Tribun Techno
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Potensi Pencurian Data Digital Jadi Ancaman Global

Bahkan, pada awal April ini UpGuard, sebuah perusahaan keamanan siber, menemukan perusahaan media digital berbasis di Meksiko,

Potensi Pencurian Data Digital Jadi Ancaman Global
CSO
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Potensi pencurian data digital saat ini sudah menjadi ancaman global. Oleh karenanya, peningkatan keamanan data menjadi tugas semua pihak yang terlibat termasuk pemilik data, pengelola data, dan komunitas siber sendiri.

Pakar Forensik Kejahatan Teknologi Informasi Ruby Alamsyah menyatakan dunia telah memasuki era kemudahan akses yang memunculkan kerentanan tindak kejahatan digital, termasuk salah satunya pencurian data. Apalagi, sebuah sistem tetap memiliki kerentanan meskipun setiap saat dilakukan update keamanan.

"Kalau kita lihat secara global, setiap sistem komputer dimanapun pasti memiliki celah keamanan tinggal seberapa besar menjaganya," kata Ruby di Jakarta, Rabu (10/4).

Dia mencontohkan, di Amerika Serikat terjadi kebocoran data nasabah pada sebuah supermarket besar setiap tahun. Jejaring sosial Facebook juga diterpa kasus kebocoran data 87 juta pengguna pada tahun 2018.

Bahkan, pada awal April ini UpGuard, sebuah perusahaan keamanan siber, menemukan perusahaan media digital berbasis di Meksiko, Cultura Colectiva meninggalkan lebih dari 540 juta catatan atau arsip pengguna Facebook di basis data publik.

Tak hanya Facebook, celah keamanan pada sistem juga dialami lembaga sekelas Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang terkenal super ketat. Baru-baru ini, Putra Aji Adhari, seorang siswa berusia 15 tahun, menemukan celah keamanan sistem di NASA.

Pendapat serupa disampaikan Pakar Keamanan Siber dari Communication Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha. Menurutnya, pencurian data sebagai ancaman di dunia digital patut diwaspadai.

Pada 2014, misalnya, pencurian data dalam jumlah sangat besar terjadi pada Sony Pictures. Akibatnya, nilai saham Sony Pictures turun karena banyak data yang dibuka ke publik. Di Indonesia, data pengguna marketplace juga dicuri pihak tidak bertanggungjawab.

"Dua kejadian tersebut memberikan kita gambaran bahwa semakin ter-digitalisasi kehidupan kita, pengamanan juga wajib ditingkatkan," kata Pratama.

Pemerintah Estonia, menurut Pratama, mengadakan penelitian terhadap seluruh negara di dunia terkait tingkat keamanan siber dengan menerbitkan National Cyber Security Index (NCSI). Estonia memberikan informasi dan arahan ke negara mana saja yang aman untuk berinvestasi, berdasarkan tingkat keamanan sibernya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas