Superball
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Mau PSSI Berprestasi? Tinggalkan Kebohongan

Andi menegaskan kembali, jangan pernah bermimpi prestasi apa pun dari olaharaga jika elite masih mempertontonkan budaya koruptif

Mau PSSI Berprestasi? Tinggalkan Kebohongan
ISTIMEWA

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyambut baik mundurnya Edy Rahmayadi dari jabatan Ketua Umum PSSI. PSI menganggap, tidak mungkin meng harapkan prestasi sepakbola dari manajemen organisasj PSSI dan perilaku yang diduga korup dalam pengaturan skor.

Yang terpenting adalah juga kesejahteraan pemain dan pengelolaan fasilitas sepakbola. Hal ini diungkapkan oleh Andi Saiful Haq, salah seorang juru bicara PSI

"Olahraga lebih khususnya sepakbola adalah persoalan kebudayaan. Tidak ada korelasi antara demokrasi dan politik dengan maju tidaknya sepakbola sebuah bangsa," kata Andi yang juga caleg untuk Dapil Sulses I ini.

"China dan Korea Utara kita kenal memiliki pemerintahan yang terpimpin secara ideologi dan politik mampu membawa prestasi sepakbola mereka di pentas olimpiade maupun World Cup. Begitu juga dengan Palestina dan Iraq yang negaranya dirundung perang puluhan tahun masih bisa menunjukkan prestasi luar biasa," lanjutnya.

Ke depan, harapnya PSSI harus mulai meninggalkan opsi apakah PSSI harus dipimpin secara politik atau militer, sebab persoalannya tidak terletak di sana.

Tidak terletak pada persoalan finansial semata. Dari segi jumlah penonton, jika digabungkan seluruh liga, lanjutnya penonton Indonesia bisa mencapai 12 juta penonton setiap musimnya, menyamai jumlah penonton Bundesliga Jerman dan Premiere League Inggris yang mencapai 13 juta penonton.

"Begitu juga dengan penjualan hak siar dan iklan, pendapatan dari sana bisa mencapai 360 juta US dollar setiap tahun. Jadi tidak ada alasan untuk tidak memiliki prestasi yang baik," kata dia dalam rilisnya yang diterima tribunnews.com, Selasa (22/1/2019).

Utamanya adalah pada kebudayaan olahraga dan sepakbola, katanya lagi, lebih khusus lagi adalah budaya tanding. Budaya tanding tidak mungkin tumbuh di tengah budaya korupsi, budaya fitnah, dan budaya pesimistis yang ditunjukkan para elite politik.

"Atlet kita kehilangan budaya tanding karena tidak menemukan pijakan kuat mengapa mereka harus menang untuk Indonesia?" tegas Andi.

Andi menegaskan kembali, jangan pernah bermimpi prestasi apa pun dari olaharaga jika elite masih mempertontonkan budaya koruptif dan narasi kebohongan.

"Karena sekali lagi persoalan utama sepakbola Indonesia adalah hilangnya budaya tanding akibat korupsi dan narasi kebohongan yang secara vulgar dipertontonkan," tegas Andi.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Rachmat Hidayat
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas