Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Blog Tribunners

Proletar Dan Kepemimpian Nasional

Apa dan siapa buruh? adalah orang yang menyerahkan tenaganya untuk mendapatkan upah da

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: April_Perlindungan
Editor: Iswidodo
Apa dan siapa buruh? adalah orang yang menyerahkan tenaganya untuk mendapatkan upah dari pemilik modal ( kapitalis ). Mereka tidak memiliki control atas hasil produksi yang mereka kerjakan. Sekaligus, mereka tak memiliki cara lain selain menggantungkan hidupnya kepada pemilik modal, karena mereka tidak memilki alat produksi . ( Karl Marx ).

Proletariat  dikenal pada masa revolusi industry ketika pabrik-pabrik mempekerjakan sejumlah orang. Dalam perkembangannya, bila membaca ulang  Definisi Proletar,” adalah orang-orang yang menjual tenaganya ( bukan menjual produk ), maka definisi  proletar tidak hanya di labelkan kepada buruh industry semata, melainkan berkembang kepada tenaga kerja jasa, pekerja rumah tangga dan pekerja kerah putih ( guru, PNS, jurnalis dll.) khusus untuk jurnalis, Organisasi wartawan, yakni Aliansi Jurnalis Independen ( AJI ) telah menyatakan bergabung dengan serikat buruh dan mengakui bahwa jurnalis adalah salah satu elemen kelas buruh.Selanjutnya, kelas yang miskin secara ekonomi dan menganggur secara aktivitas di sebut Lumpen Proletar

Melihat perkembangannya di Indonesia, yang kental dengan corak agraris, sebutan untuk buruh Tani dan petani miskin adalah Marhaen ( Soekarno ) dan kaum Murba ( Tan Malaka ).  Jadi struktur kelas yang paling dominan di Indonesia adalah buruh tani ( buruh perkebunan, buruh sawah, ladang dll ) dan petani miskin di banding dengan buruh pabrik. Makanya, dalam analisa kelas yang di sampikan kawan-kawan dalam berbagai diskusi struktur kelas di Indonesia, selalu muncul struktur gemuk di tengah ( oval ).

Kepemimpinan Nasional

Terlepas dari berbagai definisi yang ada, perjuangan kaum miskin di Indonesia adalah perjuangan kolektif berbagai elemen bangsa. sebab hingga hari ini , “Nation” Indonesia adalah Koeli dari bangsa-bangsa. Indonesia masih jauh dari cita-cita “berdikari”, meskipun segenap potensi membanjiri di setiap sudut negeri.  Lemahnya kedaulatan Pertiwi akibat dari tunduknya kepemimpinan nasional kepada modal asing. Telah melahirkan berbagai kebijakan yang selalu  abai terhadap kepentingan nasional padahal, kebijakan tertentu sangat berpengaruh kepada nasib jutaan kaum proletar Indonesia. Intinya,selama bertahun-tahun masyarakat Indonesia menjadi kelas buruh akibat kepemimpinan nasional  yang rela telah menjual tenaga rakyat indonesia  demi mendapat upah dari kapitalisme global.


Padahal, sesunguhnya kepemimpinan nasional   memiliki keleluasaan untuk menentukan sejahtera atau tidaknya kaum buruh. Jika kepemimpnan itu tidak sanggup membawa perubahan bangsa ini ke-arah yang lebih sejahtera,  selayaknya, rakyat Indonesia sesegera mungkin untuk mencabut mandat kepada oligarki yang memimpin indoensia hari ini.


Kemudian, tidak ada alasan pula bahwa perjuangan nasib buruh, buruh tani, petani miskin hanya milik serikat buruh dan serikat tani semata. Perjuangan mereka  adalah adalah perjuangan kolektifseluruh elemen bangsa. Dimana, seluruh elemen tersebut sesungguhnaya masih memilki tugas kolektif untuk melaksanakan pembebasan nasional demi tercapainya demokrasi kerakyatan.


 Telah bertahun-tahun Kaum Murba atau pun Marhaen sesungguhnya memiliki kekuatan untuk merebut kepemimpinan nasional. Selain  mayoritas jumlahnya, murba/marhaen pun berada dalam posisi berhadapan langsung dengan penindas. Jadi, tidak ada alasan untuk menunggu lebih lama, penjelasan sistematis tentang revolusi kepada massa rakyat harus di lakukan secara massif. Yakni, tentang adanya organisasi masa yang terpimpin, sekaligus partai yang kuat dengan kepemimpinan kolektif untuk menjalankan tugas-tugas pembebasan nasional . Salam Bersatu ! Bersarekat ! Berlawan !

Rekomendasi Untuk Anda

April Perlindungan
Penulis adalah Anggota Sarekat Hijau Indonesia ( SHI )

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas