Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mengamati Bidadari Halmahera, Burung Ikonik Maluku Utara yang Hampir Punah

Burung Bidadari Halmahera yang merupakan salah satu pesona ikonik Maluku Utara. Burung ini satu keluarga dengan Cendrawasih.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Y Gustaman
zoom-in Mengamati Bidadari Halmahera, Burung Ikonik Maluku Utara yang Hampir Punah
Tribun Jabar/Ragil Wisnu Saputra
Salah seorang Tim T7W 2017 tengah menaiki anak tangga untuk mencapai rumah pohon untuk mengamati Burung Bidadari Halmahera yang merupakan fauna ikonik Maluku Utara, Senin (17/7/2017). TRIBUN JABAR/RAGIL WISNU SAPUTRA 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Wisnu Saputra

TRIBUNNEWS.COM, HALMAHERA - Tim Ekspedisi 7-Wonders Wonderful Moluccas melanjutkan petualangannya mengekplorasi keindahan Maluku Utara.

Di hari keempat petualangan, Senin (17/7/2017), tim mencoba mengeksplorasi Taman Aketajawe-Lolobata di Blok Aketajawe di Desa Koli, Daratan Oba, Kota Tidore Kepualauan, Pulau Halmahera, Maluku Utara.

Tim sudah tiba di Resort Tayawi di dalam kawasan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Blok Aketajawe, Minggu (16/7/2017) malam setelah perjalanan jauh mengeksplorasi Goa Boki Moruru di Desa Sagea, Halmahera Tengah.

Di kawasan Resort Tayawi tim bermalam menggunakan beberapa tenda. Senin sekira pukul 04.00 WIT tim bersiap mengekplorasi kawasan hutan Aketajawe.

Tim bermaksud mengamati Burung Bidadari Halmahera yang merupakan salah satu pesona Maluku Utara.

Burung bernama latin Wallace's Standardwing ini adalah ikonik asli Maluku Utara dan pertama kali ditemukan dan pernah diteliti Alfred Russel Wallace, sang pengembara dan petualang dari Inggris sekitar 1858.

Rekomendasi Untuk Anda

"Burung ini juga menarik. Coraknya unik. Yang jantan memiliki bulu unik sehelai warna putih yang ada di sayapnya dan panjangnya lebih dari bulu sayapnya," ujar Ahmad David Kurnia Putra, staf Bidang Promosi Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.

Selain itu, kata David, Burung Bidadari tersebut juga nampak seperti memiliki empat sayap jika dilihat secara sekilas.

"Sekilas ya hampir kaya sayap. Badannya hijau warnanya. Bulu yang ada di lehernya yang kayak sayap ini warnanya biru. Itu yang jantan. Kalau yang betina itu biasa. Kalah cantik dengan yang jantan," kata David.

Burung Bidadari Halmahera ini juga salah satu fatwa yang dilindungi. Keberadaan burung yang menjadi kebanggaan Maluku Utara ini sudah termasuk langka dan terancam punah.

Pemerintah telah menetapkan burung ini dalam keluarga Paradisaeidae dengan genus dan nama spesies Semioptera Wallaci.

Nama genus ini diambil sebagai bentuk penghargaan kepada Alfred Russel Wallace yang pertama kali menemukan burung tersebut dan hidup pada 1823 hingga 1913.

"Burung ini juga masuk dalan satu keluarga dengan Cendrawasih. Tapi burung ini hanya ada di Maluku Utara. Habitatnya ada di Taman Nasional ini," ia menambahkan.

Usai mendengar penjelasan singkat, tim bergerak ke lokasi pengamatan burung tersebut yang lokasinya sekitar tiga kilometer dari kawasan Resort Tayawi atau 1,5 jam.

Tim menyusuri berbagai perkebunan dengan cara berjalan kaki, menyeberang sungai Tayawi sebanyak tiga kali untuk mencapai lokasi tersebut.

Setelah menempuh berbagai trek dan rintangan, hingga bertemu Suku Tobelo Dalam atau Suku Togutil di dalam kawasan hutan tersebut, tim tiba di lokasi pengamatan sekira pukul 06.00 WIT.

"Jangan menggunakan lampu blitz jika ingin memotret. Takutnya burung nanti pindah ke lokasi lainnya. Apalagi ini kan sudah mulai langka," pesan David yang sebelumnya sudah mengimbau tim menggunakan kostum gelap.

David mengatakan, burung tersebut hanya dua kali dalam sehari untuk menampakkan diri. Pertama, burung akan menampakkan diri pada pukul 05.00 WIT hingga pukul 08.00 WIT. Di sore hari burung akan menampakkan pada pukul 17.00 WIT hingga 18.00 WIT.

Di lokasi ini terdapat rumah pohon yang sengaja dibangun untuk keperluan pengamatan. Rumah pohon tersebut berada di ketinggian sekitar 8 meter tepat di Pohon Badenga.

Pohon ini memiliki tangga yang terbuat dari sususnan kayu yang diikat dengan menggunakan tali.

"Burung biasanya bermainnya di Pohon Hiru di ketibggian 15 meter. Jarang sekali ke bawah. Makanya dibuat rumah pohon untuk mengamati tingkah laku dan keunikannya," kata David.

Tak berapa lama, Burung Bidadari Halmahera menampakkan diri di Pohon Hiru. Tim yang memiliki kamera digital dengan lensa telelah bergegas mengabadikan burung tersebut.

Sumber: Tribun Jabar
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas