Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Booming Batu Akik Meredup, Ini Dampaknya pada Gairah Pasar Batu Mulia Gladak di Solo

Pasar Batu Mulia Gladak ini terletak di Jl Pakubuwono No 1, Gladak, sebelah utara Keraton Kasunanan Surakarta.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Booming Batu Akik Meredup, Ini Dampaknya pada Gairah Pasar Batu Mulia Gladak di Solo
TRIBUNSOLO.COM/ EKA FITRIANI
Pasar Batu Mulia Gladak ini terletak di Jl Pakubuwono No 1, Gladak, sebelah utara Keraton Kasunanan Surakarta. (TRIBUNSOLO.COM/ EKA FITRIANI ) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani

TRIBUNSOLO.COM, SOLOPasar Batu Mulia Gladak merupakan salah satu tempat bertransaksi para penjual batu mulia di Kota Solo, Jateng.

Pasar Batu Mulia Gladak ini terletak di Jl Pakubuwono No 1, Gladak, sebelah utara Keraton Kasunanan Surakarta.

Setiap hari ini Pasar Batu Mulia Gladak buka sejak pukul 9.00 WIB-17.00 WIB.

Pantauan TribunSolo.com, Rabu (11/5/2016) ada sekitar 25 orang penjual batu mulia di pasar ini.

Namun, ada pula beberapa penjual yang menggelar lapak mereka di luar pasar.

Biasanya, mereka berjualan di bawah pohon beringin di Alun-alun Utara Keraton Surakarta.

Rekomendasi Untuk Anda

Beberapa batu mulia yang dijual, antara lain, batu akik lokal seperti Fire Opal, Red Baron, Kalsidon Bengkulu, Bacan, Chalcedony, Kalimaya, Garut, Sungai Dare, Solar dan Bio Solar.

A photo posted by Nazula Elva N (@nazulaelva) on


Sebagian besar pedagang  berasal dari Kota Solo, sedangkan  beberapa lainnya  dari Kabupaten  Wonogiri, Jateng, dan Kabupaten Pacitan, Jatim.

Pantauan TribunSolo.com pula, booming batu mulia yang terjadi pada tahun 2015 lalu, kini tak terasa lagi.

Salah satu buktinya, Pasar Batu Mulia Gladak relatif sepi.

Dahulu, saat booming batu mulia, terdapat sekitar 40 kios di pasar ini, namun sekarang hanya ada sekitar 25 orang penjual batu akik.

Anshori, seorang pemasok dagangan di Pasar Batu Mulia Gladak mengatakan bahwa pasar tidak seramai dahulu saat musim batu mulia booming.

“Dulu itu setiap hari selalu ramai, banyak pembeli dari luar kota,” ujarnya.

“Sekarang tidak seramai dulu,” ujar Anshori.

Beberapa lapak di dalam pasar terlihat kosong.

Sedangkan sejumlah penjual batu mulia berjualan di bawah pohon beringin.  

Mereka biasanya menggelar lapak antara dua hari-tiga hari dengan tarif Rp 20.000 per hari. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas