sayap kanan pimpinan Jenderal Jorge Videla yang tengah berkuasa di Argentina, dan menyebabkan banyak rakyat menemui ajal karena melakukan perlawanan.

"Bagaimana bisa kau bermain sepak bola di tempat yang hanya terpaut seribu meter dari pusat penyiksaan?" tegas Cruyff saat itu.

Belakangan, ketika diwawancarai setelah 30 tahun Piala Dunia 1978, Cruyff juga mengakui keluarganya menjadi korban percobaan penculikan sekelompok orang bersenjata sebelum kompetisi tersebut dimulai. 

Sang Dionisius

Dalam buku berjudul "The Birth of Tragedy from the Spirit of Music", filsuf Jerman yang banyak dianggap sebagai pembuka jalan pemikiran postmodern, Friedrich Nietzsche, menuliskan kutipan dialog Yunani klasik antara Raja Midas dan Dionisius: "nasib  terbaik adalah tidak dilahirkan; yang kedua dilahirkan tapi mati muda; dan tersial adalah yang berumur tua."

Dionisius, dalam tradisi tragedi Yunani arkhaik, merupakan simbolisasi dari manusia modern yang penuh kemalangan, tapi memiliki rasio untuk mengubah takdir para dewa. 

Rekomendasi Untuk Anda

Cruyff, tampaknya, bisa dikatakan, sebagai pewaris sah Dionisius. Ia tak mau mati muda sehingga tidak bisa mewariskan apa pun ke dunia sepak bola. 

Dirinya, memilih menjalani hidup penuh kegetiran seperti ketika dirinya dicemooh kalangan anti-total footbal; dibebastugaskan Barcelona; hingga kisah perseteruannya dengan Sandro Rossell, mantan Presiden Barcelona.

Namun, dirinya juga sekuat tenaga membuat beragam terobosan pada sepak bola yang sudah menjadi ajeg, marketable, dan membuang jauh-jauh nilai estetik.

Cruyff, memilih untuk menantang bait-bait kepastian dalam sepak bola modern yang sebenarnya sudah memasuki senjakalanya. Bahkan, ia tetap merokok dan meminum bir meski terindikasi terkena kanker paru-paru.

Pendek kata, ia memilih untuk tak tunduk pada "rezim kepastian", meskipun konsekuensinya adalah mati tua.

Selamat jalan Cruyff.

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
1
Arsenal
37
25
7
5
69
26
43
82
2
Man. City
37
23
9
5
76
33
43
78
3
Manchester United
37
19
11
7
66
50
16
68
4
Aston Villa
37
18
8
11
54
48
6
62
5
Liverpool
37
17
8
12
62
52
10
59
Berita Populer
Atas