Transformasi Digital Dorong Kebutuhan 'Backup' dan Pemulihan Data yang Lebih Aman
Ancaman siber yang terus meningkat serta semakin kompleksnya infrastruktur teknologi informasi membuat kebutuhan perlindungan data
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Ancaman siber dan kompleksitas infrastruktur IT membuat perusahaan semakin fokus memperkuat perlindungan data
- Organisasi kini tidak hanya membutuhkan backup, tetapi juga sistem pemulihan data yang cepat dan aman saat terjadi gangguan
- Strategi backup berlapis dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan operasional bisnis.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ancaman siber yang terus meningkat serta semakin kompleksnya infrastruktur teknologi informasi membuat kebutuhan perlindungan data menjadi perhatian banyak perusahaan.
Kondisi tersebut mendorong organisasi memperkuat sistem backup dan pemulihan data guna menjaga keamanan aset digital dan keberlangsungan operasional bisnis.
Executive Vice President of the Synology Data Protection Group, Jia-Yu Liu, mengatakan tren perlindungan data saat ini mulai bergeser dari sistem yang terpisah menuju pendekatan yang lebih terintegrasi.
“Kami melihat adanya tren yang jelas, di mana ActiveProtect mulai menggantikan solusi tradisional yang terpisah-pisah dengan pendekatan perlindungan data yang lebih terintegrasi,” ujar Jia-Yu Liu dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
Menurut dia, perlindungan data kini menjadi kebutuhan penting bagi organisasi di berbagai sektor seiring meningkatnya ketergantungan terhadap sistem digital.
Di Indonesia, kebutuhan terhadap strategi perlindungan data juga dinilai semakin relevan seiring percepatan transformasi digital di berbagai bidang. Selain mendukung operasional harian dan layanan pelanggan, data kini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis.
Di sisi lain, ancaman seperti ransomware, pencurian kredensial, dan gangguan sistem membuat perusahaan perlu meninjau kembali kesiapan sistem back- up dan disaster recovery mereka.
Indonesia Country Manager Synology, Clara Hsu, mengatakan back up saat ini tidak lagi sekadar membuat salinan data, tetapi juga memastikan data dapat dipulihkan dengan cepat dan aman saat terjadi gangguan.
“Bagi banyak organisasi, backup tidak lagi cukup dipandang hanya sebagai proses membuat salinan data. Yang lebih penting saat ini adalah memastikan apakah data tersebut dapat dipulihkan dengan cepat, aman, dan tidak berubah ketika insiden terjadi,” kata Clara.
Ia menambahkan, salah satu pendekatan yang kini banyak digunakan adalah strategi 3-2-1-1-0 backup, yakni memiliki tiga salinan data, menggunakan dua media penyimpanan berbeda, menyimpan satu salinan di lokasi terpisah, memiliki satu salinan offline atau immutable, serta melakukan verifikasi pemulihan secara berkala.
Menurut Clara, pendekatan tersebut penting diterapkan terutama pada sektor yang sangat bergantung pada ketersediaan data, seperti layanan keuangan, pemerintahan, manufaktur, pendidikan, kesehatan, dan layanan publik.
Baca juga: Cloud Makin Jadi Sasaran Serangan Siber, Perlindungan Data Perusahaan Kini Jadi Prioritas
“Perusahaan saat ini membutuhkan sistem perlindungan data yang mampu mendukung pemulihan lebih cepat dan mengurangi potensi gangguan operasional ketika terjadi insiden siber,” katanya.
Ancaman siber di Indonesia sendiri dinilai semakin mengkhawatirkan. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat adanya miliaran anomali trafik pergerakan data yang berpotensi menjadi serangan digital.
Tren kejahatan siber yang mendominasi saat ini meliputi ransomware, phishing, malware, hingga serangan Distributed Denial of Service (DDoS). Sektor keuangan disebut menjadi salah satu target yang paling rentan terhadap serangan tersebut.
Adapun bentuk ancaman yang paling banyak terdeteksi meliputi anomali trafik jaringan yang mengindikasikan adanya celah atau percobaan penyusupan ke sistem pemerintah maupun swasta.
Selain itu, pencurian data dan phishing juga masih marak terjadi dengan menargetkan informasi pribadi masyarakat untuk membobol akun dan rekening keuangan.
Sementara itu, serangan ransomware dan malware kerap melumpuhkan sistem operasional serta mengunci data penting milik korban sebelum pelaku meminta tebusan.