Tribun Techno
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Keterbukaan Terhadap Teknologi Tingkatkan Daya Saing Global Industri Makanan & Minuman di Indonesia

Masih banyaknya manufaktur mamin Indonesia yang beroperasi secara manual dengan kendali manusia secara penuh

Keterbukaan Terhadap Teknologi Tingkatkan Daya Saing Global Industri Makanan & Minuman di Indonesia
Tribunnews/Herudin
Pedagang disabilitas melayani pembeli di kedai Difabis Coffee & Tea, kawasan Terowongan Kendal, Jakarta Pusat, Selasa (26/1/2021). Kedai yang memperkerjakan para penyandang disabilitas dari Difabel BAZNAS (BAZIS) itu menjual berbagai produk makanan dan minuman hasil olahan dari berbagai UMKM. Tribunnews/Herudin 

Inovasi tersebut akan memajukan industri mamin Indonesia dari operasional secara manual menjadi serba otomatis, lalu menjadi operasional secara otonom, sehingga mendukung manufaktur menjalankan operasionalnya dengan hemat biaya, waktu, aman dan berkelanjutan,” jelas Adhi.

Dengan beragam praktik baru yang muncul akibat COVID-19, kegiatan operasional yang lebih aman menjadi semakin penting dan diperkirakan akan terus berlaku kedepannya.

Baca juga: Marak Jelang Idul Fitri, Ketua DPD RI Imbau Masyarakat Waspada Makanan Mengandung Zat Kimia

Teknologi tidak hanya mengoptimalkan peran manusia, tetapi juga memungkinkan perusahaan untuk mengelola
risiko di bidang operasional.

Travis Lee, Manajer Business Development Asia Tenggara dari Gallagher Security, perusahaan sistem keamanan dari Selandia Baru, menjelaskan, “pandemi telah
mengembangkan bagaimana cara mengukur keselamatan praktik bisnis dengan kebijakan prosedur yang lebih ketat untuk mengelola risiko dari segi keamanan dan kesehatan.

"Mengadopsi teknologi berbasis smart security dapat mendukung pabrik untuk mencegah dan memitigasi potensi resiko dari kontaminasi manusia, dimulai dengan penyaringan di pintu masuk, mengelola pergerakan manusia, mengelola kapasitas ruangan, hingga pelacakan kontak (contact
tracing) – semua dikelola melalui system berbasis aplikasi," kata Travis.

“Sistem keamanan berbasis teknologi mempercepat proses pencegahan dan penanganan ketika resiko terjadi, salah satu contohnya adalah aplikasi proximity
contact tracing yang mempercepat pelacakan kasus COVID-19 di lapangan dibandingkan dengan pelacakan manual yang memakan waktu. 

Salah satu pertimbangan dalam mengadopsi Industri 4.0 adalah tingginya biaya investasi yang juga dibahas dalam live webinar tersebut namun terlepas dari investasi tersebut, pelaku industri Indonesia dan Selandia Baru menyadari bahwa pengembalian investasi itu nyata dan feasible, tidak selalu dari dilihat segi angka tetapi kualitas tentunya.

Asep Noor, General Manager Manufacturing PT Indolakto (Indomilk) selaku pelaksana Industri 4.0 mengakui bahwa transformasi Industri 4.0 adalah suatu kebutuhan karena menjawab tantangan industri mamin dalam hal keselamatan, efisiensi, kecepatan fleksibilitas produksi, serta
jaminan kualitas produk.

"Dari sisi operasional, PT Indolakto mengelola semuanya secara digital dari hulu hingga hilir untuk mengatur dan memantau prosedur kinerja secara real-time yang bisa dilakukan dari mana saja melalui koneksi internet," katanya.

Tantangan lain untuk mengimplementasikan Industri 4.0 adalah ketersediaan sumber daya manusia yang terampil untuk menghadapi evolusi industri ini, serta tantangan teknis lainnya seperti cyber security, infrastruktur internet, pasokan listrik di daerah terpencil, dan pengembangan ekosistem inovasi.

Halaman
123
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas