Selamat Jalan Bang Iful...Perjuangan Membongkar Bobroknya Tambang Belum Selesai
"Kalau ada berita tentang tambang atau kerusakan lingkungan di kalsel jangan lupa kirim ke emailku," kata M Syaifullah padaku.
Editor:
Anita K Wardhani
Sayangnya saya lupa tepatnya kapan pertemuan saya terakhir itu dengan Bang Iful, bulan Februari lalu kalau tidak salah. Itulah terakhir saya bertemu dengan Bang Iful.
Siang tadi saya dikejutkan sms Mas Ruman rekan jurnalis dari Banjarmasin Post, isinya memberitahukan saya bahwa Bang Iful meninggal dunia di balikpapan dan ditemukan keanehan di jenazahnya.
Innalillahi wainailaihi rojiun kata itu yang terucap dari mulut saya ketika sehabis membaca itu. Rasa tak percaya saya masih saja ada tak menyangka rasanya jika Bang Iful meninggal dunia dengan kondisi seperti itu.
Dan Tentunya menjadi sebuah tanda tanya besar bagi saya, apalagi disaat beliau dan rekan-rekan Jurnalis Kompas Biro Kalimantan lain memang terus gencar-gencarnya memberitakan kerusakan alam dan hutan akibat dari pertambangan batubara yang memang sangat marak di Kaltim dan Kalsel.
Masih ingat rasanya ketika saya membaca harian Kompas (25/1/2010) tentang berita yang ditulis Bang Iful dan rekan-rekan Biro Kompas Kalimantan lain yang menjadi Headline Kompas hari itu.
"Pertambangan Memprihatinkan" itulah judul Headline Kompas (25/1/2010), berita hari itu awal dari rangkaian berita tentang kondisi pertambangan batubara yang ada di Kalimantan, hampir seminggu rasanya berita tentang karut-marutnya pertambangan di Kalimantan dikupas oleh Bang Iful dan rekan-rekan dari berbagai sisi, mulai dari rusaknya hutan sampai dengan bagaimana listrik di Kalsel yang masih byar-pet padahal kaya akan batubara (Kompas, 26/1/2010).
Dan rangkaian berita itu lah yang lantas memberikan "terapi kejut" untuk pemerintah pusat terutama Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk langsung terjun ke lapangan, ke Kaltim dan Kalsel.
Sebuah "Tamparan" keras rupanya bagi Kementerian Kehutanan dan KLH dari berita yang ditulis Bang Iful dan rekan-rekannya. Efeknya kemudian lantas berlanjut dengan adanya inspeksi mendadak (sidak) Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan dan Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta, ke Kalsel dan Kaltim, tepat 2 (dua) minggu setelah headline di harian Kompas itu.
Belum lama saya mengenal almarhum, rasanya belum genap setahun. Namun melihat rekam jejak, tulisan dan beberapa kali pembicaraan dengan almarhum memacu semangat saya untuk lebih giat menulis tentang kondisi kerusakan alam akibat pertambangan di kalsel.
Pernah satu kali almarhum bilang ke saya "Rekan-rekan jurnalis yang masih independen dan prihatin terhadap kondisi lingkungan di Kalsel harus bisa bahu membahu bersama rekan-rekan aktivis lingkungan di kalsel untuk bisa menyuarakan kebeneran fakta dari karut marutnya kondisi pertambangan di Kalimantan Selatan, karena saya yakin suatu saat kalau kita konsisten akan perjuangan kita maka apa yang selama ini kita perjuangkan pasti akan tercapai".
Kata-kata itu lah yang sampai saat ini masih membekas didalam pikiran saya dan terus meyakinkan saya bahwa apa yang selama ini saya yakini untuk memperjuangkan kelestarian lingkungan itu pasti akan tercapai.
Jejak rekam almarhum terutama terkait dengan kekritisan dan kepeduliannya terhadap kondisi lingkungan di Kalimantan dapat menjadi inspirasi dan motivasi yang sangat berharga bagi rekan-rekan jurnalis peduli lingkungan lain dan rekan-rekan aktivis lingkungan untuk terus memperjuangkan kondisi lingkungan hidup yang lebih lestari dan berkeadilan.
Selamat Jalan Bang Iful, Hilang Satu, Tumbuh Berganti Seribu..
Banjarbaru, 26 Juli 2010
Dwitho Frasetiandy
WALHI Kalimantan Selatan
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.