Leicester City vs Liverpool: Sang Dalang
”Saya mengalami pengalaman yang sama. Saya pikir musim lalu, saat saya dipecat sebagai seorang juara, itu hal yang negatif,”
Editor:
Husein Sanusi
TRIBUNNEWS.COM - Pemecatan Claudio Ranieri sebagai pelatih Leicester menimbulkan kehebohan di publik sepakbola dunia. Banyak yang menyayangkan dipecatnya pelatih yang sembilan lalu baru saja membawa The Foxes menjadi juara Liga Inggris itu.
Spekulasi mengenai penyebab dipecatnya Ranieri pun berkembang. Ada yang menyebut Ranieri dipecat karena gagal mengangkat Leicester dari papan bawah. Sebagian lain menyebut pria asal Italia itu didepak karena desakan para pemain Leicester kepada manajamen.
Pelatih Man United, Jose Mourinho salah satunya yang menuding para pemain Leicester berada di balik pemecetan itu. Mou menyebut para pemain Leicester telah mengkhianati Ranieri.
Mereka hanya memikirkan diri sendiri, dan membiarkan Ranieri jatuh untuk kesalahan mereka. ”Saya mengalami pengalaman yang sama. Saya pikir musim lalu, saat saya dipecat sebagai seorang juara, itu hal yang negatif,” kata mantan pelatih Chelsea itu.
Mou memang tak menyebut nama pemain yang ditudingnya telah mengkhianati Ranieri itu. Namun rumor yang berkembang menyebut beberapa pemain senior sebagai dalang pemecatan itu, salah satunya Jamie Vardy.
Striker 30 tahun itu disebut-sebut sebagai salah satu pemain yang meminta Ranieri pergi dari King Power Stadium.
Rumor itu tentu saja kemudian dibantah oleh Vardy. ”Saya selalu menghormati Claudio. Spekulasi bahwa saya terlibat dalam pemecatannya tidak benar dan sangat menyakitkan,” tulisnya di akun Instagramnya.
”Leicester salah karena tidak mencapai target yang seharusnya, dan akan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki situasi yang ada,” kata Vardy.
Bak sejalan dengan performa Leicester yang menurun, Vardy juga seolah kehilangan produktivitasnya di depan gawang lawan.
Jika musim lalu ia menjadi bagian penting saat Leicester menjadi juara dengan sumbangan 24 gol di Premier League, musim ini sinarnya meredup. Ia baru mencetak lima gol dari 20 laga di Premier League.
Sepeninggal Ranieri, Leicester ditangani oleh Craig Shakespeare sebagai caretaker. Tugas berat pun menanti Shakespeare pada Selasa (28/2) dinihari. Ia harus biasa membawa Leicester mengalahkan Liverpool di King Power Stadium.
Shakespeare sendiri menegaskan fokus utamanya saat ini adalah membawa Leicester kembali meraih kemenangan, setelah di lima laga terakhir di Liga Inggris selalu menderita kekalahan.
”Kami harus memastikan kembali ke jalur kemenangan. Saya enggan memikirkan hal lain, karena harus fokus mendapat tiga angka,” katanya seperti dikutip dari LCFC.com.
Leicester sendiri terakhir meraih kemenangan di Liga Inggris adalah saat mengalahkan West Ham United 1-0, akhir tahun lalu. Setelah itu mereka ditahan imbang Middlesbrough dan kalah beruntun dari Chelsea, Southampton, Burnley, Man United, dan Swansea City.
Hasil itu membuat mereka kini terpuruk di posisi tiga terbawah alias zona degradasi klasemen sementara Premier League. Dari 25 pertandingan, Leicester baru mengumpulkan 21 poin.
Kemenangan tentu saja menjadi harga mati jika Leicester ingin keluar secepatnya dari zona terkutuk. Persoalannya, bukan hal mudah bagi Leicester mengalahkan Liverpool seperti yang mereka lakukan musim lalu.
Di tempat yang sama pada Februari 2016, Leicester menang 2-0 berkat sepasang gol Jamie Vardy.
”Saya memiliki tugas memulihkan mentalitas pemain. Banyak di antara mereka memiliki semangat yang rendah. Ini sangat berbahaya karena kami ingin selamat dari degradasi. Tim harus segera bangkit untuk menetapkan tujuan pada akhir musim,” kata Shakespeare.
Liverpool sendiri yang akan menjadi tamu mereka kini berada di peringkat ke-5 klasemen dengan 49 poin. Jika Leicester mengincar tiga angka untuk lepas dari zona degradasi, maka The Reds mengincar poin penuh untuk menggeser Tottenham dan Arsenal dari zona Liga Champions.
Di atas kertas Liverpool jelas lebih diunggulkan. Apalagi di pertemuan terakhir mereka berhasil mencukur Jamie Vardy dkk 4-1 di Stadion Anfield, 10 September tahun lalu.
Namun demikian, Phillippe Coutinho tetap mengingatkan rekan-rekannya untuk tidak meremehkan tim berjuluk ”si Rubah” itu. Menurutnya, meski baru saja memecat pelatih, Leicester tidak akan mudah ditaklukkan.
Coutinho mengingatkan bagaimana Liverpool tergelincir ketika dikalahkan Hull City awal Februari. Padahal di atas kertas, saat itu The Reds jauh lebih diunggulkan.
”Kami harus menguasai pertandingan dengan fokus 100 persen dan mencoba melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan di pertandingan melawan Tottenham,” tutur Coutinho.
Hal yang sama dikatakan oleh Georginio Wijnaldum. Meski tim tuan rumah tengah di rundung masalah besar, Wijnaldum menegaskan bahwa timnya tak pantas menganggap remeh The Foxes.
Menurutnya, Jamie Vardy dan kawan-kawan bisa saja memberikan kejutan dan tampil dengan tanpa rasa beban, demi menjauh dari zona degradasi tentunya.
”Tentu saja mereka (Leicester) menjalani musim buruk saat ini, mereka tidak tampil bagus seperti musim lalu. Namun saya pikir mereka masih tim bagus dan masih sulit dikalahkan. Anda bisa lihat ketika mereka mampu mengalahkan Manchester City, mereka bermain sangat bagus dan juga membuktikan bisa menang melawan tim besar,” kata Wijnaldum pada Sky Sports.
”Sekarang ini mereka berada di papan bawah klasemen, tapi semua tahu bahwa mereka bisa tampil lebih baik dari performa saat ini. Satu hal pasti, mereka tim yang sangat bagus dan sulit dikalahkan, itu harus kami pikirkan. Kami tidak bisa memenangi laga ini dengan hanya 90 persen performa, kami harus tampil 100 persen,” tandasnya.