Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Travel Story

Sejarah Kelam di Museum Fatahillah yang Tak Banyak Diketahui Masyarakat Jakarta

Pada zaman Belanda, tempat ini juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan hukuman mati dan pembantaian massal.

Sejarah Kelam di Museum Fatahillah yang Tak Banyak Diketahui Masyarakat Jakarta
KOMPAS / AGUS SUSANTO
Taman Fatahillah di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, dipenuhi warga untuk melepas penat saat akhir pekan, Minggu (11/1/2015). Revitalisasi bangunan serta mengaktifkan kegiatan-kegiatan berbasis seni dan budaya hingga industri kreatif akan lebih menghidupkan kawasan Kota Tua. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Museum tak melulu soal barang bersejarah yang dipamerkan.

Banyak museum yang ternyata memiliki inti sejarah justru di bangunan itu sendiri.

Seperti Museum Sejarah Jakarta, landmark dari kawasan Kota Tua yang lebih dikenal dengan nama Museum Fatahillah.

Pada zaman penjajahan Belanda, Museum Sejarah Jakarta adalah balai kota Batavia yang merupakan pusat aktivitas rakyat pada abad ke 17-19.

Tiap sore rakyat berkumpul mengambil air bersih dari satu-satunya mata air di halaman depan balai kota, ada pula trem yang berjalan dengan rel di depan balai kota.

Selain aktivitas tersebut, balai kota juga memiliki fungsi lain, yakni sebagai tempat pelaksanaan hukuman mati dan pembantaian massal.

Saksi bisu dari pemerintahan yang brutal.

"Tahun 1740, Gubernur Batavia saat itu (Adriaan Valckenier) memerintahkan untuk membantai orang Tionghoa di depan balai kota. Ribuan orang Tionghoa diikat, duduk bersimpuh di depan balai kota, kemudian dari jendela balai kota, gubernur itu memberi kode untuk melakukan eksekusi terhadap orang Tionghoa itu," ujar Adjie, pemandu Jakarta Food Adventure dalam acara  "Explore Kota Tua & The Taste of Dutch & Betawi Culinary", Minggu (5/6/2016). 


KOMPAS.com/Wahyu Adityo Prodjo - Pengunjung Kota Tua Jakarta sedang menaiki sepeda onthel di pelataran Museum Fatahillah, Jakarta, Selasa (23/6/2015). 

Pembantaian yang dikenal dengan nama 'Geger Pacinan' itu, menurut Adjie disebabkan oleh isu ekonomi dan politik yang berkembang di Batavia saat itu.

"Kejadian itu mencoreng pemerintahan Belanda di Hindia Belanda dan si gubernur ketika pulang ke Belanda, diadili dan mati di penjara," tuturnya.
 

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: Kompas.com
  Loading comments...

Berita Terkait :#Travel Story

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas