Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Superskor
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Korwil The Jakmania Menteng Dalam Punya Cerita Sedih Loh, Berikut Kisahnya

Menjadi suporter memang punya kisah tersendiri. Korwil The Jakmania Menteng Dalam-suporter Persija pun punya kisah menarik yang tak bisa dilupakan.

Korwil The Jakmania Menteng Dalam Punya Cerita Sedih Loh, Berikut Kisahnya
Dok. wartakota
Para anggota The Jakmania Korwil Menteng Dalam di Stadion Wibawa Mukti Cikarang tahun 2018 lalu. 

Laporan Reporter WARTAKOTALIVE.COM, Rafsanzani Simanjorang

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjadi suporter memang punya kisah tersendiri. Korwil The Jakmania Menteng Dalam-suporter Persija pun punya kisah menarik yang tak bisa dilupakan.

Tahun 2018 lalu, Persija menjadi tim musafir, yang menggunakan Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Bekasi sebagai markas. Kala itu Persija menjamu Sriwijaya FC. Otomatis, suporter Persija dari Jakarta berangkat menuju Cikarang.

Sekira 40 suporter Korwil Menteng Dalam (saat itu masih sub korwil Karet, Kuningan sebelum jadi korwil) pun berangkat menuju stadion Wibawa Mukti pada pukul 11.00 WIB menggunakan bus Metro Mini.

"Itu kenangan yang tak bisa dilupakan ya. Boleh dibilang, saat itu busnya dalam kondisi kurang bagus. Saat berangkat busnya mogok di tol, itu pukul 14.15 WIB, kami pun telantar, padahal Persija main pukul 15.30 WIB," tutur Muhammad Fachri Pramata selaku ketua korwil The Jakmania Menteng Dalam kepada Warta Kota, pekan lalu.

Terhenti di tol, Uje-sapaan akrab Fachri menceritakan mereka tertolong oleh supir angkot yang disewa korwil lainnya, dimana si supir tak lain adalah warga Menteng Dalam.

Setelah supir tersebut menghantarkan penumpangnya, ia pun datang menjemput suporter korwil Menteng Dalam.

"Itu angkotnya jenis Kijang lama ya. Lucu, sedih juga, karena angkot itu membawa kami sekali jalan. Di dalam desak-desakan, di atas, depan, semua full. Per mobilnya pun sudah turun," ucap Uje.

Mereka pun tiba di stadion dimana laga telah berlangsung selama 40 menit.

Meski terlambat, Uje dan rekan-rekannya tetap merasa puas. Kala itu Persija berhasil menang.

Skor 3-2 yang diraih Persija pun menjadi kado bagi korwil The Jakmania Menteng Dalam.

Namun, kisah baru justru muncul seusai pertandingan. Korwil The Jakmania Menteng Dalam harus mencari transportasi untuk pulang ke Jakarta.

Rencana awal adalah mencari bus terdekat di Bekasi untuk disewa.

"Saat itu, rekan saya sempat mencari mobil atau bus untuk disewa di terminal di Bekasi. Jujur, saat itu, dirinya terpaksa membalikkan baju Persijanya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kami kan jaga-jaga juga rival suporter, namun harga ongkos tak mencapai kesepakatan, sehingga bus tidak ada yang diperoleh," tuturnya.

Tak dapat bus di Bekasi, rencana kedua pun dilakukan yakni menyewa bus dari Jakarta lewat bantuan rekan pengurus korwil yang ada di Jakarta.

Bus Kopaja S.66 rute Manggarai-Blok M dari Jakarta pun didatangkan menjemput korwil Menteng Dalam.

"Saat menunggu bus tiba, saya dan beberapa koordinator lapangan minum kopi ke salah satu warung di pinggir jalan menuju stadion. Saat itu, saya melihat beberapa orang sedang memantau kami, tapi saya coba bersikap tenang, sembari memberikan kode ke teman-teman agar tetap tenang," tambahnya.

Sekira pukul 23.00 WIB, bus tiba. Korwil Menteng Dalam pun naik ke bus dan berangkat pulang.

Uje menjelaskan, saat diperjalanan, bus yang mereka tumpangi dibuntuti dan diserang dari belakang, lemparan batu yang mengarah ke badan bus pun tak terelakkan.

"Ada enam motor dari belakang. Mereka melempar batu, tapi hanya mengenai badan bus dan tidak ada kerusakan fatal, kami pun terus melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, mereka hilang," tambahnya.

Hanya saja, anggapan hilang hanya sementara waktu. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul pula sosok yang dikhawatirkan tadi.

Lemparan batu babak kedua pun diterima lagi oleh mereka.

"Mereka hafal medan ya. Kami pun kaget, sebelum masuk tol, mereka muncul dari arah berlawanan, dan melempar batu. Sebuah batu mengenai kaca depan bus dan pecah. Batu itu ternyata menembus dan mengenai satu anggota sehingga terluka. Kami sempat turun dan berusah mengejar, tapi tidak terkejar. Mereka langsung pergi selesai melempar batu itu," papar Uje.

Dengan kondisi kaca depan pecah, bus pun tetap meneruskan perjalanan ke Jakarta.

Sesampai di Jakarta, anggota yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit untuk diobati.

"Itu pengalaman yang tak terlupakan. Semua selesai jam 1 malam ya. Saya juga koordinasi dengan supir bus soal ganti rugi kaca. Tapi saya salut dengan supir bus itu yang menganggap biasa resiko pelemparan bus," tutupnya.

Uje mengatakan kenangan itu pun menjadi kenangan yang paling diingat olehnya beserta rekan-rekannya yang lain.

Meskipun pernah mengalami hal buruk, Uje menjelaskan tetap mengajarkan anggotanya untuk bersabar, tidak terpancing atau melakukan penyerangan suatu saat nanti kepada suporter lainnya.

Ikuti kami di
Editor: Toni Bramantoro
Sumber: Warta Kota
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas