Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Wisata Aceh

Menengok Sentra Pembuatan Gerabah di Kota Banda Aceh, Kian Langka Tergerus Perubahan Zaman

Gerabah semakin terkikis bersama zaman. Produk kerajinan yang terbuat dari tanah liat itu kian langka ditemukan.

Menengok Sentra Pembuatan Gerabah di Kota Banda Aceh, Kian Langka Tergerus Perubahan Zaman
Serambi Indonesia/Nurul Hayati
Indutri pembuatan kerajinan gerabah yang kini mulai langka tergerus perkembangan zaman. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Nurul Hayati

TRIBUNNEWS.COM, ACEH – Gerabah semakin terkikis bersama zaman.

Produk kerajinan yang terbuat dari tanah liat itu kian langka ditemukan.

Padahal keberadaannya telah lama bertengger di rumah-rumah dan menjadi sahabat perempuan Indonesia dalam memasak.

Tribun Travel pun menelusuri dan berhasil menemukan salah satu sentra gerabah di Desa Ateuk Jawo Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh, Senin (1/2/2016).

gerabah
Pengrajin gerabah. (Serambi Indonesia/Nurul)

Pada masanya hampir setiap rumah di tempat menjadi ‘dapur’ produksi gerabah.

Namun sejak lima tahun lalu, keberadaannya kian menyusut dan kini hanya menyisakan empat pengrajin saja.

Para pengrajin itu kebanyakan mewarisi bakatnya secara turun temurun.


Nurma (70), warga asli setempat merupakan satu di antara sedikit pengrajin yang masih menggeluti usaha tersebut.


Perkenalannya dengan gerabah berawal sejak sang nenek masih duduk di bangku SD.


“Kalau anak-anak sekarang udah nggak mau belajar membuat gerabah,” ujarnya.

Tangan tua itu tampak cekatan mengolah sebongkah tanah liat.

gerabah
Pembuatan gerabah. (Serambi Indonesia/Nurul)

Jemarinya menari di atas alat pemutar, bergerak seirama hembusan nafas yang mengalun dalam harmoni seni.

Seluruh gerakannya menunjukkan dirinya sudah demikian menyatu dengan pekerjaannya, seperti liatnya tanah yang melekat di jari jari itu.

Dari tangan itu lahir aneka wajan, kendi, hingga guci.

Ia memenuhi permintaan pelanggan dan penggalas yang memesan hingga ratusan gerabah.

Tak terlihat gurat-gurat letih pada wajah yang sudah menua itu.

Tanah liat dan pasir menjadi bahan utama.


Dua bahan baku yang kini sulit didapatkan karena menggunakan tanah liat dan pasir khusus.


Ditambah lagi lahan kosong di kawasan tersebut semakin tergerus dengan keberadaan ‘hutan beton’ yang merambah Banda Aceh.

Sedangkan lamanya proses pembuatan tergantung pada kondisi cuaca.


Gerabah telah melalui serangkaian tahapan sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen.


Untuk membawa pulang sebuah gerabah, anda cukup membayar mulai dari Rp 7 ribu saja.


Jika ingin belajar, maka Nenek Nurma atau warga setempat lainnya yang menggeluti usaha serupa dengan senang hati akan berbagi ilmu.


Melestarikan perkakas bercita rasa Indonesia.

Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas