Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Techno
LIVE ●

Usia Kita Pendek Saja, Selingkuh Yuk

Hacker membongkar data 33 juta pengguna website yang memfasilitasi perselingkuhan

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dahlan Dahi
zoom-in Usia Kita Pendek Saja, Selingkuh Yuk
ISTIMEWA
Ashley Madison 

TRIBUNNEWS.COM - Life is short. Have an affair. Usia kita pendek saja. Selingkuh, yuk!

Kira-kira begitulah tagline Ashley Madison, sebuah website yang memfasilitasi dan menganjurkan perselingkuhan.

Ashley Madison --yang berbasis di Toronto, Kanada-- mampu memikat pria dan wanita yang ingin selingkuh.

TRIBUNnews.com memantau pagi ini, jumlah member-nya mencapai 39.470.000 atau hampir 40 juta.

Nah, masalahnya, tidak semua orang senang dengan cara Ashley Madison mengajar orang ke jalan selingkuh.

Sekelompok peretas (hacker) menyerang website Ashley Madison, menguras datanya, dan mengumumkan 33 juta nama pengguna website selingkuh itu.

Rekomendasi Untuk Anda

Hebohlah.

Ada yang menggunakan data itu untuk memeras.

Polisi Kanada, yang mengusut kasus peretas ini, mengumumkan, setidaknya dua orang bunuh diri setelah nama-nama member (anggota) situs perselingkuhan itu dibongkar.

Tentu tidak nyaman jika nama Anda tiba-tiba terdaftar sebagai member website itu.

Target market Ashley Madison adalah pria dan wanita yang sudah berkeluarga.

Jadi, tentu saja, jika nama Anda ada di sana, hmmmm, seperti tersambar petir, deh!

Ayo selingkuh, begitu semboyangnya.

Ashley Madison tidak menjadikan para bujangan sebagai target.

Ashley Madison gerah bukan main dengan ulah hacker.

Berbagai laporan menyebutkan, perusahaan yang mengelola Ashley Madison menawarkan imbalan 378.000 dolar Amerika Serikat atau Rp 5,2 miliar bagi informasi yang dapat membantu menangkap kelompok yang meretas situs tersebut.

Para peretas pekan lalu merilis informasi lengkap jutaan orang yang terdaftar di situs tersebut, sebulan setelah kelompok tersebut menyusup ke sistem komputer perusahaan pemilik Ashley Madison, Avid Life Media Inc.

Situs tersebut dipasarkan untuk membantu orang menikah yang ingin berselingkuh.

Bryce Evans dari Kepolisian Toronto mengatakan peretasan tersebut memiliki "dampak sosial dan ekonomi yang sangat besar."

"Peretasan ini adalah salah satu pembocoran data terbesar yang pernah terjadi di dunia," ujar Evans.

"Ini berdampak pada kita semua. Dampak sosial dari kebocoran ini dirasakan oleh para keluarga, kita bicara mengenai anak-anak di sini, para isteri, dan pasangan mereka."

Para peretas yang mengaku bertanggung jawab atas pembocoran data ini mengatakan website ini menolak untuk memenuhi tuntutan mereka untuk menutup situs ini.

Para peretas menyebut diri mereka dengan nama Impact Team.

Evans mengatakan para peretas merilis daftar nama semua klien Ashley Madison, yang terdiri dari 33 juta pengguna di seluruh dunia.

Ia mengatakan para peretas juga mengirim pesan ke CEO perusahaan Avid Media dan membocorkan semua email CEO tersebut.

Evans mengatakan terdapat sejumlah kasus kriminal pemerasan yang telah dapat dikonfirmasi berbentuk ancaman untuk mengungkap identitas mereka bila tidak menerima pembayaran.

Evans mengatakan tidak dapat memberi informasi lebih lanjut mengenai kasus bunuh diri.

Ia juga mengatakan kejahatan atas dasar kebencian mungkin terkait dengan peretasan ini, tanpa merinci apa yang ia maksud.

Ia menyampaikan pesan langsung kepada para peretas, mengatakan tindakan mereka "ilegal dan tidak akan ditolerir."

Perwakilan dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengatakan mereka dan FBI membantu Kepolisian Toronto dengan penyelidikan terhadap peretasan ini.

Para pegawai pemerintah AS dengan jabatan penting di sektor keamanan nasional maupun penegakan hukum termasuk di antara ratusan pegawai federal yang menggunakan jaringan komputer pemerintah dan membayar iuran keanggotan kepada Ashley Madison, menurut laporan kantor berita AP pekan lalu.

"Ini berdampak ke seluruh dunia," kata Evans.

"Kita mempertimbangkan kemungkinan mendatangkan penyelidik top dari seluruh dunia untuk membantu." (Sumber, antara lain, VOA Indonesia)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas