Air Terjun Lemutu di Muaraenim, Cantik dan Masih Sangat Perawan, Tapi Infrastruktur Payah
Air Terjun Lemutu di Tanjung Agung, Kabupaten Muaraenim, Sumsel, sungguh memesona dan masih perawan. Sayang, jalan menuju lokasi sungguh merepotkan!
Editor:
Agung Budi Santoso
Laporan Reporter Sriwijaya Post, Ardani Zuhri
TRIBUNNEWS.COM, MUARAENIM - Jalan terjal, sempit dan berlumpur tak menyurutkan nyali sekolompok warga yang mengendarai motor trail dengan rantai modifikasi mencengkream ban.
Sudah terlanjur penasaran, mereka tak peduli lagi meski sempat beberapa kali terhempas dan terguling.
Tujuan hanya satu, melihat dan membuktikan sendiri cerita tentang kecantikan Air Terjun Lemutu yang terletak di Desa Pagar Dewa, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muaraenim, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).
"Lumayan menguras tenaga," kata Camat Tanjung Agung, Drs Rahmat Noviar MSi yang memimpin rombongan itu pada pertengahan April lalu.
Ia bersama Forum Masyarakat Pencinta Alam Lawang Kidul (Formalaki) dan perangkat desa di wilayah kecamatan Tanjung Agung.
Dari kecamatan, mereka tiba di Desa Pagar Dewa sejak pagi.

Jalanan rusak dan amat merepotkan menuju Air Terjun Lemutu di Muaraenim, Sumsel.
Sempat istirahat dan minum kopi sebentar, rombongan berjumlah sekitar 30 orang itu langsung melanjutkan perjalanan.
Sebagian mengendarai motor trail dan sebagian lagi memilih berjalan kaki.
Nyaris tak ada beda soal waktu tempuh.
Karena medan yang terbilang berat, kelompok pejalan kaki dan yang mengendarai sepeda motor hampir tiba bersamaan di perkampungan Talang Jerun setelah menempuh perjalanan sekitar 7 Km dalam waktu lebih kurang 2 jam.
Tantangan Merepotkan Sepanjang Jalan
Di perkampungan inilah mereka menitipkan motor-motor trail, selanjutnya berjalan kaki menuju lokasi air terjun yang terletak sekitar 500 meter dari perkampungan.
Namun sebelum benar-benar bisa merasakan suasana di sekitar air terjun, rombongan terlebih dahulu harus meniti jembatan bambu sepanjang 15 meter yang dibuat warga setempat.
"Hadeeeh, tak sia-sia jalan kaki 7 Km. Akhirnya sampai juga. Benar-benar indah," ujar salah seorang dari rombongan sesaat setelah menginjakkan kaki di sebuah batu di pinggir air terjun.
Suara gemuruh air terjun dari ketinggian sekitar 20 meter (Cughup Panjang) menyambut kedatangan mereka.

Air Terjun Lemutu,di Muaraenim, Tanjung Agung, Sumsel.
Rasa letih setelah menempuh perjalanan berat langsung sirna.
Mereka benar-benar terpesona dan tak sabar mengguyur badan.
Ditambah pemandangan alam di sekitar yang masih hijau dan masih cukup terjaga.
Sesekali bahkan terlihat beberapa jenis ikan berenang di sekitar air terjun.
Ada ikan tilan, gabus, dan jenis hewan air lainnya.
Sebenarnya, warga setempat mengenal lokasi ini sebagai Sungai Lemutu.
Di sungai ini, terdapat sekitar lima air terjun atau dalam bahasa warga setempat disebut cughup.
Antara lain, Cughup Kukup, Cughup Tengah, Cughup Panjang, Cughup Keluang dan Cughup Pandak.
Sedangkan di Sungai Jelangit ada satu air terjun, disebut Cughup Jelangit yang airnya juga bermuara ke sungai Lemutu.
Namun dari keenam air terjun tersebut, yang paling menarik perhatian adalah air terjun yang disebut Cughup Tengah.
Air terjun ini terlihat kembar dan terbelah dua. Di antara keduanya terdapat semacam undakan bahkan menyerupai lubang besar yang bisa dinaiki.
Menurut warga setempat, air terjun ini boleh dibilang sangat cantik dan masih perawan, karena belum banyak orang yang
mengunjunginya.
Memesona Tapi Tak Ditunjang Fasilitas Memadai
Sayang, di semua lokasi air terjun yang ada di sana nyaris tidak ada fasilitas yang memadai.
Di lokasi wisata hanya ada tempat mengganti pakaian, semacam tempat berukuran 3 x 3 meter berdinding plastik hitam.
Selain itu ada dua dangau (pondok) berukuran sekitar 4 x 4 meter beratapkan terpal plastik berwarna hitam yang sering digunakan sebagai tempat beristirahat atau meletakkan barang bawaan.
Untuk sampai ke curup ini, harus mendaki sisi kiri Cughup Panjang sekitar 100 meter. Kondisi jalannya terjal dengan kemiringan 45-55 derajat.

Jembatan bambu menuju Air Terjun Lemutu di Muaraenim, Tanjung Agung, Sumsel.
Sedangkan air terjun tingkat tiga atau Cughup Kukup yang berada di atas cughup Tengah, bisa ditempuh dengan mendaki tebing yang mempunyai kemiringan 90 derajat berjarak sekitar 200 meter.
Untuk mencapainya pengunjung harus ekstra hati-hati sebab selain licin dan terjal, juga cukup tinggi.
Satu-satunya untuk membantu pendakian adalah dengan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan yang di sepanjang tebing seperti batang bambu dan tanaman rotan liar yang tumbuh cukup banyak berjuntaian di dinding perbukitan.
Di air terjun Cughup Kukup, suasana sedikit berbeda dengan dua air terjun sebelumnya.
Karena air terjunnya berbentuk tiga tingkat mempunyai ketinggian masing-masing sekitar lima meter dengan diapit batu-batu besar dua kali ukuran "gajah" dewasa.
Namun untuk tingkat pertama tidak satu garis dengan tingkat dua dan tiga karena menyamping sehingga tidak terlihat dari depan.
Di Cughup Kakap ini, auranya juga terasa lebih kuat berbeda dari kedua air terjun Tengah dan Panjang.
Pantangan di Lokasi
Dan satu pantangan (pamali) kepada semua pengunjung air terjun Lemutu adalah agar tidak menggunakan bahasa Palembang.
Sebaiknya berbahasa Indonesia atau selain bahasa Palembang. Mengapa?
Konon, menurut kepercayaan warga jika dilanggar biasanya akan turun hujan sehingga akan menambah sulit medan yang akan dilintasi.
Karena tanah akan menjadi becek, licin dan berlumpur.
Secara keseluruhan, untuk menuju ke lokasi air terjun ini memang membutuhkan fisik yang prima.
Sebab meskipun akses jalan sudah ada, namun kondisinya rusak berat sehingga satu-satunya akses jalan menuju ke lokasi hanya berjalan kaki atau menaiki kendaraan roda dua sekitar 1-2 jam dari Desa Pagar Dewa.
Meski demikian, jika ada yang tertarik mengunjungi air terjun ini, masyarakat Tanjung Agung khususnya Pagar Dewa tidak sungkan menjadi penunjuk jalan.
Mereka juga sangat ramah terhadap pengunjung yang mendatangi desa mereka.

Wisatawan melalui perkampungan penduduk sebelum sampai di Air Terjun Lemutu
Di sekitar check point (Pagar Dewa) banyak motor ojek modifikasi yang siap mengantar ke lokasi dengan biaya berkisar Rp 50 ribu-Rp 100 ribu tergantung
negosiasi.
Pengunjung dari luar kota bisa menitipkan kendaraan baik roda empat maupun dua di rumah-rumah penduduk di Desa Pagar Dewa dengan tarif Rp 5 ribu - Rp 10 ribu.
Di desa itu juga sudah terdapat sejumlah warung sederhana yang menjual makanan dan minuman.
Demikian juga di Talang Jerun, ada masyarakat yang menjual makanan dan minuman ringan serta hasil bumi.
Mereka juga menyiapkan tempat istirahat dan tempat salat ala kadarnya.
Di Talang Jerun ini, kendaraan harus berhenti, sebab medan yang dilalui lebih sulit dan hanya mampu ditempuh dengan berjalan kaki.
Sebagai antisipasi, pengunjung sebaiknya menyiapkan bekal masing-masing dari rumah secukupnya, termasuk untuk perlengkapan seperti alas kaki berupa sepatu dan obat-obatan.
Kurang Sentuhan Perhatian Pemerintah
Keberadaan Air Terjun Lemutu, bagi masyarakat Desa Pagar Dewa khususnya dan Kecamatan Tanjung Agung, sebenarnya sudah cukup lama dikenal.
Namun karena kurangnya perhatian pemerintah dan promosi menyebabkan potensi air terjun di wilayah Kecamatan
Tanjung Agung nyaris tenggelam dan luput dari perhatian.
Padahal jika potensi tersebut ditangani secara serius, tidak menutup kemungkinan bisa menjadi icon baru wisata air terjun di Kabupaten Muaraenim selain wisata air terjun Bedegung nyang sudah lebih dulu tenar.
Menurut tokoh masyarakat Talang Jerun, Marpudin (41), air terjun di wilayah Kecamatan Tanjung Agung cukup banyak, hanya tinggal kemauan pemerintah yang kuat apakah akan dimanfaatkan dan dioptimalkan menjadi tempat wisata atau tidak.
Memang tidak dipungkiri, lokasi air terjun tersebut sebagian besar berada di hutan sehingga membutuhkan infrastruktur yang besar mulai dari pembangunan akses jalan, listrik dan prasarana lainnya.
Namun jika tidak dimulai dari sekarang, tentu kapan lagi Kabupaten Muaraenim bisa memanfaatkan potensi alam yang luar biasa untuk meningkatkan kunjungan wisata dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Di aliran Sungai Lemutu saja, kata Marpudin, yang ia ketahui sudah ada enam air terjun, belum ditambah aliran sungai lainnya.
Sebagai contoh di Desa Muara Emil, Kecamatan Tanjung Agung, itu ada air terjun Napal Carik yang sampai saat ini aksesnya belum terbuka dan dikelola dengan baik.
Belum lagi ditambah di beberapa tempat lain yang juga mempunyai air terjun yang belum terekspos di media massa.
Namun untuk potensi yang paling menjanjikan adalah di air terjun Sungai Lemutu.
Selain ada enam air terjun, juga akses menuju ke lokasi tidak terlalu jauh hanya sekitar 7 KM.
Ditambahkan Ketua Forum Masyarakat Pencinta Alam Lawang Kidul (Formalaki) Celvin L Tobing didampingi Ketua Bidang PPGD dan PBK Rinto, bahwa pihaknya sangat mendukung penuh pengembangan air terjun Lemutu untuk dijadikan icon baru Kabupaten Muaraenim.
Sebab potensinya sangat besar dan ia yakin akan bisa menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara jika dikelola dengan baik dan profesional serta didukung akses jalan dan fasilitas lainnya yang representatif.
"Puluhan air terjun sudah kami kunjungi, namun air terjun Lemutu punya keunikan dan keindahan tersendiri. Apalagi di dalam satu area berdekatan ada enam air terjun. Itu sukar dicari dan ditemui," ujar Celvin.
Karena keindahannya, lanjut Celvin, pihaknya sudah beberapa kali menjadi pemandu untuk wisatawan yang akan berkunjung ke air terjun Lemutu.
Bahkan dalam minggu ini, ia akan mengadakan kegiatan perkemahan di lokasi air terjun Lemutu yang tujuannya tidak lain untuk memperkenalkan dan mempromosikan air terjun
Lemutu ke masyarakat luas.
Berangkat Pagi-pagi, Pulang Siang
Sementara itu Camat Tanjung Agung Drs Rahmat Noviar MSi, mengakui kalau di Kecamatan Tanjung Agung, sangat kaya potensi wisata alam air terjun.
Salah satu yang cukup fenomenal yakni air terjun Lemutu. Bahkan sebelumnya ada air terjun Napal Carik di Desa Muiara Emil, namun sayang memang belum dikelola dengan maksimal sehingga pengunjung kesulitan untuk mendatangi
lokasinya.
Ke depan, kata Rahmat Noviar, kepada instansi terkait untuk bisa lebih serius dalam mengelola wisata alam tersebut sehingga bisa menambah dan menjadi alternatif tujuan obyek wisata alam andalan di Kabupaten Muaraenim.
Dengan semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut, tentu akan semakin besar income PAD yang diterima daerah.
Untuk saat ini pengelolaan air terjun yang terletak di Desa Pagar Dewa ini memang masih dilakukan secara swadaya, oleh penduduk desa setempat melalui pemerintah Desa Pagar Dewa.
Dan untuk mendukung hal tersebut, pemerintah harus membuat akses jalan dan mendirikan fasilitas pendukung, baik itu lokasi parkir, kamar mandi umum, hingga tempat beristirahat dan lain-lain.
"Pesan saya, jika ingin mengunjungi air terjun Lemutu, diupayakan pagi hari dan pulang sekitar pukul 14.00-15.00, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan sebab lokasinya masih hutan lebat. Jika bisa rombongan, jangan sendiri-sendiri," tambah Rahmat.
Baca tanpa iklan